DISFUNGSI EREKSI DAN ATRIAL FIBRILASI

Apa itu disfungsi ereksi?

Menurut The National Institutes of Health (NIH) Consensus Development Conference on Impotence disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk memuaskan kinerja seksual.

Apa penyebab disfungsi ereksi?

Disfungsi ereksi mempunyai penyebab yang multifaktorial,seperti:

  1. Penyebab vaskular yaitu aterosklerosis, infark miokard, penyakit arteri perifer, trauma pada pembukuh darah, dll.
  2. Penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, hipertensi, gagal ginjal, scleroderma,dll.
  3. Penyebab neurologis yaitu epilepsy, stroke, guilian bare sindrom, penyakit Alzheimer dan sclerosis multipel.
  4. Penyebab respiratorik seperti ppok (penyakit paru obstruktif kronik), dan  sleep apnea.
  5. Endokrin seperti hipertiroid, hipotiroid, hipogonadisme, dan diabetes.
  6. Kondisi penis yaitu penyakit peyronie, epispadi, dan priapism.
  7. Kondisi psikiatrik seperti depresi, ansietas, dan ptsd (post traumatic stress disorder)
  8. Status nutrisi yaitu malnutrisi dan defisiensi zink
  9. Penyakit hematologi yaitu anemia sel sabit dan leukemia
  10. Prosedur operasi yaitu operasi tulang belakang, aortofemoral bypass, reseksi transurethral dari prostat, radikal prostatektomi, dll.
  11. Obat-obatan seperti obat antidepresan, antipsikotik, antihipertensi, metadon, dan obat penurun kolesterol.

Apa itu atrial fibrilasi?

Atrial fibrilasi adalah detak jantung yang tidak teratur dan sering cepat yang dapat meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, dan komplikasi terkait jantung lainnya. Atrial fibrilasi merupakan aritmia jantung yang paling umum dan efeknya terjadi hampir 1% dari populasi dunia. Prevalensinya meningkat seiring denga bertambahnya usia; relatif jarang pada orang yang berusia < 40 tahun, tetapi terjadi pada 5% pada orang yang berusia > 80tahun.

Bagaimana gejala yang dialami orang dengan atrial fibrilasi?

  1. Palpitasi atau perasaan berdebar pada jantung, rasa terjepit di dada, jantung berdetak dengan kencang dan tidak teratur.
  2. Badan terasa lemah
  3. Pusing
  4. Kemampuan berolahraga menurun
  5. Sesak nafas
  6. Nyei dada

Apa hubungan atrial fibrilasi dengan disfungsi ereksi?

Menurut studi diketahui bahwa pada orang yang menderita AF lebih berisiko untuk terkena disfungsi ereksi. Ada beberapa mekanisme yang dapat menyebabkan hal tersebut yang pertama adalah peningkatan risiko tromboemboli pada pasien AF dapat mempengaruhi vaskular/pembuluh darah di seluruh tubuh, sehingga pada populasi pasien AF prevalensi disfungsi ereksi lebih tinggi. Yang kedua, embolisasi mikrotrombi dari atrium kiri ke pembuluh darah arteri di penis.  Yang ketiga yaitu peningkatan kadar protrombotik dalam plasma, faktor von willebrand, dan Eselectin yang dapat terlarut didapatkan pada semua pasien dengan AF. Disfungsi endotel juga didapatkan pada pasien dengan AF sehingga pasien-pasien AF berisiko lebih tinggi untuk mengalami disfungsi ereksi. Inflamasi berperan penting dalam disfungsi endotel pada pasien AF. Aktivasi sel inflamasi dan mediatornya membuat terjadinya inflamasi pada pembuluh darah. Gangguan aliran darah yang dimediasi asetilkolin dan penurunan tingkat plasma nitrat menyebabkan gangguan aliran darah sistemik dan disfungsi ereksi.

Oleh sebab itu jika anda mengalami atrial fibrilasi dan takut berlanjut kea rah disfungsi ereksi segeralah melakukan pemeriksaan dan konsultasi lebih lanjut kepada dr. Dono Antono, Sp.PD-KKV, FINASIM, FICA.

Referensi

  1. https://emedicine.medscape.com/article/444220-overview#a5
  2. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/atrial-fibrillation/symptoms-causes/syc-20350624
  3. Waktare et al. Atrial FIbrilation. Journal of Circulation. 2002;106:14–16
  4. Chokesuwattanaskul et al. Erectile dysfunction and atrial fibrillation: A systematic review and meta-analysis. International Journal of Urology (2018) 25, 752—757.
  5. https://www.youtube.com/watch?v=i_KGYTHdsvk

SKLERODERMA

DEFINISI

Skleroderma (sclerosis sistemik) adalah penyakit jaringan ikat yang tidak diketahui penyebabnya yang ditandai oleh fibrosis kulit dan organ visceral serta kelainan mikrovaskuler.

DIAGNOSIS

Pada tahun 2013 , American College of Rheumatology / European League Against Rheumatism (ACR/EULAR) menetapkan kriteria untuk klasifikasi scleroderma yang akan disebutkan pad atabel di bawah ini. Berdasarkan kriteria ini, diagnosis dapat ditegakkan apabila skor total pasien ≥ 9.

DIAGNOSIS BANDING

  • Nephrogenic Sistemik Fibrosis
  • Eosinophilic Fasciitis
  • Sindrom Eosinophilia-Myalgia
  • Reflex Sympathetic Dystrophy
  • Diabetic cheiroarthropathy
  • Porphyria cutanea tarda
  • Morphea
  • Linear scleroderma
  • Scleromyxedema

TATALAKSANA

Penatalaksanaan untuk penyakit ini tidak hanya pengobatan tetapi juga penyuluhan dan dukungan sosial. Pengobatan dapat dilakukan untuk menangani fenomena Raynaud, kelainan kulit, kelainan musculoskeletal, kelainan gastrointestinal, kelainan paru, dan kelainan ginjal. Apabila terdapat gangguan pada pembuluh darah pasien dengan scleroderma maka dapat dilakukan angiografi yang dilanjutkan dengan angioplasty, terutama dilihat dari faktor risiko pasien tersebut, seperti pasien yang merokok. Untuk konsultasi lebih lanju anda dapat menghubungi dr. Dono Antono, Sp.PD-KKV, FINASIM, FICA.

KOMPLIKASI

Ulkus dan nodul pada kulit, kesulitan untuk membuka mulut, perdarahan saluran cerna, hipertensi pulmonal, obstruksi saluran cerna.

Referensi

  1. Alwi I et al. Penatalaksanaan di Bidang Ilmu Penyakit Dalam: Panduan Praktik Klinis. 2015.  Jakarta: Interna Publishing;p: 854-859
  2. https://emedicine.medscape.com/article/331864-differential
  3. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11777765
  4. https://www.sruk.co.uk/scleroderma/scleroderma-getting-diagnosed/systemic-sclerosis-diagnosis/systemic-sclerosis-complications/
  5. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12418443

Frostbite

Apa itu frostbite?

Frostbite adalah cedera termal dingin dan membeku yang terjadi ketika jaringan terkena suhu di bawah titik beku (biasanya −0.55 ° C, tetapi dapat terjadi setinggi 2 ° C) untuk periode waktu yang berkelanjutan. Di Indonesia memang hal ini kemungkinan terjadinya sangat kecil, namun demikian berikut beberapa informasi yang bisa Anda dapatkan jika bepergian ke negara lain saat musim dingin.

Bagaimana derajat frostbite?

Frostbite terbagi dalam 4 derajat yakni sebagai berikut:

  1. Superfisial, area putih yang dikelilingi area eritema atau kemerahan
  2. Bula yang mengandung cairan bening
  3. Bula Hemoragik
  4. Nekrosis jaringan penuh

Apa saja tips untuk pencegahan frostbite?

Frostbite dapat dicegah. Berikut adalah tips untuk membantu Anda tetap aman dan hangat

  1. Batasi waktu Anda di luar ruangan dalam cuaca dingin.
  2. Kenakan beberapa lapis pakaian longgar dan hangat
  3. Kenakan topi atau ikat kepala yang sepenuhnya menutupi telinga Anda
  4. Kenakan kaus kaki jika Anda bepergian keluar rumah
  5. Perhatikan tanda-tanda awal frostbite seperti kemerahan atau sangat pucat, sensasi tertusuk dan kesemutan.
  6. Jangan minum alkohol jika Anda berencana untuk berada di luar ruangan dalam cuaca dingin.
  7. Makan makanan yang seimbang dan tetap terhidrasi

Bagaimana penatalaksanaan frostbite?

Penatalaksanaan frostbite terdiri dari 3 fase yaitu saat awal membeku, saat di rumah sakit, dan sesudahnya. Tahap awal yaitu dengan pengurangan paparan terhadap suhu yang dingin, mengganti pakaian dengan pakaian yang kering, menaruh ekstremitas yang terkena penyakit ini di ketiak selama 10 menit, pemerian aspirin 75mg maupun ibuprofen 800mg. Setelah tahap awal dilakukan Anda dapat ke rumah sakit terdekat atau dapat berkonsultasi dengan dr. Dono Antono, Sp.PD-KKV, FINASIM, FICA

Referensi

  1. Handford C et al. Frostbite: a practical approach to hospital management. Journal of Extreme Physiology & Medicine. 2014; volume 3; p: 1-10.
  2. Flat EA. Frostbite. Baylor University Medical Center Proceedings. 2010;23(3):261–262
  3. Lorentzen AK, Davis C, Penninga L. Interventions for frostbite injuries (Protocol). Cochrane Database of Systematic Reviews 2018, Issue 3. DOI: 10.1002/14651858
  4. http://herbalthera.com/frostbite-freezing-injury-the-reasons-and-symptoms-of-frostbite/
  5. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/frostbite/symptoms-causes/syc-20372656

TERAPI ANTIPLATELET PADA PASIEN JANTUNG

Penyebab utama morbiditas dan mortalitas di Barat adalah penyakit kardiovaskular. Trombotik dan tromboemboli oklutik pembuluh darah aterosklerotik merupakan penyebab utama kejadian iskemik. Dari beberapa studi diketahui bahwa thrombus yang menyumbat pembuh darah arteri koroner banyak mengandung platelet, oleh sebab itu, obat antiplatelet dikembangkan sebagai terapi potensial dalam pencegahan dan pengelolaan thrombosis arteri.

Berikut mari kita bahas mengenai beberapa obat golongan antiplatelet:

a. Aspirin

Aspirin merupakan obat antiplatelet yang paling banyak dipelajari. Dari 100 studi randomized control trials pada pasien risiko tinggi, dapat diketahui bahwa aspirin mengurangi kematian akibat penyakit vaskular sebesar 15%. Mekanisme aksi dari aspirin adalah kemampuannya untuk menghambat secara permanen aktivitas COX prostaglandin H-synthase-1 dan prostaglandin H synthase-2 (juga disebut sebagai COX-1 dan COX-2). Aspirin diabsorbsi di bagian perut dan usus bagian atas. Plasma level memuncak 30-40 menit setelah konsumsi aspirin, dan penghambatan fungsi trombosit terbukti dalam satu jam. Namun sebaliknya, pada aspirin tablet salut enterik dibutuhkan 3-4 jam untuk mencapai puncak plasma level. Berikut adalah tabel dosis rendah aspirin untuk beberapa penyakit:

Penyakit Dosis rendah aspirin dalam dosis sehari-hari
Transient Ischemic Attack atau Stroke Iskemik 50 mg
Hipertensi 75 mg
Angina stabil 75 mg
Angina tidak stabil 75 mg
Stenosis arteri karotis yang parah 75 mg
Polisitemia vera 100 mg
Infark Miokard Akut 160 mg
Stroke Iskemik Akut 160 mg

b. Thienopyridine

  • Ticlopidine

Ticlopidine dapat diabsorbsi tubuh dengan cepat sebanyak 90%. Konsentrasi puncak plasma didapatkan pada 1 hingga 3 jam setelah dosis tunggal oral atau sekitar 250 mg. Dosis regimen standar untuk ticlopidine adalah 250mg.

  • Clopidogrel

Clopidogrel merupakan obat dengan bioavailibilitas >50%. Obat ini dimetabolisme di hati dengan bantuan enzim hepatic CYP450. Obat ini diekskresi melalui urin dan feses. Efek samping yang dapat ditimbulkan oleh obat ini yaitu sakit kepala, mual, muntah, nyeri perut, diare, dan keluar darah dari hidung.

  • Prasugrel

Prasugrel cepat diserap setelah konsumsi oral dan cepat dikonversi untuk metabolit aktifnya, yang mencapai konsentrasi puncak dalam 30 menit setelah pemberian obat. Absorbsi obat ini tidak dipengaruhi oleh makanan.

  • Ticagrelor

Obat ini biasanya diberikan kombinasi bersama asetosal 75-100 mg untuk mencegah trombosis (kematian kardiovaskular, infark miokard dan stroke) pada pasien dengan sindrom koroner akut (ACS) [angina tidak stabil, infark miokard tanpa elevasi ST (NSTEMI) atau Infark miokard dengan elevasi ST (STEMI)] termasuk pasien dengan intervensi koroner perkutan (PCI) atau bedah bypass jantung (CABG). Kontraindikasi pemberian ticagrelor yaitu pasien dengan riwayat perdarahan intrakranial (ICH), perdarahan aktif seperti ulkus, hipersensitivitas. Efek samping pemberian obat ini adalah dispnea, perdarahan, sakit kepala, batuk, lemas, pusing, fibrilasi atrium, hipertensi, nyeri dada nonkardial, diare, nyeri punggung, hipotensi, fatigue, nyeri dada, peningkatan serum kreatinin, konstipasi, parastesia, hiperurisemia, vertigo.

Demikianlah beberapa obat-obatan antiplatelet pada artikel ini, apabila ada pertanyaan lebih lanjut silahkan untuk berkonsultasi dengan dr. Dono Antono, Sp.PD-KKV, FINASIM, FICA

Referensi

  1. Behan M, Storey RF. Antiplatelet therapy in cardiovascular disease. 2004. Postgrad Med Journal; 80; 155-164.
  2. Eikelboom J et al. Antithrombotic Therapy and Prevention of Thrombosis, 9th ed: American College of Chest Physicians Evidence-Based Clinical Practice Guidelines. Journal of CHEST; 141; 2; p: 89-119.
  3. http://pionas.pom.go.id/monografi/
  4. https://reference.medscape.com/drug/plavix-clopidogrel-342141#90
  5. https://www.youtube.com/watch?v=d7RbjcRMDsk
  6. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a601040.html#side-effects

PPCM (PERIPARTUM CARDIOMYOPATHY)

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) merupakan bentuk gagal jantung yang dapat terjadi selama trimester terakhir kehamilan atau hingga lima bulan setelah melahirkan. Kardiomiopati secara harfiah berarti penyakit pada otot jantung.

PENYEBAB PPCM

  • Miokarditis viral

Miokarditis viral diduga sebagai penyebab utama dalam mekanisme terjadinya PPCM. Hal ini didukung dengan biopsi endomiokardial dari wanita dengan PPCM. Biopsi spesimen menunjukkan infiltrasi limfositik padat dengan sejumlah variabel edema miosit, nekrosis, dan fibrosis.

  • Respon Imun Abnormal

Selama kehamilan sel-sel janin dilepaskan ke aliran darah ibu dan tidak ditolak oleh ibu karena terjadi imunosupresi alami yang terjadi selama kehamilan. Namun, setelah melahirkan, terjadi peningkatan imunitas pada ibu, dan jika sel janin tertinggal di jaringan jantung ketika janin dilahirkan, respon autoimun patologis dapat terjadi.

  • Respon Hemodinamik Abnormal

Selama kehamilan, volume darah dan cardiac output meningkat. Selain itu, afterload berkurang

karena relaksasi otot polos pembuluh darah. Perubahan ini menyebabkan hipertrofi yang singkat dan reversibel dari ventrikel kiri untuk memenuhi kebutuhan ibu dan janin. Disfungsi ventrikel ini terjadi selama trimester ketiga dan awal periode postpartum.

  • Apoptosis dan inflamasi

Peningkatan konsentrasi sitokin inflamasi, khususnya TNF α, protein c-reaktif, dan marker plasma untuk apoptosis ditemukan pada pasien dengan PPCM.

  • Produksi Prolaktin

Menurut penelitian penyebab PPCM yang baru-baru ini diketahui adalah peningkatan yang pesat dari produksi prolactin. Tingkat prolaktin terkait dengan peningkatan volume darah, penurunan darah tekanan, penurunan responsif angiotensin, dan pengurangan kadar air, natrium, dan kalium.

  • Malnutrisi

Gangguan nutrisi, seperti kekurangan selenium dan micronutrient lainnya memainkan peran dalam patogenesis PPCM. Kekurangan selenium meningkatkan kerentanan jantung dalam terkena infeksi virus, kerentanan hipertensi dan hipokalsemia.

  • Prolong tokolisis

Prolong tokolisis mengacu pada penggunaan obat tokolitik (obat-obatan β simpatomimetik) lebih dari 4 minggu. Terdapat hubungan yang unik dari terapi tokolitik dan gagal jantung pada pasien yang hamil. Obat-obatan tokolitik digunakan untuk terapi dari berbagai kondisi lain tanpa

terjadinya tanda dan gejala gagal jantung seperti yang dialami oleh wanita hamil. Tanda dan gejala gagal jantung dapat menjadi hal yang normal bagi wanita hamil karena perubahan fisiologis, termasuk peningkatan sirkulasi volume darah. Sebuah studi menyatakan penggunaan terapi tokolitik dapat menyebabkan terjadinya edema paru yang kemudian berlanjut menjadi PPCM.

TANDA DAN GEJALA                                    

  • Mudah lelah
  • Detak jantung berdebar-debar
  • Nokturia (meningkatnya frekuensi buang air kecil saat malam hari)
  • Sesak napas saat aktivitas
  • Sesak napas saat berbaring dengan alas yang datar tanpa bantal
  • Pembengkakan tungkai
  • Pembesaran pembuluh vena leher
  • Tekanan darah rendah

TERAPI

Hanya terdapat data yang terbatas tentang pengobatan untuk PPCM. Terpai difokuskan untuk pengobatan gagal jantung sistolik, pengontrolan volume darah, mencegah tromboemboli dan menghindari komplikasi aritmia. Agen diuretik, termasuk diuretik loop, dan nitrat dalah agen pilihan untuk mengontrol volume darah pada jantung meskipun penggunaannya harus hati-hati karena berefek pada rahim pasien. Apabila anda terkena penyakit ini, silahkan berobat lebih lanjut ke dr. Dono Antono, Sp.PD-KKV, FINASIM,FICA

REFERENSI

  1. https://www.heart.org/en/health-topics/cardiomyopathy/what-is-cardiomyopathy-in-adults/peripartum-cardiomyopathy-ppcm
  2. Coyle et all. Peripartum Cardiomyopathy: Review and Practice Guidelines. American Journal Of Critical Care, March 2012, Volume 21, No. 2, p: 89-98.
  3. Arany Z, et all. Peripartum Cardiomyopathy. 2016. Journal of Circulation,p: 13980-1406
  4. www.youtube.com/watch?v=eXlJg-29FxU

EMBOLI PULMO

DEFINISI

Emboli paru adalah penyumbatan di pembuluh darah pada paru-paru.

GEJALA KLINIS

  • Dyspnea / sesak napas

Gejala ini biasanya muncul tiba-tiba dan selalu memburuk dengan aktivitas

  • Nyeri dada

Anda mungkin merasa seperti mengalami serangan jantung. Rasa sakit bisa menjadi lebih buruk ketika Anda bernapas dalam-dalam (radang selaput dada), batuk, makan, membungkuk atau membungkuk. Rasa sakit akan menjadi lebih buruk dengan aktivitas tetapi tidak akan hilang ketika Anda beristirahat.

  • Sinkop/pingsan

Anda mungkin pada awalnya akan merasa seperti mau pingsan dan berkunang-kunang, tetapi apabila tidak segera ditangani anda dapat langsung pingsan/sinkop.

  • Hemoptisis (batuk darah)

Batuk anda berdahak dan terdapat bercak darah pada dahak tersebut.

Tanda dan gejala lainnya bila anda terkena penyakit ini adalah nyeri pada kaki atau bengkak pada kaki, terutama pada betis, kulit kusam atau berubah warna menjadi kebiruan (sianosis), demam, keringat berlebihan, jantung berdebar-debar, pusing.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Berikut adalah beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat anda lakukan di rumah sakit:

  • CTPA (Computed Tomography Pulmonary Angiography)
  • Planar V/Q scan
  • V/Q SPECT (Ventilation/perfusion Single-Photon Emission Computed Tomography)
  • Angiografi Pulmo

PENYEBAB

Embolisme paru terjadi ketika gumpalan darah  masuk ke dalam arteri di paru-paru Anda. Gumpalan darah ini paling sering berasal dari pembuluh darah bagian dalam kaki Anda. Kondisi ini dikenal sebagai deep vein thrombosis (DVT).

Kadang-kadang, penyumbatan di pembuluh darah disebabkan oleh zat selain gumpalan darah, seperti:

  • Lemak dari sumsum tulang panjang yang patah
  • Kolagen atau jaringan lain
  • Bagian dari tumor
  • Gelembung udara

Terapi

Terapi emboli pulmo adalah dengan obat antikoagulan. Anda dapat berkonsultasi lebih lanjut  dengan dr. Dono Antono, Sp.PD-KKV, FINASIM, FICA

Referensi

  1. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pulmonary-embolism/symptoms-causes/syc-20354647
  2. Konstaninindes SV et all. 2019 ESC Guidelines for the diagnosis and management of acute pulmonary embolism developed in collaboration with the European Respiratory Society (ERS). European Heart Journal (2019) 00, p: 1-61.
  3. https://www.nhs.uk/conditions/pulmonary-embolism/

PERAN OBAT STATIN DALAM PENGOBATAN PENYAKIT JANTUNG

Statin adalah golongan obat yang menurunkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) yang tersumbat dalam aliran darah. Berikut adalah rekomendasi penurunan kolesterol LDL:

  1. Pencegahan sekunder pada pasien yang sangat berisiko tinggi terkena penyakit jantung, penurunan kolesterol LDL > 50% dari awal dan direkomendasikan dapat mencapai  < 55mg/dl
  2. Pencegahan primer pada individu yang berisiko sangat tinggi terkena penyakit jantung tetapi tidak mempunyai FH (Familial Hypercholesterolemia),pengurangan kolesterol LDL ≥ 50% dari baseline dan direkomendasikan mencapai <55mg/dl
  3. Pasien dengan risiko tinggi, pengurangan kolesterol LDL > 50% dari awal, dan target kolesterol LDL menjadi < 70mg/dl
  4. Untuk individu dengan risiko sedang, target kolesterol LDL < 100mg/dl
  5. Untuk individu dengan risiko rendah, target kolesterol LDL < 116mg/dl

JENIS-JENIS STATIN DAN DOSISNYA

Statin Dosis
  Intensitas Rendah Intensitas Sedang Intensitas Tinggi
Atorvastatin 10-20mg 40-80mg
Fluvastatin 20-40mg 80mg
Lovastatin 20mg 40mg
Pravastatin 10-20mg 40-80mg
Simvastatin 10mg 20-40mg
Rosuvastatin 5-10mg 20-40mg
Pitavastatin 1mg 2-4mg

PERAN STATIN DALAM PENYAKIT JANTUNG

Obat golongan statin menghambat 3-hydroxy-methylglutaryl coenzyme A (HMG-CoA) reductase, yang bertanggung jawab terhadap penurunan kolesterol LDL. Dalam banyak penelitian, obat golongan statin menunjukkan efikasi pada pasien yang mempunyai hasil lab kolesterol tinggi tanpa penyakit jantung maupun pasien dnegan penyakit jantung. Beberapa penelitian juga menunjukkan dengan meminum obat statin dengan rutin dapat menurunkan insidensi serangan jantung dan kematian akibat penyakit jantung.

Terapi intensive dengan obat statin dapat membuat perbedaan yang signifikan pada kadar kolesterol dibandingkan dengan dosis yang biasa. Suatu penelitian menyebutkan bahwa 80mg atorvastatin dalam 24-96 jam setelah rawat inap pada penderita penyakit jantung dapat menurunkan resiko kematian, infark miokard berulang dan henti jantung.

Saat ini, terapi dengan obat golongan statin tidak hanya untuk pengobatan namun juga digunakan sebagai preventif untuk penyakit kardiovaskular. Keuntungan penggunaan obat golongan statin ini adalah selain dapat menurunkan kolesterol LDL juga dapat menaikkan fungsi endothelial, mengurangi inflamasi pembuluh darah, mengurangi adhesi platelet, dan thrombosis.

Referensi

  1. https://www.healthline.com/health/high-cholesterol/why-statin-drugs-may-be-bad-for-you#who-should-take-statins
  2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK396417/table/ch1.t1/
  3. Lim YS. Role of Statins in Coronary Artery Disease. Review Article of Korean University; p: 1-6.
  4. Mach et all. ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias: lipid modification to reduce cardiovascular risk. European Heart Journal (2019) 00,p: 1-78
  5. https://www.youtube.com/watch?v=HcMDokM_jtQ

Mari Kita Belajar EKG Dasar

Prinsip Dasar Fungsi Jantung

Kardiak output adalah peristiwa kardiovaskular terpenting yang diperlukan untuk mempertahankan aliran darah ke seluruh tubuh. Selain volume darah dan kekuatan kontraktilitas, jantung harus mempertahankan siklus relaksasi dan kontraksi yang teratur. Peristiwa klasik yang diperlukan adalah kontraksi jantung yang berirama dan relaksasi dari atrium dan ventrikel. Jantung terdiri dari 2 sel utama yaitu sel yang bekerja dan sel khusus seperti sel konduktif. Sel-sel yang bekerja adalah otot atau miokard atrium dan ventrikel. Sel-sel khusus termasuk Sinoatrial node (SA node), Atrioventricular node (AV node), bundle His, dan serat Purkinje. Sel-sel ini menginisiasi dan mengkonduksi impuls listrik ke seluruh miokardium. Untuk memulai impuls, sel-sel khusus memiliki sifat yang disebut otomatisitas, yang mencerminkan kemampuan untuk memulai listrik impuls spontan. Setiap siklus jantung dimulai dengan impuls, secara spontan dihasilkan oleh SA node, yang selanjutnya menyebar ke seluruh saraf jaringan konduktif dan ke otot (miokard). Apabila terjadi kelainan dalam sistem konduksi disebut dengan aritmia atau disritmia.

Membaca EKG

Mari kita mempelajari cara membaca EKG dengan teknik yang sederhana

Irama

Irama sinus adalah irama dimana setiap gelombang P diikuti oleh kompleks QRS (irama berasal dari nodus SA)

Rate (Denyut Jantung)

Denyut jantung normal : 60-100 x/menit

Takikardi                              : > 100x/menit

Bradikardi                            : < 60x/menit

Axis Jantung

Aksis Sudut I aVF
Aksis Normal -30o sampai +90o + +
Deviasi Aksis ke kiri -30o sampai -90o +
Deviasi Aksis ke kanan +110o sampai +180o +
Deviasi aksis ektrim ke kanan -90o sampai +180o

Hipertrofi (Pembesaran)

Pembesaran Atrium (Lihat Gelombang P di sadapan II dan VI)

Pembesaran atrium kanan (right atrial enlargement/ RAE) ditandai oleh:

  • Amplitudo bagian pertama gelombang P yang meningkat > 2.5mm (P pulmonal)
  • Gelombang P bifasik di sadapan V1 dan dominan defleksi positif
  • Tidak ada perubahan pada durasi gelombang P
  • Kemungkinan deviasi aksis gelombang P ke kanan

Pembesaran atrium kiri (left atrial enlargement/LAE)  ditandai oleh:

  • Selalu terdapat peningkatan durasi gelombang P > 0,11 detik (P mitral)
  • Gelombang P bifasik di sadapan V1 dengan bagian inversi yang lebih dominan
  • Tidak ada deviasi aksis yang bermakna

Pembesaran ventrikel kanan ditandai oleh:

  • Adanya deviasi aksis ke kanan
  • Gelombang R lebih tinggi daripada gelombang S pada sandapan V1, sedangkan gelombang S lebih tinggi dari gelombang R pada sadapan V6
  • Pada V1 rasio R:S > 1
  • Gelombang S menetap di sadapan V5 dan V6 ( S persistent)

Pembesaran ventrikel kiri ditandai oleh:

Kriteria precordial:

  • Amplitudo gelombang R pada sadapan V5 atau V6 ditambah dengan amplitude gelombang S pada sadapan V1 atau V2 > 35 mm (Kriteria Sokolow+Lyon)
  • Amplitudo gelombang R pada sadapan V5> 26 mm
  • Amplitudo gelombang R pada sadapan V6>18mm
  • Depresi segmen ST dan inversi gelombang T asimetris di V5 dan V6

Kriteria sadapan ekstremitas:

  • Amplitudo gelombang R d aVL > 13 mm
  • Amplitudo gelombang R di aVF> 21 mm
  • Amplitudo gelombang R di sadapan I > 14mm

Kriteria Cornel:

Jumlah tinggi gelombang R di aVL dengan dalamnya gelombang S pada V3 > 28mm (laki-laki) dan > 20 mm (perempuan)

Iskemik dan Infark

Lokasi Infark Elevasi segmen ST Perubahan
Resiprokal
Arteri
Koroner
Anteroseptal V1,V2,V3,V4 V7,V8,V9 LAD
Anterior V3 dan V4 V7, V8, V9 LAD
Septum V1 dan V2 V7,V8,V9 LAD
Lateral V5 dan V6 II, III, aVF LCX
Anteroseptal I, aVL, V3, V4, V5,V6 II, III, Avf, v7, v8, v9 LAD, LCX
Anterior-Ekstensif I, aVL, V1-V6 II, III, aVF LAD, LCX

Bundle Branch Block

Kriteria Right Bundle Branch Block

  • Deviasi aksis kanan
  • Kompleks QRS melebar
  • RSR’ pada sadapan V1 dan V2 (telinga kelinci) disertai depresi segmen ST dan inversi gelombang T
  • Perubahan resiprokal pada sadapan V5,V6, I, dan aVL

Kriteria Left Bundle Branch Block

  • Kompleks QRS melebar > 0.12 detik
  • Gelombang R lebar dan bertakik dengan gerakan menarik ke atas yang semakin memanjang pada sadapa V5, V6, I, dan aVL disertai depresi segmen ST dan inversi gelombang T
  • Perubahan resiprokal pada V1 dan V2
  • Dapat ditemukan deviasi aksis ke kiri

Referensi

  1. Becker D. Fundamentals of Electrocardiography Interpretation. Anesth Prog. 2006;  53:53–64.
  2. Malcom S, Thaler. 2007. The Only One EKG Book You’ll Ever Need. Fifth Edition. Lippincott William & Wilkins.

Mitos dan Fakta Seputar Penyakit Jantung

  • Umur masih muda sehingga tidak mungkin terkena penyakit jantung

Di Amerika Serikat penyakit jantung banyak terjadi setelah umur 60 tahun dan semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan akan terjadinya penyakit jantung pada usia muda. Bahkan terdapat beberapa kejadian serangan jantung mendadak pada usia muda.

  • Penyakit jantung hanya terjadi pada orang dengan nyeri dada kiri.

Nyeri dada adalah presentasi yang paling umum dari penyakit jantung infark miokard akut. Manifestasi klinis iskemia biasanya digambarkan sebagai tekanan dada yang berat atau meremas, perasaan terbakar , atau kesulitan bernafas. Ketidaknyamanan atau nyeri sering menjalar ke bahu, leher, atau lengan kiri. Nyeri dada mungkin atipikal dalam beberapa kasus dan tidak selalu tepat di dada kiri. Bahkan bisa saja lokasi nyeri seperti sakit maag yaitu di bagian ulu hati. Hal itu terjadi dalam intensitas selama beberapa menit.

  • Hipertensi hanya pada orang dengan sakit kepala

Hipertensi dan sakit kepala memang berhubungan. Hipertensi membuat sakit kepala karena tekanan darah yang tinggi mempengaruhi sawar darah otak. Namun, tidak semua hipertensi yang menyebabkan orang sakit kepala. Untuk hipertensi ringan dan sedang biasanya tidak menyebabkan sakit kepala. Jadi sebaiknya tetap mengkonsultasikan dan memeriksa tekanan darah anda secara rutin.

  • Kaki baal dan nyeri saat berjalan pada orang lanjut usia adalah hal yang wajar.

Kaki baal dan nyeri saat berjalan bukanlah suatu hal yang wajar namun merupakan gejala dari penyakit tertentu. Bisa jadi hal ini merupakan gejala dari penyakit arteri perifer (PAP). Penyakit arteri perifer adalah sebuah penyakit silent killer. Penyakit ini merupakan penyakit obstruksi pada arteri yang mengakibatkan menurunnya aliran darah arteri yang pada awalnya hanya selama berolahraga dan lama-lama akan dirasakan saat beristirahat Tanda dan gejala khas dari penyakit ini adalah kelelahan pada otot, kram otot, atau nyeri saat berjalan yang akan berkurang dengan beristirahat. Untuk mengetahuinya anda dapat berkonsultasi kepada dokter anda untuk dilakukan pemeriksaan ankle brachial index (ABI). Interpretasi pengukuran ABI yaitu apabila < 0,50 termasuk penyakit arterial yang berat, 0,50-0,79 termasuk penyakit arterial sedang, 0,80-0,89 termasuk penyakit arterial yang ringan, dan pasien dikatakan normal apabila hasil pengukuran ABI 1,0-1,2. 

  • Minum kopi dapat menyebabkan penyakit jantung

Di dalam kopi terdapat kandungan kafein. Kafein mempunyai banyak efek metabolik seperti merangsang sistem saraf pusat, membebaskan asam lemak bebas dari jaringan adipose/ jaringan lemak,dan mempengaruhi ginjal yang dapat membuat seseorang buang air kecil lebih sering. Banyak penelitian telah dilakukan untuk melihat apakah ada hubungan langsung antara kafein, minum kopi dan penyakit jantung koroner. Hasilnya masih diperdebatkan. Namun, bila meminum kopi 1-2 per hari masih dapat ditoleransi oleh tubuh. Individu yang terbiasa dengan kafein dapat mengalami “caffeine withdrawal” 12-24 jam setelah dosis terakhir kafein. Itu dapat ditoleransi dalam 24-48 jam. Gejala yang paling menonjol adalah sakit kepala. Mereka juga bisa merasakan kecemasan, kelelahan, kantuk, dan depresi.

  • VAP/Rokok elektrik aman dan tidak menyebabkan penyakit jantung.

Rokok elektrik atau yang biasa disebut dengan VAP merupakan alat elektronik dengan menggunakan cairan yang biasa disebut dengan e-juice, atau vap-juice. Dalam studi baru, para peneliti menemukan bahwa orang yang menggunakan rokok normal dan e-rokok memiliki beberapa risiko komplikasi jantung:

59% peningkatan risiko nyeri dada atau serangan jantung

40% peningkatan risiko penyakit jantung

71% peningkatan risiko stroke

  • Pasien dengan Diabetes Mellitus bila sudah minum obat teratur tidak akan terkena penyakit jantung.

Hal ini tidak benar. Walaupun sudah meminum obat secara teratur, penderita diabetes mellitus tetap dapat terkena penyakit jantung. Apalagi bagi para penderita diabetes mellitus yang menggunakan obat-obatan seperti rosiglitazone dan pioglitazone. Obat-obatan tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Referensi

  1. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322451.php
  2. Malik et all. Chest Pain as a presenting complaint in patients with acute myocardial infarction (AMI). Pak J Med Sci, 2013,  vol 29, p: 565-568.
  3. European Society of Cardiology. ESC Guidelines on the diagnosis and treatment of peripheral artery diseases. European Heart Journal (2011) 32, p: 2851–2906.
  4. https://www.heart.org/en/healthy-living/healthy-eating/eat-smart/nutrition-basics/caffeine-and-heart-disease
  5. https://www.conehealth.com/services/heart-vascular-care/is-vaping-safe-it-can-cause-higher-risk-of-heart-attack-accordin/

APAKAH ANDA SEORANG PELARI?WASPADAI PENYAKIT HIPERTROFI KARDIOMIOPATI!

Latihan fisik secara teratur dikaitkan dengan peningkatan dimensi jantung yang dapat tercermin pada pemeriksaan elektrokardiogram (EKG). Namun demikian, membedakan mekanisme remodeling yang normal dan tidak normal perlu dipahami sebagai tenaga kesehatan, karena pembesaran ruang jantung yang signifikan dapat menjadi sebuah tanda. Hal ini yang menyebabkan para pelari maupun atlet mempunyai risiko kematian jantung mendadak (SCD/ sudden cardiac death) yang lebih besar. Sekitar 80% kematian pada pelari ataupun pada atlet muda yang berusia < 35 tahun disebabkan oleh adanya kelainan struktural maupun kelainan fungsional kardiovaskular yang menyebabkan terjadinya aritmia yang belanjut dengan kematian jantung mendadak (SCD). Hipertrofi Kardiomiopati (HCM) didefinisikan sebagai peningkatan ketebalan ventrikel atau massa dinding tanpa adanya kondisi seperti hipertensi maupun penyakit katup maupun kelainan lain yang dapat diamati. 

PENYEBAB

Penyebab terjadinya hipertrofi kardiomiopati adalah adanya mutasi gen pengkode di dalam tubuh kita yang mempengaruhi protein sarkomer dari jantung.

APA SAJA GEJALA YANG AKAN DIRASAKAN?

  • Cepat lelah.
  • Pusing.
  • Pingsan
  • Jantung terasa berdebar-debar (palpitasi).
  • Rasa nyeri di dada, biasanya setelah berolahraga.
  • Sesak napas.

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan biasanya tidak diberikan pada pasien-pasien yang tidak menunjukkan gejala. Pada pasien dengan keluhan sesak nafas dan mempunyai gagal jantung dapat diberikan obat golongan beta blocker. Selain itu, dapat diberikan diuretik dan ACE inhibitor. Konsultasikan dengan dr. Dono Antono, Sp.PD-KKV, FINASIM FICA untuk mengetahui pengobatan lebih lanjut.

REFERENSI

  1. Wilson et al. Hypertrophic cardiomyopathy and ultraendurance running – two incompatible entities? Journal of Cardiovascular Magnetic Resonance . 2011; vol 13; p: 1-9
  2. Ramaraj, R. (2008). Hypertrophic Cardiomyopathy. Cardiology in Review, 16(4), 172–180.
  3. https://www.youtube.com/watch?v=_wQTmaRCeDE