MARI MENGENAL REMDESIVIR DAN FAVIPIRAVIR

Akhir-akhir ini kita sering mendengar kedua obat ini ( remdesivir dan favipiravir ). Kedua obat ini disetujui oleh BPOM untuk salah satu opsi terapi untuk covid-19. Mari kita bahas lebih lanjut mengenai kedua obat tersebut

Remdesivir adalah obat antivirus yang
merupakan inhibitor RNA dependent. Remdesivir diidentifikasi lebih awal sebagai kandidat terapeutik yang menjanjikan untuk COVID-19 karena kemampuannya untuk menghambat SARS-CoV-2 in vitro. Diketahui pada studi sebelumnya bahwa remdesivir untuk penyakit MERS jika diberikan 12 jam setelah inokulasi dengan MERS-CoV akan mengurangi level virus pada paru-paru dan menurunkan kerusakan paru-paru. Seperti obat lainnya, remdesivir pun mempunyai efek samping. Efek samping ringan dari remdesivir berupa mual dan peningkatan enzim hati, namun efek samping berat yang dapat diakibatkan oleh obat ini berupa kejang bahkan dapat terjadi gagal ginjal akut.

Favipiravir merupakan obat dengan bioavailabilitas yang baik (sekitar 94%), dan 54% ikatan protein. Obat ini pertama kali digunakan sebagai opsi terapi COVID-19 di Wuhan lalu ke Italia dan Eropa. Favipiravir menginduksi mutagenesis letal in vitro selama infeksi virus influenza, oleh sebab itu obat ini digolongkan sebagai obat antivirus. Di China setelah penggunaan selama 7 hari, pasien COVID-19 moderate mengalami perbaikan kondisi. Namun, sampai saat ini masih diteliti lebih lanjut mengenai efisiensinya terhadap pasien pasien COVID-19. Obat ini dikontraindikasikan pada kehamilan. Hati- hati pada pasien gout dalam menggunakan obat.

Kedua obat di atas harus digunakan sesuai petunjuk dokter.

Referensi

  1. Beigel et al. 2020. Remdesivir for the treatment of covid-19. N Engl J Med 2020; 383:1813-1826
  2. https://www.drugs.com/sfx/remdesivir-side-effects.html
  3. Agrawal et al. 2020. Favipiravir: a new and emerging antiviral option in COVID-19. Medical Journal Armed Forces India 76; 370-376
  4. www.cdc.gov.tw

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.