BERBAGAI TES UNTUK COVID19

COVID-19 merupakan pandemi yang berasal dari Wuhan, China yang dimulai pada tahun 2019. Di Indonesia didapatkan kasus pertama pada 3 Maret 2020 yang menimpa dua warga di daerah Depok. Saat ini, pandemi belum juga usai. Di Indonesia, saat ini pasien terkonfirmasi COVID-19 berjumlah 907929 orang dan yang meninggal sejumlah 25987 jiwa.

Saat ini kita sering mendengar berbagai tes untuk COVID-19. Ada rapid tes, swab antigen, dan tes pcr. Apakah sama?Kalau berbeda apa bedanya?Manakah yang digunakan untuk diagnosis COVID-19? Mari kita bahas bersama

RAPID TES SEROLOGI/ RAPID TES ANTIBODI

Pemeriksaan serologi berguna untuk melihat respon imun terhadap virus. Pemeriksaan ini paling murah diantara pemeriksaan yang lain. Namun, hasil rapid test antibodi reaktif (kualitatif) tidak dapat digunakan untuk penentuan terapi dan monitoring karena dapat bertahan berbulan-bulan

SWAB ANTIGEN (Ag-RDT)

Baru-baru ini sering kita mendengar mengenai swab antigen. Ag-RDT SARS-CoV-2 yang memenuhi persyaratan kinerja minimum sensitivitas ≥80% dan spesifisitas ≥97% dibandingkan asai referensi NAAT1 dapat digunakan untuk mendiagnosis infeksi SARS-CoV-2 di situasi-situasi di mana NAAT tidak tersedia atau waktu ketersediaan hasil tidak memberikan manfaat klinis. Untuk mengoptimalisasi kinerja, tes dengan Ag-RDT sebaiknya dilakukan oleh operator terlatih dengan sangat mematuhi instruksi pembuat alat tes dalam waktu 5-7 hari sejak munculnya gejala.

POLYMERASE CHAIN REACTION  (PCR)

Merupakan Gold Standard diagnosis COVID-19 sampai saat ini. Tes ini mendeteksi virus RNA pada sampel dengan metode real time Reverse Transcriptase PCR.. Monitoring viral load secara kuantitatif berkorelasi dengan progres penyakit. Akan tetapi, pemeriksaan ini paling mahal diantara ketiga pemeriksaan tersebut.

REFERENSI

  1. https://kawalcovid19.id/
  2. https://www.pdspatklin.or.id/assets/files/pdspatklin_2020_05_21_13_29_39.pdf
  3. https://www.who.int/docs/default-source/searo/indonesia/covid19/deteksi-antigen-dalam-diagnosis-infeksi-sars-cov-2-menggunakan-imunoasai-cepat.pdf?sfvrsn=222f2be3_2

MARI MENGENAL REMDESIVIR DAN FAVIPIRAVIR

Akhir-akhir ini kita sering mendengar kedua obat ini ( remdesivir dan favipiravir ). Kedua obat ini disetujui oleh BPOM untuk salah satu opsi terapi untuk covid-19. Mari kita bahas lebih lanjut mengenai kedua obat tersebut

Remdesivir adalah obat antivirus yang
merupakan inhibitor RNA dependent. Remdesivir diidentifikasi lebih awal sebagai kandidat terapeutik yang menjanjikan untuk COVID-19 karena kemampuannya untuk menghambat SARS-CoV-2 in vitro. Diketahui pada studi sebelumnya bahwa remdesivir untuk penyakit MERS jika diberikan 12 jam setelah inokulasi dengan MERS-CoV akan mengurangi level virus pada paru-paru dan menurunkan kerusakan paru-paru. Seperti obat lainnya, remdesivir pun mempunyai efek samping. Efek samping ringan dari remdesivir berupa mual dan peningkatan enzim hati, namun efek samping berat yang dapat diakibatkan oleh obat ini berupa kejang bahkan dapat terjadi gagal ginjal akut.

Favipiravir merupakan obat dengan bioavailabilitas yang baik (sekitar 94%), dan 54% ikatan protein. Obat ini pertama kali digunakan sebagai opsi terapi COVID-19 di Wuhan lalu ke Italia dan Eropa. Favipiravir menginduksi mutagenesis letal in vitro selama infeksi virus influenza, oleh sebab itu obat ini digolongkan sebagai obat antivirus. Di China setelah penggunaan selama 7 hari, pasien COVID-19 moderate mengalami perbaikan kondisi. Namun, sampai saat ini masih diteliti lebih lanjut mengenai efisiensinya terhadap pasien pasien COVID-19. Obat ini dikontraindikasikan pada kehamilan. Hati- hati pada pasien gout dalam menggunakan obat.

Kedua obat di atas harus digunakan sesuai petunjuk dokter.

Referensi

  1. Beigel et al. 2020. Remdesivir for the treatment of covid-19. N Engl J Med 2020; 383:1813-1826
  2. https://www.drugs.com/sfx/remdesivir-side-effects.html
  3. Agrawal et al. 2020. Favipiravir: a new and emerging antiviral option in COVID-19. Medical Journal Armed Forces India 76; 370-376
  4. www.cdc.gov.tw

DISLIPIDEMIA

Dislipidemia adalah kelainan metabolism lipid yang ditandai dengan peningkatan atau penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida, serta penurunan kadar kolesterol HDL. European Atherosclerosis Society (EAS) menetapkan klasifikasi ederhana yaitu:

  • Hiperkolesterolemia (peningkatan lipoprotein LDL, Kolesterol > 240 mg/dL)
  • Hipertrigliseridemia (peningkatan lipoprotein VLDL, Trigliserida > 200mg/dL)
  • Dislipidemia campuran (peningkatan VLDL + LDL ; kadar TG >200mg/dL, Kolesterol > 240mg/dL)

Siapa saja yang berisiko terkena dislipidemia?

  • Perokok
  • Orang yang obesitas dan mempunyai gaya hidup sedenter
  • Orang yang gemar mengkonsumsi makanan berlemak jenuh
  • Orang yang mengkonsumsi alkohol juga memicu terjadinya hipertrigliseridemia
  • Selain itu, jika salah seorang dari oranv tua anda menderita dislipidemia, akan meningkatkan risiko anda terkena dislipidemia

Umur tua juga merupakan faktor risiko, terutama pada wanita yang telah menopause karena mempunya kadar HDL yang rendah

Apa tatalaksana untuk dislipidemia?

Tentu saja dibutuhkan semangat dari Anda penderita dislipidemia untuk mengubah gaya hidup. Menghindari rokok baik tembakau maupun rokok listrik, diet sehat rendah lemak dan berfokus pada gandum, sayuran, buah dan ikan. Selain itu, olahraga minimal 30 menit dalam sehari. Pengunaan obat obatan golongan statin, fibrat, dan inhibitor PCSK 9 dapat diberikan sesuai anjuran dokter.

Apa saja komplikasi dislipidemia?

Banyak sekali komplikasi dislipidemia, diantaranya adalah

  • Serangan jantung
  • Stroke
  • Fatty liver
  • Retinopati

Oleh sebab itu, mari kita jaga kesehatan kita. Di saat pandemik ini jangan lupa terapkan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak).

Referensi

  1. Alwi I et all. Penatalaksanaan di Bidang Ilmu Penyakit Dalam: Panduan Praktik Klinis. Jakarta: Interna Publishing, p: 64-72
  2. Qi L, Ding X, Tang W, Li Q, Mao D, Wang Y. Prevalence and Risk Factors Associated with Dyslipidemia in Chongqing, China. Int J Environ Res Public Health. 2015;12(10):13455-13465
  3. Mach et all. 2019 ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias: lipid modification to reduce cardiovascular risk. European Heart Journal (2019) 00, 1-78.
  4. https://www.healthline.com/health/dyslipidemia

APAKAH ANDA SERING MERASA LELAH WALAU SUDAH BERISTIRAHAT?

Apakah anda sering merasa lelah terus menerus?apakah anda tetap lelah walau sudah beristirahat?apakah anda merasa lelah tanpa sebab yang jelas? Mungkin saja anda mengalami sindrom lelah kronik. Sindrom kelelahan kronis  adalah sindrom yang ditandai dengan kelelahan ekstrim yang berlangsung setidaknya selama enam bulan dan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh kondisi medis yang mendasarinya. Kondisi ini disebut juga dengan myalgic encephalomyelitis (ME).

Berikut adalah gejala yang akan anda rasakan jika mengalami sindrom ini:

  • Penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas yang biasa dilakukan. Hal ini tidak membaik walaupun sudah cukup tidur dan istirahat.
  • Terjadinya post-exertional malaise (PEM). Hal ini meliputi kesulitan berpikir, sakit tenggorokan, sakit kepala, rasa pusing, atau kelelahan yang parah hanya dengan aktivitas yang biasa. Misalnya, setelah berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar harus tidur dahulu di mobil sebelum pulang ke rumah.
  • Masalah tidur dimana penderita sindrom ini tidak akan mengalami pengurangan rasa lelah walaupun sudah tidur. Ada juga penderita yang sulit untuk memulai tidur.

APA SAJA FAKTOR RISIKO SINDROM LELAH KRONIK?

  • Usia 40 hingga 50 tahun.
  • Wanita biasanya mempunyai kemungkinan 2 kali lebih besar daripada pria.
  • Predisposisi genetic
  • Alergi
  • Stress
  • Faktor lingkungan

BAGAIMANA PENGOBATAN UNTUK SINDROM INI?

Tidak ada obat farmakologis untuk penyakit ini, tetapi berbagai obat digunakan untuk membantu meringankan dan mengelola gejalanya, terutama dalam kasus di mana ada penyebab medis tertentu menggunakan perawatan yang sesuai dengan masing-masing individu. Penggunaan NSAID seeperti ibuprofen dan naproxen dapat meringanka nyeri sendi, nyeri kepala dan demam pada penderita sindrom lelah kronik. Terkadang penderita juga menggunakan obat-obat antidepresan untuk memperbaiki kualitas tidur. Kortikosteroid dan terapi hormone tidak dianjurkan penggunaannya untuk terapi sindom lelah kronik.

Referensi

  1. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chronic-fatigue-syndrome/symptoms-causes/syc-20360490
  2. https://www.cdc.gov/me-cfs/symptoms-diagnosis/index.html
  3. Castro-Marrero J, Sáez-Francàs N, Santillo D, Alegre J. Treatment and management of chronic fatigue syndrome/myalgic encephalomyelitis: all roads lead to Rome. Br J Pharmacol. 2017;174(5):345-369. doi:10.1111/bph.13702
  4. https://www.healthline.com/health/chronic-fatigue-syndrome#risk-factors
  5. https://www.youtube.com/watch?v=M23ORg7s3os

SINDROM KARDIOMETABOLIK

Sindrom kardiometabolik adalah konstelasi disfungsi metabolik yang ditandai dengan resistensi insulin dan gangguan toleransi glukosa, dislipidemia aterogenik, hipertensi dan adipositas intra-abdominal. Nama lain sindrom kardiometabolik adalah sindrom resistensi insulin, sindrom X, dan sindrom Reavan, dan sindrom beer belly.

Sindrom kardiometabolik telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama di Amerika Serikatdan banyak negara lain di seluruh dunia karena prevalensinya yang meningkat. Prevalensi sindrom kardiometabolik meningkat secara linier seiring dengan usia dari 7% pada mereka yang berusia 20–29 tahun hingga 45% pada mereka yang berusia 60 tahun ke atas. Dari data National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES)  disebutkan prevalensi semakin meningkat baik pada perempuan dan laki-laki pada semua umur.

BAGAIMANA HAL INI BISA TERJADI?

Berikut 5 hal penjelasan mengenai  patofisiologi sindrom kardiometabolik:

  • Metabolisme asam lemak

Pelepasan asam lemak bebas yang berlebihan dari jaringan adiposa ke dalam plasma dan peningkatan konsentrasi asam lemak bebas dalam plasma tersebut dapat mengganggu kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa otot dan menekan hati produksi glukosa.

  • Jaringan adiposa abdomen

Massa lemak abdomen yang berlebih, terutama lemak viseral (intraperitoneal), berhubungan dengan resistensi insulin. Namun, tidak diketahui dengan pasti apakah lemak viseral menyebabkan insulin resistensi atau hanya dikaitkan dengan resistensi insulin. Lemak visceral mewakili  komponen massa lemak tubuh total. Data dari studi yang menggunakan pelacak isotop untuk menilai metabolisme lemak visceral in vivo pada subyek obesitas ditemukan ± 20% asam lemak bebas dikirim ke hati dan  ±15% asam lemak bebas dikirim ke otot rangka diturunkan dari lipolisis lemak visceral. Oleh karena itu, lemak viseral dapat berkontribusi pada resistensi insulin hepatik.

  • Lemak ektopik

Akumulasi lemak ektopik di hati dan sel otot dikaitkan dengan resistensi insulin pada jaringan tersebut. Peningkatan kandungan lemak intrahepatik dikaitkan dengan resistensi insulin hepatik dan gangguan penekanan glukosa hati yang dimediasi produksi insulin.

  • Protein sekretori jaringan adipose

Jaringan adiposa menghasilkan beberapa sitokin inflamasi (adipokin), dapat memicu resistensi insulin, dan adiponektin yang meningkatkan sensitivitas insulin. Sebagai contoh, tumor necrosis factor-alpha menekan pensinyalan insulin, peningkatan interleukin-6 secara langsung atau dengan merangsang produksi protein c-reaktif hati.

  • Peningkatan tekanan darah

Hubungan antara resistensi insulin dan hipertensi sudah banyak diketahui. Asam lemak dapat menyebabkan vasokonstriksi. Selain itu, resistensi insulin bisa meningkatkan tekanan darah karena insulin merupakan vasodilator, dan hiperinsulinemia meningkatkan penyerapan sodium.

Oleh karena sindrom kardiometabolik ini meningkatkan risiko kematian , mari kita bersama-sama melakukan pencegahannya dengan makan dengan gizi seimbang, istirahat cukup dan olahraga teratur.

Berikut akan disajikan mengenai  video makanan yang baik untuk kesehatan kardiometabolik.

Referensi

  1. Srivastava A. Challenges in The Treatment Of Cardiometabolic Syndrome. Indian Journal of Pharmacology, 44(2): 155-156
  2. Kirk dan Klein. Pathogenesis and Pathophysiology of the Cardiometabolic Syndrome. J Clin Hypertens (Greenwich). 2009 December ; 11(12): 761–765.
  3. Pereira MA, Kottke TE, Jordan C, O’Connor PJ, Pronk NP, Carreón R. Preventing and managing cardiometabolic risk: the logic for intervention. Int J Environ Res Public Health. 2009;6(10):2568-2584. doi:10.3390/ijerph6102568
  4. https://www.youtube.com/watch?v=B2oQAAxGghs

DIABETES MELLITUS DAN COVID19

Dalam Rangka World Diabetes Day pada tanggal 14 November 2020, saya akan membahas mengenai Diabetes Mellitus dan COVID19. Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona, pernafasan akut yang parah sindrom coronavirus 2 (SARS-CoV-2). COVID-19 adalah virus RNA untai tunggal dan terbungkus, virus dinamai menurut proyeksi permukaan seperti mahkota yang terlihat pada mikroskop electron. Menurut Data WHO pada tanggal 14 November 2020 kasus terkonfirmasi positif di seluruh dunia berjumlah 53.164. 803 jiwa dan yang meninggal berjumlah 1.300.576 jiwa.  Saat ini di Indonesia sebanyak 415.402 orang terkonfirmasi positif COVID-19 dan 14044 orang meninggal dunia.

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. DM dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok yaitu DM tipe 1, DM tipe 2, DM gestasional dan DM tipe lain.

BAGAIMANA HUBUNGAN ANTARA DM DAN COVID-19?

Penderita diabetes melitus mengalami peningkatan predisposisi untuk infeksi virus dan bakteri termasuk virus corona yang mempengaruhi saluran pernapasan. Salah satu mekanisme nya adalah leukosit yang tidak berfungsi dengan baik sehingga terjadi gangguan kekebalan tubuh. Mikroangiopati pada DM juga mempengaruhi compliance paru sehingga terjadi gangguan pada pertukaran gas di paru. Kerusakan ini dapat menyebabkan proliferasi dari beberapa patogen pernapasan termasuk SARSCoV-2. Variabilitas glikemik merupakan faktor prognostik pada penderita diabetes pasien dengan infeksi COVID-19. Hiperglikemia semakin memburuk karena proses badai sitokin, disfungsi endotel, dan beberapa cedera organ.

Oleh sebab itu, Penderita DM sebaiknya selama pandemi ini harus selalu berhati-hati. Jaga jarak, gunakan masker, cuci tangan, meminum obat dan kontrol teratur adalah kunci untuk prevensi COVID-19.

Referensi

  1. Ugwueze et al. COVID-19 and Diabetes Mellitus: The Link and Clinical Implications. Dubai Diabetes Endocrinol Journal. DOI: 10.1159/000511354
  2. https://kawalcovid19.id/
  3. https://covid19.who.int/?gclid=Cj0KCQiAnb79BRDgARIsAOVbhRoR0qeXuu2Q1x0JMgBgq66mQAugmBheiGzQDLGLiBSwZdTgQz0MkXkaApNUEALw_wcB
  4. Soelistijo et al. Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa Di Indonesia. 2019. Jakarta: PB Perkeni.
  5. https://www.youtube.com/watch?v=rxju8JBAoic

OSTEOPOROSIS

Definisi

Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh compromised bone strength sehingga tulang mudah patah. Osteoporosis merupakan penyakit dengan etiologi yang multifaktorial. Umur dan densitas tulang merupakan faktor risiko osteoporosis yang berhubungan erat dengan risiko terjadinya fraktur osteoporotik.

Apa saja keluhan penderita osteoporosis?

Seringkali pasien tidak disertai keluhan sampai timbul fraktur. Apabila sudah terjadi fraktur maka akan memberikan gejala sesuai lokasi fraktur (leher, femur/paha, vertebra torakal dan lumbal/punggung dan bagian di dekat tulang ekor, dan distal radius/ pergelangan tangan) misalnya nyeri pinggang bawah, penurunan tinggi badan, kifosis (kelainan pada tulang belakang, di mana bentuk tulang belakang bagian atas terlalu bengkok atau melengkung ke belakang). 

Pemeriksaan fisik apa saja yang diperlukan?

  • Keadaan umum, tinggi dan berat badan, gaya berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality
  • Evaluasi gigi geligi
  • Tanda-tanda goiter, atau adanya jaringan parut pada leher dapat menandakan riwayat operasi tiroid
  • Protuberansia abdomen yang dapat disebabkan kifosis
  • Kifosis dorsal, spasme otot paravertebral
  • Nyeri tulang atau deformitas yang disebabkan oleh fraktur
  • Kulit yang tipis ( tanda McConkey )

Pemeriksaan penunjang apa saja yang dibutuhkan untuk mendiagnosis osteoporosis?

  • Foto Polos
  • Dual Energy X-Ray Absorptiometry (DXA) untuk mengukur Bone Mineral Density (BMD)
    • Pada wanita postmenopause dan laki-laki ≥50 tahun tanpa adanya fraktur patologis menggunakan T-score:
      • Nilai T-score ≥-1 dikatakan normal
      • Nilai T-score -1 sampai dengan -2,5 dikatakan osteopenia
      • Nilai T-score ≤-2,5 dikatakan osteoporosis
    • Pada wanita premenopause dan laki-laki< 50 tahun, dan anak-anak menggunakan Z-score:
      • Nilai Z-score > -2 dikatakan within expected range for age
      • Nilai Z-score ≤ -2 dikatakan low BMD for chronogical age
  • Petanda biokimia tulang: Pemeriksaan ini ditujukan untuk menilai turnover tulang.

Bagaimana Penatalaksanaannya?

Pada pasien osteoporosis latihan dimulai dengan latihan tanpa beban, kemudian ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai latihan beban yang adekuat. Selain itu, memenuhi kebutuhan kalsium > 1200mg/hari dan vitamin D 800-1000 U/hari, serta mendapat paparan sinar matahari yang cukup. Tatalaksana farmakologi dan pembedahan dapat dikonsultasikan lebih lanjut pada dokter spesialis penyakit dlam dan dokter bedah orthopedi.

Apa Komplikasi Osteoporosis?

Banyak sekali komplikasi osteoporosis, diantaranya adalah nyeri punggung, terjadinya kelainan tulang belakang, dan terjadinya fraktur.

Referensi

  1. Alwi I et al. 2019. Pentalaksanaan Di Bidang Ilmu Penyakit Dalam : Panduan Praktik Klinis. Jakarta: Interna Publishing,p: 836-841
  2. Varacallo MA, Fox EJ. Osteoporosis and its complications. Med Clin North Am. 2014 Jul;98(4):817-31, xii-xiii. doi: 10.1016/j.mcna.2014.03.007. Epub 2014 May 9. PMID: 24994054.
  3. https://www.youtube.com/watch?v=jUQ_tt_zJDo

Resusitasi Jantung Paru (RJP) Pada Saat Pandemi COVID19

Resusitasi Jantung Paru menurut American Heart Association adalah suatu tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa, yang dilakukan saat jantung berhenti berdetak. RJP yang dilakukan segera setelah henti jantung dapat meningkatkan kemungkinan bertahan hidup seseorang. Panduan mengenai RJP sudah pernah kita bahas sebelumnya. Namun, di era pandemi ini ada beberapa hal yang harus kita perhatikan sebagai tenaga kesehatan.

Berikut adalah prinsip umum RJP pada pasien yang dicurigai COVID19 maupun pasien terkonfirmasi COVID19:

  • Kurangi Paparan Terhadap COVID19

Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai, membatasi tenaga kesehatan yang melakukan RJP, dan mengkomunikasikan mengenai status COVID19 pasien pada tenaga kesehatan yang akan bergabung untuk melakukan RJP.

  • Prioritaskan Strategi Oksigenasi dan Ventilasi Dengan Risiko Aerosol Lebih Rendah

HEPA (high-efficiency particulate air) Filter bisa digunakan untuk alat alat ventilasi. Selain itu, minimalkan kegagalan intubasi.

  • Pertimbangkan Kondisi Saat Memulai Maupun Saat Melanjutkan RJP

Walaupun tingkat serangan jantung maupun henti jantung pada pasien COVID19 belum diketahui dengan pasti hingga saat ini, tingkat mortalitas pasien COVID19 dengan kondisi kritis sudah cukup tinggi dan tingkat mortalitas tersebut meningkat dengan bertambahnya usia dan komorbiditas pada pasien. Oleh sebab itu, diperlukan pertimbangan terhadap usia dan komorbiditas pasien serta tingkat keberhasilan RJP karena saat RJP membutuhkan banyak pihak dan dapat meningkatkan risiko penularan COVID19.  

Berikut adalah algoritme BLS pada pasien COVID19

Referensi

  1. https://cpr.heart.org/en/resources/what-is-cpr
  2. https://www.ahajournals.org/doi/pdf/10.1161/CIRCULATIONAHA.120.047463

Happy Hypoxia

Pada Desember 2019, ditemukan penyakit pneumonia yang belum teridentifikasi diWuhan, China. Saat ini kita kenal sebagai penyakit COVID 19. Pandemi COVID19 telah menjadi krisis secara global. Penderita psoitif COVID19 saat ini menurut WHO (World Health Organization) berjumlah 28.040.853 dengan jumlah kematian 906.092. Di Indonesia, jumlah penderita positif COVID19 yaitu 210.940 dengan total kematian 8544 jiwa. Akhir-akhir ini kita mendengar mengenai happy hypoxia. Apa sih maksudnya? Mari kita bahas lebih lanjut.


Happy hypoxia merupakan keadaan dimana seseorang mempunyai kadar oksigen di dalam tubuh yang rendah tetapi tidak menunjukkan gejala sesak nafas. Normalnya kadar oksigen dalam darah yaitu sekitar lebih dari 95%. Ketika kadar oksigen di dalam darah berkurang hingga di bawah angka tersebut, tubuh akan mengalami kekurangan oksigen. Kondisi ini disebut hipoksemia atau hipoksia.

Beberapa hal yang dapat menyebabkan hipoksia adalah:

  1. Penyakit paru
  2. Gangguan pada jantung
  3. Anemia

Mekanisme sederhana mengapa happy hypoxia bisa muncul adalah sebagai berikut:

  • Terjadi shunt dari kanan ke kiri
  • Tidak ada dead space yang berlebihan pada paru
  • Resistensi paru-paru baik

Penanganan happy hypoxia tentu harus dilaiukan oleh dokter yang. Jadi, apabila Anda merasakan gejala dari COVID19 sebaiknya Anda segera memeriksakan diri ke dokter.

Referensi

  1. Dhont et al. The pathophysiology of ‘happy’ hypoxemia in COVID-19. 2020. Journal of Respirator Research; vol 21: 198.
  2. https://covid19.who.int/ (diakses tanggal 12 September 2020)
  3. https://kawalcovid19.id/ (diakses tanggal 12 September 2020)
  4. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7362604/
  5. Tobin et al. Why COVID-19 Silent Hypoxemia Is Baffling to Physicians. 2020. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine Volume 202 Number 3. s DOI: 10.1164/rccm.202006-2157CP
  6. https://emcrit.org/pulmcrit/happy-hypoxemia-physiology/

GOWES SEPEDA DAN JANTUNG ANDA

Saat ini, olahraga bersepeda sangat digandrungi oleh masyarakat. Kita bisa melihat dimana-mana bahwa banyak sekali yang bersepeda apalagi di akhir minggu. Hal tersebut menunjukkan bahwa sudah banyak masyarakat Indonesia yang peduli terhadap kebugaran tubuh. Selain itu, banyak juga pekerja kantoran yang menggunakan sepeda untuk ke kantor untuk menghindari dan mengurangi penggunaan transportasi umum. Namun demikian, kita sering mendengar bahwa tiba tiba ada pasien terkena serangan jantung. Bagaimana mekanisme kejadian tersebut?Apakah gara-gara menggunakan masker? Yuu mari kita bahas bersama mengenai hal ini.

Saat kita berolahraga tubuh akan memproduksi adrenalin. Apabila kita berolahraga terlalu keras dan memaksakan maka tubuh akan mempunyai banyak adrenalin dan jantung kita akan mempunyai laju yang sangat cepat sehingga terjadi aritmia seperti atrial fibrilasi, bahkan bisa saja kita mengalai ventricular takikardi.

Apa saja gejala yang harus kita waspadai ketika berolahraga?

  1. Nyeri dada
  2. Sesak nafas
  3. Perasaan ingin pingsan atau merasa gelap secara tiba-tiba
  4. Jantung berdebar-debar
  5. Merasa sangat lelah

Jika Anda mengalami hal di atas ketika bersepeda, sebaiknya Anda berhenti terlebih dahulu

Apa yang harus dilakukan agar bersepeda tetap aman untuk jantung Anda?

  1. Cek tensi dahulu kalau sudah masuk kategori hipertensi jangan bersepeda
  2. Kemudian cek denyut nadi , apabila denyut nadi di atas 100 jangan bersepeda karena bisa tiba-tiba pingsan karena nadi terlalu cepat.
  3. Lihat kondisi gula darah
  4. Cek kesehatan mata

Jadi lakukan medical check up secara rutin ya sebelum berolahraga,. Selain itu, jangan lupa pemanasan. Dan ketika berolahraga jangan memaksakan diri ya.

Referensi

  1. https://www.pennmedicine.org/updates/blogs/heart-and-vascular-blog/2016/august/6-dos-and-donts-when-you-have-a-heart-rhythm-problem#:~:text=%E2%80%9CWhen%20you%20exercise%2C%20your%20body,worse%20with%20too%20much%20adrenaline.%E2%80%9D
  2. https://www.youtube.com/watch?v=4xMysN9pD3Q&feature=youtu.be by David Property
  3. https://www.bikeradar.com/advice/fitness-and-training/bend-in-the-road-heart-health-warning-signs/