Happy Hypoxia

Pada Desember 2019, ditemukan penyakit pneumonia yang belum teridentifikasi diWuhan, China. Saat ini kita kenal sebagai penyakit COVID 19. Pandemi COVID19 telah menjadi krisis secara global. Penderita psoitif COVID19 saat ini menurut WHO (World Health Organization) berjumlah 28.040.853 dengan jumlah kematian 906.092. Di Indonesia, jumlah penderita positif COVID19 yaitu 210.940 dengan total kematian 8544 jiwa. Akhir-akhir ini kita mendengar mengenai happy hypoxia. Apa sih maksudnya? Mari kita bahas lebih lanjut.


Happy hypoxia merupakan keadaan dimana seseorang mempunyai kadar oksigen di dalam tubuh yang rendah tetapi tidak menunjukkan gejala sesak nafas. Normalnya kadar oksigen dalam darah yaitu sekitar lebih dari 95%. Ketika kadar oksigen di dalam darah berkurang hingga di bawah angka tersebut, tubuh akan mengalami kekurangan oksigen. Kondisi ini disebut hipoksemia atau hipoksia.

Beberapa hal yang dapat menyebabkan hipoksia adalah:

  1. Penyakit paru
  2. Gangguan pada jantung
  3. Anemia

Mekanisme sederhana mengapa happy hypoxia bisa muncul adalah sebagai berikut:

  • Terjadi shunt dari kanan ke kiri
  • Tidak ada dead space yang berlebihan pada paru
  • Resistensi paru-paru baik

Penanganan happy hypoxia tentu harus dilaiukan oleh dokter yang. Jadi, apabila Anda merasakan gejala dari COVID19 sebaiknya Anda segera memeriksakan diri ke dokter.

Referensi

  1. Dhont et al. The pathophysiology of ‘happy’ hypoxemia in COVID-19. 2020. Journal of Respirator Research; vol 21: 198.
  2. https://covid19.who.int/ (diakses tanggal 12 September 2020)
  3. https://kawalcovid19.id/ (diakses tanggal 12 September 2020)
  4. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7362604/
  5. Tobin et al. Why COVID-19 Silent Hypoxemia Is Baffling to Physicians. 2020. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine Volume 202 Number 3. s DOI: 10.1164/rccm.202006-2157CP
  6. https://emcrit.org/pulmcrit/happy-hypoxemia-physiology/

GOWES SEPEDA DAN JANTUNG ANDA

Saat ini, olahraga bersepeda sangat digandrungi oleh masyarakat. Kita bisa melihat dimana-mana bahwa banyak sekali yang bersepeda apalagi di akhir minggu. Hal tersebut menunjukkan bahwa sudah banyak masyarakat Indonesia yang peduli terhadap kebugaran tubuh. Selain itu, banyak juga pekerja kantoran yang menggunakan sepeda untuk ke kantor untuk menghindari dan mengurangi penggunaan transportasi umum. Namun demikian, kita sering mendengar bahwa tiba tiba ada pasien terkena serangan jantung. Bagaimana mekanisme kejadian tersebut?Apakah gara-gara menggunakan masker? Yuu mari kita bahas bersama mengenai hal ini.

Saat kita berolahraga tubuh akan memproduksi adrenalin. Apabila kita berolahraga terlalu keras dan memaksakan maka tubuh akan mempunyai banyak adrenalin dan jantung kita akan mempunyai laju yang sangat cepat sehingga terjadi aritmia seperti atrial fibrilasi, bahkan bisa saja kita mengalai ventricular takikardi.

Apa saja gejala yang harus kita waspadai ketika berolahraga?

  1. Nyeri dada
  2. Sesak nafas
  3. Perasaan ingin pingsan atau merasa gelap secara tiba-tiba
  4. Jantung berdebar-debar
  5. Merasa sangat lelah

Jika Anda mengalami hal di atas ketika bersepeda, sebaiknya Anda berhenti terlebih dahulu

Apa yang harus dilakukan agar bersepeda tetap aman untuk jantung Anda?

  1. Cek tensi dahulu kalau sudah masuk kategori hipertensi jangan bersepeda
  2. Kemudian cek denyut nadi , apabila denyut nadi di atas 100 jangan bersepeda karena bisa tiba-tiba pingsan karena nadi terlalu cepat.
  3. Lihat kondisi gula darah
  4. Cek kesehatan mata

Jadi lakukan medical check up secara rutin ya sebelum berolahraga,. Selain itu, jangan lupa pemanasan. Dan ketika berolahraga jangan memaksakan diri ya.

Referensi

  1. https://www.pennmedicine.org/updates/blogs/heart-and-vascular-blog/2016/august/6-dos-and-donts-when-you-have-a-heart-rhythm-problem#:~:text=%E2%80%9CWhen%20you%20exercise%2C%20your%20body,worse%20with%20too%20much%20adrenaline.%E2%80%9D
  2. https://www.youtube.com/watch?v=4xMysN9pD3Q&feature=youtu.be by David Property
  3. https://www.bikeradar.com/advice/fitness-and-training/bend-in-the-road-heart-health-warning-signs/

TOCILIZUMAB DALAM PENGOBATAN COVID19

Penyakit COVID19 yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 pertama kali dideteksi di China, dan telah dideklarasi WHO sebagai pandemic global pada Maret 2020. Sampai saat ini di Indonesia sudah 160.165 yang terkonfirmasi positif COVID19, 37.812 dalam perawatan dan 6944 meninggal. (data tanggal 26 Agustus 2020).

Tocilizumab merupakan protein yang terbuat dari sel-sel imun spesifik (antibodi monoklonal), yang menghambat aktivitas protein tertentu (sitokin) berupa interleukin-6. Protein ini berperan dalam proses peradangan dalam tubuh dan penghambatan protein ini dapat mengurangi peradangan dalam tubuh Anda. Obat ini biasanya digunakan dalam penanganan artritis reumatoid, giant cell artritis, dan cytokine release syndrome. Di Indonesia, obat ini tersedia dalam bentuk larutan infus, vial dan alat suntik siap pakai.

Bagaimana tocilizumab untuk pengobatan covid19?

Dalam studi yang dilakukan oleh Kewan et all, Tocilizumab diberikan pada pasien COVID19 dengan hipoksia, infiltrate paru pada rontgen dada, peningkatan biomarker inflamasi  (CRP > 3g/dl atau ferritin > 400ng/ ml),selain itu juga fokus pada gejala klinis pada pasien, dan ada kontraindikasi yang harus diperhatikan seperti suspek atau terkonfirmasi infeksi fungal, trombosit < 100.000/mm3 , hitung neutrofil < 2000/mm3 , dan ALT dan AST meningkat 5 kali lebih dari normal. Dosis yang telah ditentukan dari penelitian-penelitian sebelumnya untuk tocilizumab adalah 4 sampai 8 mg/ kg dengan dosis maksismum 400mg. Pada penelitian kohort ini digunakan dosis 8mg/kb dan pasien menerima 400 mg obat tocilizumab dalam 60 menit infus intravena. Hasilnya adalah proses penyembuhan yang lebih cepat di rumah sakit. Namun demikian, penelitian ini masih perlu dievaluasi kembali.

Referensi

  1. https://reference.medscape.com/drug/actemra-tocilizumab-999419
  2. http://pionas.pom.go.id/obat-baru/actemra-cairan-infus-20-mgml
  3. https://kawalcovid19.id/
  4. Kewan et al. Tocilizumab for treatment of patients with severe COVID-19: A retrospective cohort study. EClinical Medicine 24 (2020)100418.
  5. https://www.youtube.com/watch?v=LLOIhaVblKU

DAMPAK COVID19 PADA PENYAKIT ARTERI PERIFER

Saat ini terkonfirmasi bahwa kurang lebih ada 17 juta orang di dunia yang terkena virus corona (penyakit covid19). Di Indonesia, saat ini orang terinfeksi covid19 sebanyak 135.123 dengan total pasien meninggal 6021 (data tanggal 14 Agustus 2020). Penyakit Arteri Perifer merupakan semua penyakit yang terjadi pada pembuluh darah setelah keluar dsri jantung dan aorta iliaka. Jadi penyakit arteri perifer meliputi ke empat ekstremitas, arteri karotis, arteri renalis, arteri mesenterika dan semua percabangan setelah ke luar dari aortoiliaka. Penyakit arteri perifer(PAP) dapat mengenai arteri besar, sedang maupun kecil, antara lain tromboangitis obliterans, penyakit Buerger’s, fibromuskular displasia, oklusi arteri akut, penyakit Raynaud, arteritis Takayasu, frostbite dan lain lain.

Selama pandemi COVID19, di seluruh dunia diberlakukan aturan yang sangat ketat dalam tatalaksana intervensi untuk mengatasi PAP. Jumlah pasien yang ditatalaksana dengan tindakan intervensi jumlahnya sangat berkurang dan mereka merupakan pasien-pasien yang mempunyai tingkat keparahan yang tinggi. Di China bahkan terdapat 1 pasien yang meninggal saat dilakukan debridement dan belum sempat dilakukan tindakan intervensi.

Selain karena adanya kondisi yang ketat di rumah sakit, pasien juga menjadi lebih enggan untuk kontrol ke rumah sakit karena takut akan penularan COVID19. Pasien terkadang juga kurang paham dan mengabaikan gejala gejala awal dari PAP. Oleh sebab itu, banyak pasien yang diamputasi kakinya karena datang ke rumah sakit dengan kondisi kaki dengan gangren.

Kita sebagai tenaga medis mempunyai tantangan agar hal ini tidak terjadi. Penyuluhan melalui sosial media dan telemedicine dengan anamnesis yang lengkap dan menyeluruh dapat membantu kita dan mendiagnosa pasien pasien PAP dan menghindari amputasi kaki pasien pasien tersebut.

Referensi

  1.  https://covid19.go.id/
  2. Li et all. Impact of COVID-19 on Peripheral Arterial Disease Treatment. Ann Vasc Surg. 2020 Jun 2 doi: 10.1016/j.avsg.2020.05.045 
  3. Sena G dan Galleli G. An Increased Severity  of Peripheral Arterial Disease in the COVID-19 Era. 2020. Journal of Elsevier.

PERAN DEXAMETASON PADA PASIEN COVID19

Infeksi virus SARS COV-2, penyebab penyakit COVID19, muncul di China pada akhir tahun 2019. Penyakit COVID19 dikaitkan dengan kerusakan paru yang luas. Glukokortikoid diketahui dapat memodulasi kerusakan paru yang dimediasi oleh adanya inflamasi dan dengan demikian mengurangi terjadinya gagal nafas dan kematian. Saat ini, pasien positif virus corona di Indonesia sudah mencapai 106.336 jiwa, dengan 5058 pasien meninggal. Oleh sebab itu, kita sebagai tenaga kesehatan terus mencari pengobatan terbaik untuk para pasien ini.

Kortikosteroid merupakan anti-inflamasi yang bekerja dengan mekanisme menghambat enzim fosfolipase A2 sehingga akan mencegah pelepasan asam arakidonat yang memproduksi enzim cyclooxygenase (COX). Enzim COX inilah yang bertanggung jawab atas pembentukan prostaglandin yang merupakan mediator inflamasi dan nyeri. Deksametason adalah obat golongan kortikosteroid yang mempunyai indikasi supresi inflamasi dan gangguan alergi; Cushing’s disease, hiperplasia adrenal kongenital; edema serebral yang berhubungan dengan kehamilan; dan batuk yang disertai sesak napas.

Dilakukan penelitian di United Kingdom mengenai peran dexametason pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID19. Penelitian ini diikuti oleh 11.303 pasien yang dilakukan randomisasi, dengan 9355 pasien yang dapat menerima pengobatan deksametason. Hasil penelitian ini yaitu pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID19, penggunaan deksametason injeksi menurunkan tingkat mortalitas pada pasien yang menggunakan oksigen dan ventilasi mekanik invasif namun tidak berpengaruh pada pasien yang tidak menerima alat bantuan pernafasan.

Referensi

  1. Lim et al. Dexamethasone in Hospitalized Patients with Covid-19 — Preliminary Report. 2020. The New England Journal of Medicine; p: 1-11.
  2. Erlangga et al. Perbandingan Pemberian Deksametason 10 mg dengan 15 mg Intravena sebagai Adjuvan Analgetik terhadap Skala Nyeri Pascabedah pada Pasien yang Dilakukan Radikal Mastektomi Termodifikasi. JAP. 2015;3(3):146-154.
  3. http://pionas.pom.go.id/monografi/deksametason
  4. https://kawalcovid19.id/

ANTIKOAGULAN DAN COVID19

COVID19 adalah penyakit infeksius yang disebabkan oleh virus corona. Sebagian besar orang yang terinfeksi virus COVID19 akan mengalami penyakit pernapasan ringan hingga sedang dan sembuh tanpa memerlukan perawatan khusus. Orang yang lebih tua, dan mereka yang memiliki masalah medis mendasar seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis, dan kanker mempunyai prognosis yang lebih buruk.

APA ITU ANTIKOAGULAN?

Antikoagulan adalah obat yang membantu mencegah pembekuan darah. Obat ini diberikan kepada orang-orang yang berisiko tinggi mengalami pembekuan darah, untuk mengurangi peluang terjadinya kondisi serius seperti stroke dan serangan jantung. Antikoagulan bekerja dengan mengganggu proses yang terlibat dalam pembentukan gumpalan darah.

MENGAPA ANTIKOAGULAN DIBUTUHKAN PADA PASIEN COVID19?

Pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit menunjukkan kejadian koagulopati. Koagulopati adalah gangguan sistem koagulasi / pembekuan darah yang dapat bermanifestasi sebagai bekuan  darah (trombus) di vena, arteri ataupun secara menyeluruh (sistemik).  Patogenesis koagulopati pada COVID-19 (“COVID-19-associated  coagulopathy” atau CAC) berbeda dengan koagulopati pada umumnya, yaitu pembentukan trombus terjadi pada pembuluh darah paru (“Pulmonary Intravascular Coagulopathy” atau PIC) yang dapat disertai sedikit perdarahan, hingga “Disseminated Intravascular Coagulopathy” (DIC) yang klasik dan bersifat sistemik. PIC dapat  menyebabkan acute respiratory distress syndrome (ARDS), dan dibuktikan pada laporan pasca kematian (pulmonary post mortem findings) di Italia yang menunjukkan adanya mikrotrombi dalam vaskular paru pada pemeriksaan patologi.

ANTIKOAGULAN APA YANG DIANJURKAN UNTUK PASIEN COVID19 YANG DIRAWAT DI RUMAH SAKIT?

Antikoagulan profilaksis yang disarankan adalah low molecular weight heparin (LMWH) (lebih direkomendasikan) atau unfractionated heparin (UFH) dengan dosis:

  • Low molecular weight heparin (LMWH)
    • Dosis standard LMWH: 40 mg SUBKUTAN (SK), 1 kali sehari
    • Pasien dengan gangguan ginjal atau obesitas: dosis obat disesuaikan dengan fungsi ginjal (konsul dokter ahli terkait)
  • Unfractionated heparin (UFH): dosis standard UFH: 5000 unit SUBKUTAN (SK), 2 kali sehari

Penilaian risiko trombosis dan kontra indikasi antikoagulan dilakukan di bawah supervisi Dokter Spesialis Penyakit Dalam atau SpPD-Konsultan Hematologi-Onkologi Medik atau dokter jantung (SpPD-KKV). 

PERHATIAN: Pemberian antikoagulan profilaksis ini hanya untuk pasien covid19 yang dirawat di rumah sakit dengan supervisi lebih lanjut

Referensi

  1. The European Society for Cardiology. ESC Guidance for the Diagnosis and Management of CV Disease during the COVID-19 Pandemic. https://www.escardio.org/Education/COVID-19-and-Cardiology/ESCCOVID-19-Guidance. (Last update: 28 May 2020)
  2. https://www.nhs.uk/conditions/anticoagulants/
  3. Fei Zhou and colleagues. The clinical course and mortality risk for adults with COVID-19 severe enough to require hospitalization. The Lancet, March 17, 2020
    2.Corrado Lodigiania,b,⁎, Giacomo Iapichinoc, Luca Carenzoc, et al. Venous and arterial thromboembolic complications in COVID-19 patients admitted to an academic hospital in Milan, Italy.  Elsevier. Thrombosis Research 191 (2020) 9–14
  4. J Thromb Thrombolysis 2020 Lancet Rheumatol 2020
  5. Evangelos Terpos, Ioannis Ntanasis- Stathopoulos, Ismail Elalamy, et al. Hematological findings  and complications of COVID‐19. 13 April 2020 | https://doi.org/10.1002/ajh.25829
  6. Rekomendari PB IDI Pemberian Antikoagulan Profilaksis Pada Pasien COVID19 Yang DIrawat Di Rumah Sakit Rujukan di Indonesia

HIPERTENSI DAN COVID19

Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah baik sistolik maupun diastolik dimana peningkatan terjadi jika tekanan darah sistolik di atas 120mmHG dan tekanan darah diastolik di atas 80 mmHg. Tekanan darah seseorang termasuk hipertensi stage 1 jika tekanan darah sistolik 130-139 mmHg atau tekanan darah diastolik 80-89 mmHg. Tekanan darah dikategorikan dalam hipertensi stage 2 apabila tekanan darah sistoliknya ≥ 140 mmHg atau tekanan darah diastoliknya ≥ 90 mmHg.
COVID19 adalah penyakit infeksius yang disebabkan oleh virus corona. Sebagian besar orang yang terinfeksi virus COVID19 akan mengalami penyakit pernapasan ringan hingga sedang dan sembuh tanpa memerlukan perawatan khusus. Orang yang lebih tua, dan mereka yang memiliki masalah medis mendasar seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis, dan kanker mempunyai prognosis yang lebih buruk.
Laporan awal dari China mencatat bahwa hipertensi adalah salah satu komorbiditas yang paling umum (20-30% kasus) terkait dengan kebutuhan akan dukungan ventilator karena komplikasi pernapasan yang parah akibat infeksi COVID19. Analisis ini tidak menyesuaikan usia, yang penting karena hipertensi sangat umum pada orang tua ( lebih dari 50% pada orang berusia di atas 60 tahun adalah hipertensi) dan prevalensi hipertensi meningkat tajam pada orang yang sangat tua.
Pengobatan hipertensi yang direkomendasikan untuk kebanyakan pasien adalah kombinasi ACE Inhibitor atau ARB dengan calcium channel blocker (CCB) atau thiazide seperti diuretik. Sampai saat ini,belum ada penelitian pada manusia yang menunjukkan hubungan independen antara penggunaan blocker RAS dan pengembangan komplikasi yang parah pada infeksi COVID19, setelah penyesuaian usia dan komorbiditas lainnya. Namun demikian, anda bila mempunyai penyakit hipertensi hars berkonsultasi dengan dokter anda. Konsultasikan penyakit hipertensi anda menggunakan telemedicine agar kunjungan ke fasilitas kessheatan berkurang sehingga resiko anda terkena COVID19 juga berkurang.
Pada pasien hipertensi yang dirawat di rumah sakit dan mempunyai COVID19 harus dilihat apakah mempunyai hipertrofi ventrikel dan aritmia terutama saat mereka mengalami hipoksia. APabila anda bekerja sebagai dokter umum di rumah sakit dan mendapatkan pasien COVID19 dengan hipertensi jangan lupa langsung konsulkan dengan dokter spesialis penyakit dalam.

Referensi

  1. Whelton et al. 2018. The 2018 European Society of Cardiology/European Society of Hypertension and 2017 American College of Cardiology/American Heart Association Blood Pressure Guidelines. Jama, vol 32 volume 320, number 17, p: 1749-1750
  2. https://www.who.int/health-topics/coronavirus#tab=tab_1
  3. The European Society for Cardiology. ESC Guidance for the Diagnosis and Management of CV Disease during the COVID-19 Pandemic. https://www.escardio.org/Education/COVID-19-and-Cardiology/ESCCOVID-19-Guidance. (Last update: 28 May 2020)

PENYAKIT JANTUNG DAN COVID19


Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) menyebabkan covid19 dan saat ini sudah menjadi pandemik. Saat ini di Indonesia orang yang terinfeksi virus ini sudah mencapai 41431 dan yang meninggal sudah 2276 orang ( data tanggal 17 Juni 2020 ). Virus ini berhubungan dengan bertambahnya komorbiditas pada bidang kardiovaskular. Virus ini juga mempunyai beberapa komplikasi yang berhubungan dengan kardiovaskular.
Covid19 merupakan penyakit pernafasan, tetapi banyak juga pasien yang menderita penyakit kardiovaskular, termasuk hipertensi, injuri akut pada jantung, dan miokarditis. Hal ini merupakan pemberat pada penyakit paru tetapi juga merupakan etiologi sekunder, karena pada dasarnya acute lung injury sendiri sudah memperberat kerja dari jantung.

Hipotesis mekanisme covid19 pada jantung adalah sebagai berikut : SARS-Cov2 menempati transmembrani ACE2 untuk memasuki sel inang yang meliputi pneumosit tipe 2, makrofag, sel endothelial,perisit, dan miosit kardiak sehingga menyebabkan inflamasi dan kegagalan multiorgan. Infeksi pada sel endothelial ataupun perisit merupakan bagian yang penting karena bisa membuat disfungsi mikrovaskular dan makrovaskular. Jadi, reaksi imunitas berlebih pada penyakit covid19 dapat membuat ketidakstabilan pada plak aterosklerosis sehingga memicu terjadinya sindrom koroner akut.

Jadi kita sebagai dokter harus mengamati pasien yang datang dengan teliti ya dan melakukan pemeriksaan jantung dari pasien, karena covid19 merupakan penyakit yang menjadi tantangan baru bagi kita semua

REFERENSI

  1. The European Society for Cardiology. ESC Guidance for the Diagnosis and Management of CV Disease during the COVID-19 Pandemic. https://www.escardio.org/Education/COVID-19-and-Cardiology/ESCCOVID-19-Guidance. (Last update: 28 May 2020)
  2. www.kawalcovid19.id
  3. https://www.youtube.com/watch?v=q0Y_KmD4chA

ANDA MENDERITA DIABETES MELLITUS?MARI MEMILIH MAKANAN YANG TEPAT SAAT LEBARAN

Sebentar lagi Umat Islam akan merayakan Hari Raya Idul Fitri. Tentu saja, akan banyak makanan yang akan dihidangkan. Lalu, bagaimana bila Anda menderita Diabetes Mellitus (DM)?Apakah tidak boleh sama sekali memakan makanan yang mengandung gula? Mari kita bahas mengenai asupan gizi yang diperlukan pada penderita DM.

Kebutuhan kalori untuk wanita sekitar 1000-1200 kkal, untuk pria 1200-1600 kkal, dibagi menjadi makan pagi (20%), siang (30%), dan sore (25%), serta 2-3 porsi makanan ringan (10-15%) diantaranya.

Karbohidrat

  • Karbohidrat 45-65% total asupan energy, diutamakan yang berserat tinggi
  • Pembatasan karbohidrat total 130 gr/hari tidak dianjurkan
  • Gula dalam bumbu diperbolehkan, sukrosa <5% total asupan energi
  • Pemanis alternatif dapat dipergunakan asal tidak melebihi batas aman konsumsi harian
  • Makan 3x/hari. Makanan selingan buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori lain dapat diberikan

Lemak

  • Asupan lemak +20-25% kebutuhan kalori. Tidak diperkenankan melebihi 30% total asupan energi
  • Lemak jenuh <7% kebutuhan kalori
  • Lemak tak jenuh ganda < 10%, selebihnya dari lemak tak jenuh tunggal
  • Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain: daging berlemak dan penuh susu (whole milk)
  • Anjuran konsumsi kolesterol < 200mg/hari

Protein

  • 10-20% total asupan energi
  • Sumber protein yang baik adalah seafood (ikan, udang, cumi, dll) , daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak kacang-kacangan, tahu dan tempe
  • Pada pasien dnegan nefropati: 0,8 g/KgBB/ hari atau 10% kebutuhan energi dan 65% hendaknya bernilai biologik tinggi

Natrium

  • <3000mg atau sama dengan 6-7 gram (1 sendok the) garam dapur
  • Mereka yang hipertensi, pembatasan natrium sampai 2400mg
  • Sumber natrium antara lain adalah garam dapur, vetsin, soda dan bahan pengawet seperti natrium benzoate dan natrium nitrit

Serat

  • Kacang-kacangan, buah, sayuran, serta sumber karbohidrat yang tinggi serat ± 25 g/hari

Pemanis alternatif

  • Fruktosa tidak dianjurkan
  • Pemanis sesuai batas aman konsumsi harian
  • Pemanis tak berkalori yang dapat digunakan: aspartame, sakarin, acesulfam, potassium, sucralose dan neotame

LALU BAGAIMANA DENGAN KALORI HIDANGAN LEBARAN?

Lontong Sayur

Dalam setiap porsinya, jumlah kalorinya adalah 389 kalori. Porsi terbesar adalah karbohidrat sebesar 57 gram, protein 14,5 gram, dan lemak 11 gram.

Opor Ayam

Dalam setiap satu porsi opor ayam, ada 320 kalori. Jumlah ini terdiri dari 11 gram karbohidrat, 15 gram protein, dan porsi terbesar berupa 25 gram lemak.

Rendang Daging

Umumnya, rendang terbuat dari daging sapi. Dalam setiap penyajian, rendang mengandung 468 kalori. Apabila dibedah lebih jauh lagi, kalori ini terdiri dari 26,57 gram lemak, 10,78 gram karbohidrat, dan 47,23 gram protein.

Sambal Goreng Kentang

Dalam sambal goreng kentang per 1 porsi (50gram) terdapat 51 kalori . Jumlah ini terdiri dari 1,51 gram lemak, 5,07 gram karbohidrat, dan 4,36 protein.

Nah setelah tahu hal tersebut, mari kita bijak memilih makanan yang nanti akan kita makan. Jangan sampai kecolongan ya dan membuat lonjakan gula darah dalam tubuh.

dr. Dono Antono, Sp.PD-KKV, FINASIM, FICA dan keluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, mohon maaf lahir dan bathin.

Referensi

  1. Alwi I et al. Penatalaksanaan Di Bidang Ilmu Penyakit Dalam: Panduan Praktik Klinis. 2017. Jakarta: Interna Publishing
  2. https://www.sehatq.com/artikel/berapa-kalori-hidangan-lebaran
  3. https://sajiansedap.grid.id/read/101810550/resep-lontong-sayur-campur-enak-pilihan-tepat-kalau-bingung-mau-masak-apa-besok?page=all
  4. https://www.fatsecret.co.id/kalori-gizi/umum/sambal-goreng-kentang?portionid=27519854&portionamount=1,000

WASPADAI HIPOGLIKEMIA SAAT BERPUASA

Apakah Anda penderita penyakit diabetes mellitus (DM) ? Apakah saat ini Anda sedang berpuasa? Mari kita waspadai hipoglikemia saat puasa. Hipoglikemia adalah keadaan dengan kadar glukosa darah <70mg/dL, atau kadar glukosa darah < 80 mg/dL dengan gejala klinis.

Apa Saja Gejala Yang Akan Anda Alami Jika Anda Mengalami Hipoglikemia?

Terdapat beberapa stadium hipoglikemia mari kita bahas lebih lanjut:

Stadium parasimpatik: lapar, mual, tekanan darah turun

Stadium gangguan otak ringan: lemah, lesu,sulit bicara, kesulitan menghitung sementara

Stadium simpatik: keringat dingin pada muka, bibir atau tangan gemetar

Stadium gangguan otak berat: tidak sadar, dengan atau tanpa kejang

Selain itu ada Trias Whipple Hipoglikemia yaitu:

  1. Gejala yang konsisten dengan hipoglikemia
  2. Kadar glukosa plasma rendah
  3. Gejala mereda setelah kadar glukosa plasma meningkat

Apa Saja Faktor Risiko Terjadinya Hipoglikemia?

  1. Dosis penggunaan insulin yang tinggi
  2. Insufisiensi makanan yang mengandung karbohidrat
  3. Penurunan berat badan yang drastis saat berpuasa
  4. Olahraga yang terlalu berat sehingga meningkatkan tingkat penggunaan karbohidrat dalam tubuh
  5. Menderita penyakit gastroparesis DM

Bagaimana Penatalaksanaan Jika Anda Mengalami Hipoglikemia?

Berikut hal-hal yang dapat Anda lakukan ketika Anda mengalami hipoglikemia:

  • Berikan gula murni 30 gram ( 2 sendok makan ) atau sirop / permen gula murni ( bukan pemanis penggnti gula atau gula diet/gula diabetes ) dan makanan yang mengandung karbohidrat.
  • Hentikan obat hipoglikkemik sementara
  • Pantau glukosa darah sewaktu
  • Pertahankan gula darah di atas 100 mg/dL (bila sebelumnya tidak sadar)
  • Cari penyebabnya

Apa Saja Komplikasi Yang Dapat Dialami?

Komplikasinya dapat terjadi berbagai hal yaitu kerusakan otak, koma, dan kematian

Oleh sebab itu, konsultasi diperlukan kepada dokter anda untuk mengetahui penggunaan obat dm anda, dan tingkat resiko anda terkena hipoglikemia ketika anda berpuasa

Referensi

  1. Alwi I, dkk. 2017. Panduan Praktik Klinis Ilmu Penyakit Dalam. Hipoglikemia. Jakarta: Interna Publishing, p: 73-75.
  2. Kalra S, Mukherjee JJ, Venkataraman S, et al. Hypoglycemia: The neglected complication. Indian J Endocrinol Metab. 2013;17(5):819‐834. doi:10.4103/2230-8210.117219