ANTIKOAGULAN DAN COVID19

COVID19 adalah penyakit infeksius yang disebabkan oleh virus corona. Sebagian besar orang yang terinfeksi virus COVID19 akan mengalami penyakit pernapasan ringan hingga sedang dan sembuh tanpa memerlukan perawatan khusus. Orang yang lebih tua, dan mereka yang memiliki masalah medis mendasar seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis, dan kanker mempunyai prognosis yang lebih buruk.

APA ITU ANTIKOAGULAN?

Antikoagulan adalah obat yang membantu mencegah pembekuan darah. Obat ini diberikan kepada orang-orang yang berisiko tinggi mengalami pembekuan darah, untuk mengurangi peluang terjadinya kondisi serius seperti stroke dan serangan jantung. Antikoagulan bekerja dengan mengganggu proses yang terlibat dalam pembentukan gumpalan darah.

MENGAPA ANTIKOAGULAN DIBUTUHKAN PADA PASIEN COVID19?

Pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit menunjukkan kejadian koagulopati. Koagulopati adalah gangguan sistem koagulasi / pembekuan darah yang dapat bermanifestasi sebagai bekuan  darah (trombus) di vena, arteri ataupun secara menyeluruh (sistemik).  Patogenesis koagulopati pada COVID-19 (“COVID-19-associated  coagulopathy” atau CAC) berbeda dengan koagulopati pada umumnya, yaitu pembentukan trombus terjadi pada pembuluh darah paru (“Pulmonary Intravascular Coagulopathy” atau PIC) yang dapat disertai sedikit perdarahan, hingga “Disseminated Intravascular Coagulopathy” (DIC) yang klasik dan bersifat sistemik. PIC dapat  menyebabkan acute respiratory distress syndrome (ARDS), dan dibuktikan pada laporan pasca kematian (pulmonary post mortem findings) di Italia yang menunjukkan adanya mikrotrombi dalam vaskular paru pada pemeriksaan patologi.

ANTIKOAGULAN APA YANG DIANJURKAN UNTUK PASIEN COVID19 YANG DIRAWAT DI RUMAH SAKIT?

Antikoagulan profilaksis yang disarankan adalah low molecular weight heparin (LMWH) (lebih direkomendasikan) atau unfractionated heparin (UFH) dengan dosis:

  • Low molecular weight heparin (LMWH)
    • Dosis standard LMWH: 40 mg SUBKUTAN (SK), 1 kali sehari
    • Pasien dengan gangguan ginjal atau obesitas: dosis obat disesuaikan dengan fungsi ginjal (konsul dokter ahli terkait)
  • Unfractionated heparin (UFH): dosis standard UFH: 5000 unit SUBKUTAN (SK), 2 kali sehari

Penilaian risiko trombosis dan kontra indikasi antikoagulan dilakukan di bawah supervisi Dokter Spesialis Penyakit Dalam atau SpPD-Konsultan Hematologi-Onkologi Medik atau dokter jantung (SpPD-KKV). 

PERHATIAN: Pemberian antikoagulan profilaksis ini hanya untuk pasien covid19 yang dirawat di rumah sakit dengan supervisi lebih lanjut

Referensi

  1. The European Society for Cardiology. ESC Guidance for the Diagnosis and Management of CV Disease during the COVID-19 Pandemic. https://www.escardio.org/Education/COVID-19-and-Cardiology/ESCCOVID-19-Guidance. (Last update: 28 May 2020)
  2. https://www.nhs.uk/conditions/anticoagulants/
  3. Fei Zhou and colleagues. The clinical course and mortality risk for adults with COVID-19 severe enough to require hospitalization. The Lancet, March 17, 2020
    2.Corrado Lodigiania,b,⁎, Giacomo Iapichinoc, Luca Carenzoc, et al. Venous and arterial thromboembolic complications in COVID-19 patients admitted to an academic hospital in Milan, Italy.  Elsevier. Thrombosis Research 191 (2020) 9–14
  4. J Thromb Thrombolysis 2020 Lancet Rheumatol 2020
  5. Evangelos Terpos, Ioannis Ntanasis- Stathopoulos, Ismail Elalamy, et al. Hematological findings  and complications of COVID‐19. 13 April 2020 | https://doi.org/10.1002/ajh.25829
  6. Rekomendari PB IDI Pemberian Antikoagulan Profilaksis Pada Pasien COVID19 Yang DIrawat Di Rumah Sakit Rujukan di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.