Resusitasi Jantung Paru (RJP) Pada Saat Pandemi COVID19

Resusitasi Jantung Paru menurut American Heart Association adalah suatu tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa, yang dilakukan saat jantung berhenti berdetak. RJP yang dilakukan segera setelah henti jantung dapat meningkatkan kemungkinan bertahan hidup seseorang. Panduan mengenai RJP sudah pernah kita bahas sebelumnya. Namun, di era pandemi ini ada beberapa hal yang harus kita perhatikan sebagai tenaga kesehatan.

Berikut adalah prinsip umum RJP pada pasien yang dicurigai COVID19 maupun pasien terkonfirmasi COVID19:

  • Kurangi Paparan Terhadap COVID19

Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai, membatasi tenaga kesehatan yang melakukan RJP, dan mengkomunikasikan mengenai status COVID19 pasien pada tenaga kesehatan yang akan bergabung untuk melakukan RJP.

  • Prioritaskan Strategi Oksigenasi dan Ventilasi Dengan Risiko Aerosol Lebih Rendah

HEPA (high-efficiency particulate air) Filter bisa digunakan untuk alat alat ventilasi. Selain itu, minimalkan kegagalan intubasi.

  • Pertimbangkan Kondisi Saat Memulai Maupun Saat Melanjutkan RJP

Walaupun tingkat serangan jantung maupun henti jantung pada pasien COVID19 belum diketahui dengan pasti hingga saat ini, tingkat mortalitas pasien COVID19 dengan kondisi kritis sudah cukup tinggi dan tingkat mortalitas tersebut meningkat dengan bertambahnya usia dan komorbiditas pada pasien. Oleh sebab itu, diperlukan pertimbangan terhadap usia dan komorbiditas pasien serta tingkat keberhasilan RJP karena saat RJP membutuhkan banyak pihak dan dapat meningkatkan risiko penularan COVID19.  

Berikut adalah algoritme BLS pada pasien COVID19

Referensi

  1. https://cpr.heart.org/en/resources/what-is-cpr
  2. https://www.ahajournals.org/doi/pdf/10.1161/CIRCULATIONAHA.120.047463

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.