«

»

Apr 03

OBAT BETA BLOCKER UNTUK PENCEGAHAN CARDIOVASCULAR CONTINUUM

Cardiovascular Continuum (CVDC)

Cardiovascular Continuum (CVDC), pertama kali diperkenalkan oleh Dzau et al pada tahun 1991 adalah kelanjutan dari penyakit kardiovaskular yang dimulai dari sekelompok faktor risiko kardiovaskular, yang terdiri dari diabetes mellitus, dislipidemia, hipertensi, merokok, dan obesitas visceral. Studi terbaru menunjukkan bahwa intervensi awal dalam mengelola faktor kardiovaskular lebih penting daripada mengobati penyakit kardiovaskular (CVD) itu sendiri. Komplikasi penyakit kardiovaskular membutuhkan waktu yang bertahun-tahun, oleh sebab itu dapat memberikan banyak waktu untuk intervensi awal dan pengobatan berbagai faktor risiko kardiovaskular.

TAHAPAN

 

Beta Blocker

Beta blocker pertama kali diperkenalkan oleh Sir James Black pada tahun 1962 di United Kingdom. Beta blocker adalah salah satu dari empat obat oral lainnya yang terbukti saat randomized control trial dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit kardiovaskular (CVD). Perkiraan potensi ­life-saving dari obat ini mencapai 33%

Farmakodinamik dan Farmakokinetik

Beta blocker dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan sesuai dengan afinitas relative terhadap reseptor β1 dan β2. Kelompok pertama mencakup nonsubtipe selektif antagonis reseptor β (generasi pertama seperti propranolol, timolol, nadolol, dan pindolol), yang menghasilkan blockade kompetitif dari kedua reseptor adrenergik  β1 dan β2. Kelompok kedua termasuk β1 selektif antagonis reseptor (generasi kedua, seperti metoprolol, atenolol, esmolol, acebutolol dan bisoprolol). Kelompok ketiga mencakup reseptor β nonsubtipe antagonis dengan aksi kardiovaskular yang tidak terkait langsung dengan blockade reseptor β (generasi ketiga seperti carvedilol, nebivolol, dan labetalol).

Kelarutan lipid pada senyawa ini mempengaruhi sifat farmakokinetiknya. β -blocker lipofilik meskipun diserap dengan baik dari saluran pencernaan, mempunyai bioavailibilitas oral yang rendah dan waktu paruh eliminasi yang singkat, karena dimetabolisme melalui usus dan hati melalui sirkulasi portal. β -blocker lipofilik juga bertanggung jawab untuk efek sentral karena dapat dengan mudah melintasi blood-brain barrier.

Sebaliknya, pada β –blocker hidrofilik tidak sepenuhnya diabsorpsi di saluran pencernaan, tetapi sebagian besar diserap pada sirkulasi sistemik. β –blocker ini memiliki waktu paruh eliminasi yang panjang dan diekskresikan sebagai metabolit aktif oleh ginjal.

Kelebihan dan Kekurangan Beta Blocker Dalam Mencegah CVDC

Penggunaan β –blocker dalam pencegahan CVDC sudah cukup jelas.  β –blocker. Obat ini memegang peranan kunci dalam pengobatan hipertensi, penyakit jantung koroner (CHF), dan iskemia miokard. Kekurangannya adalah obat ini tidak bisa digunakan pada pasien-pasien yang mempunyai kontraindikasi absolut seperti asma, atriventricular block, dan intorelans β –blocker.

Daftar Pustaka

  1. Chrysant SG. Stopping the cardiovascular disease continuum: Focus on prevention. World J Cardiol 2010 March 26; 2(3): 43-49.
  2. Mansoor A, Kaul U. Beta-blockers in Cardiovascular Medicine. Supplement of JAPI, 2009; 57; 7-12.
  3. Pavasini r, et al. β-blockers across the cardiovascular continuum: cardioprotection and cardioselectivity. Hot Topics Cardiol;2014; 9 ; 36; 1-20.
  1. Erdmann E. Safety and tolerability of beta-blockers: prejudices and reality. Indian Heart J. 2010; 62:132-135.

2 comments

  1. Allen

    Good day! Would you mind if I share your blog with my facebook group?
    There’s a lot of folks that I think would
    really appreciate your content. Please let me know. Thank you

    1. Donoantono

      thank you , yes i don’t mind if you share it with your friends

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>