HENTI JANTUNG

Henti jantung adalah terhentinya fungsi pompa jantung secara tibatiba, yang dapat saja reversibel tetapi akan mengakibatkan kematian jika tidak dilakukan penanganan segera.

Mengapa dapat terjadi henti jantung?

Berikut adalah penyebab dari henti jantung yang perlu Anda ketahui, yang terdiri dari 5H dan 5T.

Yang termasuk 5H yaitu:

Hipovolemia

Keadaan klinis yang sering ditemukan adalah luka bakar yang luas, diabetes, kehilangan cairan gastrointestinal, perdarahan, kanker, dan syok akibat trauma.

Hipoksia

Keadaan klinis ini harus dipertimbangkan pada semua pasien dengan henti jantung.

Hipotermia

Keadaan ini ditemukan pada penyalahgunaan alkohol, luka bakar, pasien usia tua, tenggelam, penyakit endokrin, tunawisma, penyakit medulla spinalis, dan penyakit kulit luas pasca trauma.

Hipokalemia/ Hiperkalemia

Hipokalemia dapat ditemukan pada:

Penyalahgunaan alcohol, diabetes, penggunaan diuretik, akibat obat, kehilangan cairan massif melalui gastroinstestinal, hipomagnesemia

Sedangkan hiperkalemia dapat ditemukan pada:

Asidosis metabolik, penggunaan kalium berlebih, akibat obat, latihan berat, hemolisis, penyakit ginjal,rhabdomyolisis, sindrom lisis tumor, kerusakan jaringan massif.

Hidrogen Ion (asidosis)

Asidosis dapat  terjadi pada pasien diabetes, diare, resusitasi lama, penyakit ginjal, syok.

Yang termasuk 5T yaitu:

Tamponade Jantung

Merupakan sindrom klinik dimana terjadi penekanan yang cepat atau lambat terhadap jantung akibat adanyaakumulasi cairan, nanah, darah, bekuan darah, atau gas di ruang perikardium, sebagai akibat adanya efusi,trauma, atau ruptur jantung

Tension Pneumotoraks

Merupakan pneumotoraks yang disertai peningkatan tekanan intra toraks yang semakin lama semakin bertambah atau progresif.

Trombosis Paru

Keadaan ini biasanya terjadi pada pasien yang dirawat di rumah sakit, pasca dilakukannya prosedur bedah,peripartum, terdapatnya faktor risiko terjadinya tromboemboli vena, riwayat tromboemboli vena, emboli paru akut

Trombosis Jantung

Pertimbangkan adanya infark miokard pada semua pasien dengan henti jantung, terutama pasien dengan riwayat penyakit arteri koroner.

Tablet/Toksin: overdosis obat

Hal ini biasa terjadi pada penyalahgunaan alkohol, perubahan status mental, sindrom toksikologi, pajanan industri (okupasional), gangguan psikiatri

Apa yang saya harus lakukan jika melihat orang dengan henti jantung?

Yang pertama anda harus lakukan adalah jangan panik.

Penanganan henti jantung  harus cepat dengan protokol resusitasi kardiopulmonal yang baku meliputi RJP segera dan pemasangan akses intravena/intraoseus.

Cek pulsasi arteri carotis setiap melakukan 2 menit RJP.

Referensi:

  1. Cardiovascular Collapse, Cardiac Arrest and Sudden Cardiac Death. In: Kasper DL, Fauci AS, Longo DL, Braunwald E, Hauser SL, Jameson JL editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 17thedition. Philadelphia: McGraw-Hill Companies; 2008

  2. Spodick DH. Acute Cardiac Tamponade. NEJM; 2003.

  3. American College of Surgeons

    Commite

    on Trauma. Advanced Trauma Life Support for Doctors. 2005; 7th

  4. https://www.youtube.com/watch?v=O_49wMpdews

DISFUNGSI EREKSI

Apa Sebenarnya Yang Dimaksud Dengan Disfungsi Ereksi?

Menurut The National Institutes of Health (NIH) Consensus Development Conference on Impotence disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk memuaskan kinerja seksual

ANDA MENGALAMI HAL-HAL BERIKUT……CURIGAI BAHWA ANDA MENGALAMI DISFUNGSI EREKSI.

  • Ketidakpuasan pasangan dalam berhubungan seksual
  • Kehilangan libido
  • Mood yang selalu berubah-ubah
  • Lemas
  • Insomnia
  • Stress bila melakukan beberapa pekerjaan
  • download
  • Pemeriksaan Apa Yang Harus Dilakukan Untuk Mengetahui Disfungsi Ereksi?Pemeriksaan Laboratorium seperti profil lipid-glukosa , dan testosterone total , tes Nocturnal penile tumescence and rigidity , injeksi intracarvenous, usg duplex pada penis, dan arteriografi
  • Disfungsi Ereksi Apakah Bisa Disembuhkan?Disfungsi Ereksi dapat disembuhkan. Obatan-obatan sebagai terapi lini pertama pada DE adalah sildenafil, tadalafil, dan vardenafil. Selain itu, terapi ini dapat disembuhkan dengan revaskularisasi. Revaskularisasi dapat dilakukan dengan Percutaneous Transluminal Angioplasti (PTA). Biasanya didapatkan penyumbatan di arteri iliaka interna. Oleh sebab itu, dengan dilakukannya PTA maka akan terjadi perbaikan pada alat reproduksi pasien disfungsi ereksi

Daftar Pustaka

  1. American Urological Association. The Management of Erectile Dysfunction: An Update. 2007; p:1-2.
  2. https://emedicine.medscape.com/article/444220-clinical
  3. European Association of Urology. Guidelines on Male Sexual Dysfunction: Erectile Dsyfunction And Premature Ejaculation. 2014; p: 1-54
  4. http://expertherald.com/erectile-dysfunction-market-therapeutic-pipeline-h2-2017-drug-profile-market-scope-regional-outlook-and-major-key-players/
  5. www.moorgateurology.com

ANEURISMA AORTA TORAKALIS (AAT)

Apa itu Aneurisma Aorta Torakalis (AAT)?

Aneurisma aorta adalah pelebaran abnormal dari pembuluh darah aorta dengan diameter 1,5 kali dari pembuluh darah yang normal. DIlihat dari sisi histopatologis , saat terjadi aneurisma aorta maka pembuluh darah akan kehilangan serat elastis dari lapisan medial, sel otot, dan terjadi deposisi proteoglikan. Diseksi aorta torakalis melibatkan gangguan pada lapisan medial dan intramural yang menyebabkan terjadinya perdarahan .

 

Saya Sering Mengalami Nyeri Pada Dada, Apakah Saya Menderita Aneurisma Aorta Torakalis?

Anda belum tentu menderita penyakit ini, karena nyeri pada dada bisa disebabkan penyakit lainnya seperti penyakit jantung iskemik, pleuritis, maupun tegang pada otot dada.

 

Berikut ini adalah tanda dan gejala aneurisma aorta torakalis (AAT):

  • Nyeri di dada atau punggung
  • Sesak nafas
  • Batuk
  • Suara Serak

Aneurisma_Aorta_Torakalis

 

Ayah Saya Didiagnosa Aneurisma Aorta Torakalis (AAT), Apakah Saya Akan Terkena Penyakit Ini ?

Kemungkinan Anda terkena penyakit ini ada karena faktor keturunan merupakan salah satu faktor risiko penyakit AAT, selain itu yang merupakan faktor risiko terjadinya penyakit ini adalah usia tua, merokok, dan hipertensi. Dan apabila Anda mempunyai penyakit seperti SIndrom Marfan atau Sindrom Ehler Danlos Anda juga berisiko menderita penyakit ini.

 

Bagaimana saya mengetahui bahwa saya mengalami penyakit ini?

Bisa dilakukan dengan pemeriksaan CT maupun pemeriksaan MRI, selain itu untuk pemeriksaan dapat juga dilakukan dengan ekokardiografi.

 

Apakah penyakit ini bisa diobati atau harus dilakukan operasi?

Terapi awal untuk penyakit ini adalah pengobatan dengan menggunakan beta blocker untuk mengontrol denyut jantung. Selain itu, dapat digunakan calcium channel blocker. Selanjutnya, perlu dikonsulkan untuk tindakan TEVAR (Thoracic Endovascular Aortic Repair) .

 

TEVAR merupakan tindakan dengan menyisipkan stent sehingga darah dapat mengalir melalui aorta. Saat dilakukan tindakan ini, digunakan anestesi general sehingga pasien akan tertidur.

tevar

Apa Keuntungan TEVAR?

Tindakan ini tidak seperti operasi terbuka sehingga tidak dilakukan insisi yang besar pada bagian dada pasien. Pada TEVAR, dilakukan insisi pada bagian pangkal paha pasien.

 

Daftar Pustaka

  1. Aronow WS. 2015. Thoracic Aortic Aneurism. Journal of Angiology, Volume 3, p: 1-2
  2. http://pubmedcentralcanada.ca/pmcc/articles/PMC4973118/pdf/acs-05-04-407.pdf
  3. American Heart Association. Guidelines for the Diagnosis and Management of Patients With Thoracic Aortic Disease. 2010; p: 14.
  4. https://www.lhch.nhs.uk/media/1087/ctpals211-tevar-booklet-june-13.pdf
  5. www. huntervascular.com

 

ANEURISMA AORTA ABDOMINAL (AAA)

Apa itu Aneurisma Aorta Abdominal (AAA) ?

Aneurisma aorta abdominal  (AAA) adalah dilatasi abnormal dari aorta(pembuluh darah besar pada perut) yang apabila pembuluh darah tersebut pecah dapat mengakibatkan penrdarahan internal yang dapat menyebabkan kematian.

 

Faktor Resiko Aneurisma Aorta Abdominal

  • Aterosklerosis
  • Penyakit Serebrovaskular
  • Penyakit Arteri Koroner
  • Keluarga kandung ada yang mengalami aneurisma aorta abdominal
  • Riwayat penyakit aneurima aorta lainnya
  • Hiperkolesterolemia
  • Hipertensi
  • Laki-laki
  • Obesitas
  • Usia tua
  • Perokok

 

Tanda dan Gejala Aneurisma Aorta Abdominal (AAA)

Kebanyakan pasien aneurisma aorta abdominal tidak bergejala, namun beberapa pasien ada juga yang mengalami gejala. Gejala yang biasa dialami oleh pasien-pasien pada penyakit ini yaitu nyeri perut dengan adanya bnjolan di perut yang berdenyut, , nyeri punggung, dan nyeri pada selangkangan.

 

Bagaimana Cara Mengetahui Bahwa Anda Terkena Penyakit Aneurisma Aorta Abdominal(AAA)?

Anda dapat melakukan pemeriksaan USG  atau CT Angiogram .

 

Manajemen Penyakit Aneurisma Aorta Abdominal (AAA)

Terapi untuk penyakit ini bisa dilakukan dengan Endovascular Aneurysm Repair (EVAR) maupun operasi pembedahan.

 

Apa itu Endovascular Aneurysm Repair (EVAR)?

Endovascular Aneurysm Repair (EVAR) adalah terapi untuk aneurisma aorta abdominal dengan melakukan pemasangan stent graft pada pembuluh darah pasien yang mengalami aneurisma dengan memasukkan stent melalui pangkal paha

 

Komplikasi EVAR

Terdapat beberapa komplikasi dari EVAR yaitu thrombosis di tungkai, perdarahan organ dalam, perpindahan dari stent, pembesaran kantung aneurisma, dan terjadinya ruptur pada aneurisma.

IMG-20180205-WA0002

Daftar Pustaka

Byrce Y, Rogoff P, Romanello D, Reichle R. 2015. Endovascular Repair of Abdominal Aortic Aneurysms: Vascular Anatomy, Device Selection, Procedure, and Procedure-specific Complications,p: 513-623

Jaumen S. 2008. Endovascular Aneurism Repair (EVAR). International Journal of Surgery Volume 6, pp: 266-269.

Kesler B dan Carter C. 2015. Abdominal Aortic Aneurysm. American Academy of Family Physicians Journal, p: 538.

Upchurch R G dan Schaub T. 2006. Abdominal Aortic Aneurysm. American Academy of Family Physicians Journal Volume 73 No 7, pp: 1198-1204.

PERAN ANGIOPLASTI TRANSLUMINAL PERKUTANEUS TERHADAP PERBAIKAN NEUROPATI PERIFER ISKEMIK PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DENGAN PENYAKIT ARTERI PERIFER

Percutaneous Transluminal Angioplasty (PTA) merupakan tindakan invasif minimal yang dilakukan pada pasien dengan penyakit arteri perifer, dan merupakan prosedur standar untuk revaskularisasi aortoiliaka, femoropopliteal, dan arteri di bawah lutut.Saat ini belum ada literatur yang membahas keberhasilan prosedur PTA pada kasus neuropati diabetik, namun teori mengenai faktor vaskular sebagai penyebab neuropati diabetik mendukung kemungkinan terjadi perbaikan keluhan neuropati diabetik pada pasien yang dilakukan angioplasti transluminal perkutan. Penelitian lebih lanjut untuk hal ini sudah disetujui oleh program studi S3 FKUI dan akan dilakukan oleh dr. Dono Antono, SP.PD-KKV, FINASIM, FICA.

 

pta poster

 

AMPUTASI LUKA BOROK PADA KAKI AKIBAT DIABETES? BISA DICEGAH!

DIABETES MELLITUS
Diabetes merupakan permasalahan serius dan penyakit jangka lama yang terjadi ketika kelenjar penghasil insulin (pankreas) tidak memproduksi insulin untuk dengan cukup (hormon untuk meregulasi kadar glukosa tubuh), atau saat saat badan tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Peningkatan kadar glukosa (gula darah) yang merupakan efek umum dari diabetes yang tidak terkontrol dapat menjadi permasalahan yang serius yang berdampak pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan persarafan. Secara global, sebanyak 422 juta orang hidup dengan diabetes yang tercatat pada tahun 2014.

tabel-who-diabetes
Tabel 1 : angka kejadian diabetes menurut WHO pada tahun 2014.

pankreas
Gambar 1 : pankreas dengan organ sekitarnya.

Semua tipe diabetes dapat menyebabkan komplikasi pada banyak bagian anggota tubuh. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah serangan jantung, stroke, gagal ginjal, amputasi tungkai, hilangnya penglihatan dan gangguan saraf. Pada kehamilan, kontrol buruk pada diabetes dapat meningkatkan risiko kematian bayi dan komplikasi lainnya. Pada topik ini kita akan lebih membahas mengenai kaki diabetik sebagai salah satu komplikasi diabetes yang lebih baik dicegah daripada diobati.

KAKI DIABETIK
Sindrom kaki diabetik merupakan komplikasi besar dari diabetes mellitus akibat masalah kompleks antara lain terganggunya aliran darah ke daerah lokal dan terganggunya fungsi saraf tepi pada pasien akibat diabetes mellitus. Faktor risiko terjadinya luka borok pada kaki diabetik adalah : usia pasien, luka borok sebelumnya, dan penurunan fungsi saraf tepi pasien diabetik.

Grading klasifikasi kaki diabetik menurut Wagner :
Grade 0 Tidak ada luka borok pada kaki dengan risiko tinggi
Grade 1 Luka borok pada permukaan yang melibatkan seluruh lapisan kulit tapi tidak sampai jaringan
Grade 2 Luka borok dalam hingga serat otot dan otot utama tapi tidak melibatkan tulang dan tidak terjadi abses
Grade 3 Luka dalam melibatkan tulang dan terbentuknya nanah
Grade 4 Luka bernanah, busuk, dan bau yang terlokalisir
Grade 5 Luka bernanah, busuk, dan bau pada seluruh kaki

prinsip-pencegahan-kaki
Gambar 2 : prinsip pencegahan kaki diabetik

BAGAIMANA MENCEGAH KAKI DIABETIK?
Prinsip utama dari mencegah terjadinya kaki diabetik adalah menjaga gula darah agar tetap terkontrol pada pasien dengan diabetes mellitus selain edukasi pasien, perawatan kaki dan kuku, alas kaki pelindung, dan tindakan pembedahan. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pencegahan kaki diabetik adalah mengurangi tekanan dan stres fisik yang terjadi pada permukaan kaki biasa disebut sebagai menyamaratakan tekanan atau “off loading” yang merupakan solusi terbaik sebagai pencegahan kaki diabetik dengan menyebarkan tekanan ke daerah yang luas. Beberapa metode yang digunakan untuk off loading adalah : tirah baring, kursi roda, penopang kaki, sepatu dengan sol khusus, dan sepatu khusus kaki diabetik (removable cast walker dan total contact cast).

pressure-feet
Gambar 3 : penyebaran tekanan telapak kaki telanjang, total contact cast, dan luka yang terisolasi dengan total contact cast
removable-cast-walker

total-contact-cast
Gambar 4 : removable cast walker dan total contact cast

pencegahan-kaki-diabetik
Gambar 5 : pencegahan kaki diabetik

Referensi
1. WHO. Global Report on Diabetes. World Health Organization. 2016
2. Thole MV, Lobmann R. Neuropathy and Diabetic Foot Syndrome. International Journal of Molecular Sciences. 2016
3. Singh S, Pai DR, Yuhhui C. Diabetic Foot Ulcer – Diagnosis and Management-. Clinical research foot and ankle. 2013
4. Wu S. Pressure Mitigation for the Diabetic Foot Ulcer. Podiatry Management. 2015

Referensi gambar
1. Gambar 1 diunduh dari http://healthcare.utah.edu/transplant/pancreas/ 1 november 2016
2. Gambar 2 diunduh dari http://www.consultant360.com/articles/preventing-diabetic-foot-ulcers-4-pronged-approach 1 november 2016
3. Gambar 4 diunduh dari https://m.podiatry.com/ezines/iframe/1233 1 november 2016
4. Gambar 3 diunduh dari http://care.diabetesjournals.org/content/28/4/929 1 november 2016
5. Gambar 5 diunduh dari http://diabetesreducer.com/spi/?aff_id=1619&subid=thecorner/preventive-foot-care-in-people-with-diabetes/ 1 november 2016

Referensi Tabel
1. Tabel 1 didapat dari WHO. Global Report on Diabetes. World Health Organization. 2016

ANDA MENDERITA NYERI DADA KIRI MENDADAK? APAKAH ANDA TERKENA SINDROMA KORONER AKUT?

Pernahkah Anda mengalami nyeri dada tiba-tiba pada bagian kiri hingga Anda sulit beraktivitas?
Kemungkinan Anda bisa saja terkena sindroma koroner akut.

Apa itu Sindroma Koroner Akut (SKA)?
Sindrom koroner akut (SKA) adalah sebuah kondisi yang melibatkan ketidaknyamanan dada atau gejala lain yang disebabkan oleh kurangnya oksigen ke otot jantung (miokardium).

Penyakit ini hanya diderita oleh orang yang sudah tua. Apakah pernyataan tersebut benar?
Penyataan tersebut tidak benar karena didapatkan data dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa sebelum umur 60 tahun didapatkan 1 dari 5 laki-laki dan 1 dari 17 perempuan menderita SKA. Ini berarti bahwa laki-laki mempunyai risiko 2-3 kali lebih besar dari perempuan. Namun demikian, usia sering dihubungkan sebagai faktor determinan terhadap hasil akhir pada kejadian SKA bahwa peningkatan usia dihubungkan dengan peningkatan yang bermakna terhadap hasil akhir klinis.

Apa yang meningkatkan faktor resiko bagi Anda menderita SKA?
Menurut European Societ of Cardiology, berikut ini adalah beberapa faktor resiko dari penyakit SKA:
1. Umur
2. Jenis Kelamin
3. Dislipidemia
4. Diabetes (kencing manis)
5. Merokok
6. Hipertensi
7. Overweight maupun obesitas
Apabila seseorang mempunyai empat faktor risiko tersebut maka kemungkinan besar akan menderita SKA.

Apa saja tanda dan gejala SKA?
Anda akan mengeluhkan nyeri dada yang tipikal (angina tipikal) atau atipikal (angina ekuivalen). Keluhan angina tipikal berupa rasa tertekan/berat daerah retrosternal, menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, area interskapular, bahu, atau epigastrium. Keluhan ini dapat berlangsung intermiten/beberapa menit atau persisten (>20 menit). Keluhan angina tipikal sering disertai keluhan penyerta seperti diaphoresis, mual/muntah, nyeri abdominal, sesak napas, dan sinkop (pingsan).

Mengapa bisa terjadi SKA?
Hal ini dikarenakan adanya sumbatan pada pembuluh darah koroner. Untuk lebih jelasnya Anda dapat melihat video berikut ini:

Ada Berapa Jenis SKA? Bagaimana Anda membedakannya?
Jenis SKA ada 3 , yaitu STEMI (ST Elevation Myocard Infarct) , NSTE-ACS (Non ST Elevation- Acute Coronary Syndrome), dan UAP(Unstable Angina Pectoris), perbedaannya dapat kita lihat pada tabel berikut ini:
tabel-stemi

Bagaimana pengobatan untuk SKA?
Terapi awal untuk pasien SKA sebelum ada hasil pemeriksaan EKG maupun pemeriksaan enzim jantung adalah dengan Morfin, Oksigen, Nitrat, Aspirin.

Lalu apabila hasil EKG sudah keluar dan terdapat hasil ST Elevasi maka penatalaksanaannya data dilakukan seperti gambar berikut ini
algoritma-stemi

Apabila Anda mempunyai pertanyaan, silahkan menghubungi donoantonodokterperifer@gmail.com

Daftar Pustaka

1. Shiel WC, Stoppler MC. Dalam: Webster’s new worldTM medical dictionary, 3rded. New Jersey: Wiley
Publishing; 2008.
2. https://www.outcomes-umassmed.org/grace/Files/AHJ_01_GraceInvest.pdf
3. Ceponiene I et all. Association of major cardiovascular risk factors with the development of acute coronary
syndrome in Lithuania. European Heart Journal Supplements (2014) 16 (Supplement A), A80–A83.
4. O’gara et all. 2013 ACCF/AHA guideline for the management of ST-elevation myocardial infarction: a report of
the American College of Cardiology Foundation/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines. J
Am Coll Cardiol, 61, e78-140.
5. American Heart Association. 2015. Guidelines 2015 CPR & ECC,p: 61.
6. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. Pedoman Tatalaksana Sindrom Joroner Akut. 2015, p: 1-
88.
7. https://www.youtube.com/watch?v=VIYAAdkOOrk

MANAJEMEN ULKUS KAKI DIABETIK

Penatalaksanaan ulkus diabetik dilakukan secara komprehensif melalui upaya mengatasi penyakit komorbid, menghilangkan/mengurangi tekanan beban (offloading), menjaga luka agar selalu lembab (moist), penanganan infeksi, debridemen, revaskularisasi dan tindakan bedah elektif, profilaktik, kuratif atau emergensi.
Penyakit diabetes melitus dapat melibatkan sistem multi organ yang akan mempengaruhi penyembuhan luka. Hipertensi, hiperglikemia, hiperkolesterolemia, gangguan kardiovaskular (stroke, penyakit jantung koroner), gangguan fungsi ginjal, dan sebagainya maka harus dikendalikan. Perawatan yang dilakukan sedini mungkin akan memungkinkan penyembuhan lebih cepat.

Apa saja yang penting dari penatalaksanaan ulkus diabetik?
1. Mengobati proses penyakit yang mendasarinya
2. Menjaga aliran darah tetap lancar dan stabil
3. Melakukan perawatan luka secara teratur sehingga mencegah timbulnya infeksi
4. Mengurangi beban tekanan (off loading)
Apa yang dimaksud dengan debridemen?
Debridemen dapat didefinisikan sebagai upaya membersihkan benda asing dan jaringan nekrotik pada luka. Tindakan debridemen merupakan salah satu terapi penting pada kasus ulkus diabetik. Luka tidak akan sembuh apabila masih didapatkan jaringan nekrotik, debris, calus, fistula/rongga yang memungkinkan kuman berkembang. Setelah dilakukan debridemen, luka harus diirigasi dengan larutan garam fisiologis atau pembersih lain dan dilakukan dressing (kompres).

Apakah tujuan dari debridemen?
1. Mengevakuasi bakteri kontaminasi
2. Mengangkat jaringan nekrotik (mati) sehingga dapat mempercepat penyembuhan
3. Menghilangkan jaringan kalus
4. Mengurangi risiko infeksi lokal

Apakah yang dimaksud dengan mengurangi beban tekanan (off loading)?
Pada saat seseorang berjalan maka kaki mendapatkan beban yang besar. Pada penderita diabetes melitus yang mengalami neuropati pada permukaan telapak kaki mudah mengalami luka atau luka menjadi sulit sembuh akibat tekanan beban tubuh maupun iritasi kronis sepatu yang digunakan.
Upaya off loading berdasarkan penelitian terbukti dapat mempercepat kesembuhan ulkus. Metode off loading yang sering digunakan adalah: mengurangi kecepatan saat berjalan kaki, istirahat (bed rest), kursi roda, alas kaki, removable cast walker, total contact cast, walker, sepatu boot ambulatory.


Bagaimana pengendalian infeksi dilakukan?

Pengendalian infeksi secara umum diberikan dengan antibiotik yang didasarkan pada hasil kultur kuman. Namun sebelum hasil kultur dan sensitifitas kuman tersedia, antibiotik harus segera diberikan secara empiris pada kaki diabetik yang terinfeksi. Pada ulkus diabetik ringan/sedang antibiotik yang diberikan di fokuskan pada patogen gram positif. Pada ulkus terinfeksi yang berat (limb or life threatening infection) kuman lebih bersifat polimikrobial (mencakup bakteri gram positif berbentuk coccus, gram negatif berbentuk batang, dan bakteri anaerob) antibiotika harus bersifat broadspectrum dan diberikan secara injeksi. Pada infeksi berat pemberian antibitoika diberikan selama 2 minggu atau lebih.
picture1

Penatalaksanaan terdiri dari :
1. Upaya pencegahan
2. Perawatan luka
3. Terapi farmakologis:
a. Tatalaksana primer: Prostanoids, Pentoxifylline, Cilostazol, Naftidrofuryl, Angiogenic Growth Factor, terapi stem cell, Hyperbaric Oxygen
b. Tatalaksana adjuvant: Terapi antiplatelet, antikoagulasi, drug-eluting stents
4. Trombolisis
5. Revaskularisasi
Dapat anda lihat pada link berikut untuk terapi rervaskularisasi:

6. Terapi neovaskularisasi

Apabila anda pertanyaan silahkan menghubungi: donoantonodokterperifer@gmail.com

Referensi :
1. Becker F, Robert-Ebadi H, et al. 2011. Chapter 1: Definitions, epidemiology, clinical presentation and prognosis. Eur J Vasc Endovasc Surg. 42(S2); S4-12.
2. Wounds International. 2013. International Best Practice Guidelines: Wound Management in Diabetic Foot Ulcers. London. Available from: www.woundsinternational.com
3. Dormandy JA, Charbonnel B, et al. 2005. Secondary prevention of macrovascular events in patients with type 2 diabetes in the PROactive Study (PROspective pioglitAzone Clinical Trial In macroVascular Events): a randomised controlled trial. Lancet; 366(9493): 1279-89.
4. Nehler M, Peyton B. 2004. Is revascularization and limb salvage always the treatment for critical limb ischemia? J Cardiovasc Surg (Torino); 45(3):177-84.
5. Varu V, Hogg M, Kibbe M. 2010. Critical limb ischemia; J Vasc Surg. 51:230-41.
6. Norgren L, Hiatt WR, et al on behalf of the TASC II Working Group. 2007. Inter-Society Consensus for the Management of Peripheral Arterial Disease (TASC II). Eur J Vasc Endovasc Surg; 33 Suppl 1:S1-75.

ANDA MENDERITA KAKI DIABETIK , APAKAH HARUS SELALU DIAMPUTASI?

Diabetes merupakan penyakit degeneratif yang banyak diderita masyarakat pada saat ini. Diabetes Melitus terdiri dari dua tipe yaitu tipe pertama DM yang disebabkan keturunan dan tipe kedua disebabkan life style atau gaya hidup. Secara umum, hampir 80 % prevalensi diabetes melitus adalah DM tipe 2. Ini berarti gaya hidup/life style yang tidak sehat menjadi pemicu utama meningkatnya prevalensi DM. Bila dicermati, penduduk dengan obes mempunyai risiko terkena DM lebih besar dari penduduk yang tidak obes . Jumlah penderita diabetes telah meningkat dari 108 juta pada tahun 1980 menjadi 422 juta pada 2014. Prevalensi global diabetes di kalangan orang dewasa di atas usia 18 tahun telah meningkat dari 4,7% pada tahun 1980 menjadi 8,5% pada tahun 2014. Prevalensi diabetes meningkat lebih cepat pada negara berkembang dan negara yang berpenghasilan rendah. Di Indonesia, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Melitus (DM) mencapai 21,3 juta orang.

 

Kaki diabetik adalah infeksi, ulserasi, dan atau destruksi jaringan ikat dalam yang berhubungan dengan neuropati dan penyakit vaskuler perifer pada tungkai bawah, selain itu ada juga yang mendefinisikan sebagai kelainan tungkai kaki bawah akibat diabetes melitus yang tidak terkendali dengan baik yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah, gangguan persyarafan dan infeksi. Artikel mengenai kaki diabetik dapat anda lihat pada http://drdonoantonosppdkkv.com/kaki-diabetik/

 

Apabila anda menderita kaki diabetik tidak perlu untuk diamputasi, mengapa?

 

Karena saat ini sudah dapat ditangani dengan teknik endovaskular, yaitu Percutaneous Transluminal Angioplasty

 

Apakah yang dimaksud dengan Percutaneous Transluminal Angioplasty (PTA)?

PTA berhasil digunakan dalam mengobati stenosis arteri renal, iliaka, femoral, tibioperoneal, subclavia, carotis, dan stenosis arteri lainnya. PTA merupakan suatu modalitas minimal invasive dalam mengobati pasien-pasien dengan klasik PAD dengan klaudikasio intermitten serta critical limb ischemia. Tindakan PTA masih bisa menyebabkan restenosis di lesi-lesi kompleks dan sering membutuhkan reintervensi dan hal ini terutama terjadi pada area karotis, renal, femoropopliteal, dan arteri tibio-peroneal. Beberapa mekanisme yang menimbulkan keadaan ini termasuk elastic recoil, remodeling vascular, dan hyperplasia intima. Namun, rendanya tingkat komplikasi yang berkisar antara 0,5% hingga 4%, tingginya angka keberhasilan teknis yang mendekati 90% bahkan pada oklusi yang panjang sekalipun, menjadikan tindakan ini sebagai standar untuk merevaskularisasi aortoiliaka, femoropopliteal, dan arteri-arteri di bawah lutut, dan di banyak pusat intervensional, PTA masih merupakan pilihan utama dan paling banyak digunakan.

Dan ini adalah foto sebelum dan sesudah salah satu pasien yang dilakukan intervensi PTA

prepta postpta

 

 

Apabila anda ada pertanyaan lebih lanjut mengenai terapi ini silahkan menghubungi donoantonodokterperifer@gmail.com

 

Daftar Pustaka

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Artikel Diabetes. Available at: http://www.depkes.go.id/article/view/414/
  2. World Heart Organization. Diabetes Fact Sheet. Diakses Oktober 2016
  3. Aguilar F (2009a).Diabetic Foot; physiopathology and treatment, In: Diabetic Neuropathy, Practical aspects, treatment, diagnostic and prophylactic measures, Aguilar Rebolledo Francisco, pp 335-336, Alfil editorial, ISBN 978-607-7504-56-6, Mexico.
  4. Kracjer Z, Howell MH. Update on Endovascular Treatment of Peripheral Vascular Disease: New Tools, Techniques and Indications. Tex Heart Inst J. 2000; 27 (4) 369-385.

INTERVENTION AND MANAGEMENT OF MULTIVESSEL DISEASE IN DIABETES

Diabetes has established itself as the pandemic of the 21st century. In 1985, an estimated 30 million people worldwide had diabetes; by 2003, it was estimated that there were approximately 194 million people with diabetes, with this figure expected to rise to almost 350 million by 2025. There are several pathophysiological mechanisms in diabetes that contribute to increased morbidity and mortality rates. The underlying defect of insulin resistance seen in >90% of type 2 diabetic patients is associated with hyperglycemia, dyslipidemia, inflammation, and hypercoagulability. Eighty percent of all deaths among diabetic patients are due to atherosclerosis, compared with approximately 30% among nondiabetic persons. The nature and distribution of atherosclerosis in diabetes also portends a poorer prognosis and response to revascularization. Diabetic patients have a larger burden of disease, a greater proportion of lipid- and macrophage-rich plaques, more fissured plaque, and more intracoronary thrombi. Multivessel disease (MVD), left main involvement, chronic total occlusions, and diffuse disease are seen frequently. Diabetic patients have an impaired ability to develop collaterals in response to atherosclerosis Therefore, physicians perform endovascular revascularization to make a better prognosis for the patient with multivessel disease

 

if you have a question, you can contact donoantonodokterperifer@gmail.com

 

thank you for reading my article

.