«

»

Okt 23

SINDROM PATAH HATI

Definisi

Sindrom Patah Hati atau biasa disebut dengan Sindrom Takotsubo (TTS) adalah sindrom gagal jantung akut yang sebagian besar mempengaruhi wanita pasca menopause. Sindrom ini disebut juga dengan Takutsubo Kardiomiopati. Sindrom takotsubo pertama kali dilaporkan di Jepang pada tahun 1990. Dalam bahasa Jepang kata “takotsubo” berarti “poci gurita” karena pada penyakit ini ventrikel kiri jantung berubah menjadi bentuk yang serupa dengan pot, dimana ventrikel kiri menjadi lebih bulat pada bagian bawah. Penyakit ini disebut sindrom patah hati karena pada umumnya pencetus terjadinya penyakit ini adalah emosi seseorang.

Apa Gejala yang Anda Rasakan bila terkena penyakit ini?

Gejala yang biasanya dirasakan oleh pasien sindrom ini adalah:

  • Nyeri dada
  • Sulit bernapas
  • Jatuh pingsan

Selain itu, pada beberapa pasien kemungkinan memiliki gejala seperti berikut:

  • Palpitasi
  • Mual
  • Muntah

Jadi, pada sindrom ini pemeriksaan ini tidak spesifik dan terkadang normal, namun demikian pada penderita sindrom ini kebanyakan memiliki manifestasi klinis seperti Sindrom Koroner Akut (SKA) maupun seperti Gagal Jantung Kongestif (CHF). Hipotensi dapat terjadi karena karena adanya penurunan stroke volume dikarenakan disfungsi akut sistolik ventrikel kiri atau obstruksi dari outflow. Murmur dan ronkhi halus akan terdengar saat auskultasi apabila terjadi akut oedem pulmo.

Etiologi

  • Spasme arteri koroner
  • Gangguan fungsi mikrokoroner jantung
  • Gangguan metabolisme asam lemak pada miokard
  • Sindrom Koroner Akut (SKA) dengan cedera reperfusi
  • Keluarnya katekolamin endogen yang memicu mikroinfark pada miokard

Faktor Risiko

  • Kekurangan estrogen
  • Induksi stres emosional atau fisik
  • Faktor Genetik

Tatalaksana

Pada fase akut, terapi yang digunakan adalah terapi simtomatik. Tindakan pemasangan pompa balon intraaortic dapat dilakukan apabila pasien mengalami ketidakstabilan hemodinamik. Pasien dengan obstruksi parah pada ventrikel kiri dapat menggunakan β bloker atau agonis α adrenoreseptor. Pasien dengan hemodinamik stabil dapat diterapi menggunakan dioretik, ACE inhibitor, dan β bloker.

Referensi

  1. Templin C, Napp C L, Jelena RG. Takotsubo Syndrome: Underdiagnosed, Underestimated, but Understood?2016. Journal of the American College of Cardiology. P: 1937-1940.
  2. https://www.bhf.org.uk/informationsupport/conditions/cardiomyopathy/takotsubo-cardiomyopathy
  3. https://emedicine.medscape.com/article/1513631-clinical#b3
  4. Komamura K et al. Takotsubo cardiomyopathy: Pathophysiology, diagnosis and treatment. World J Cardiol 2014 July 26; 6(7): 602-609.
  5. https://www.youtube.com/watch?v=WSEl0LJkcWA

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>