APAKAH ANDA SERING MERASA LELAH WALAU SUDAH BERISTIRAHAT?

Apakah anda sering merasa lelah terus menerus?apakah anda tetap lelah walau sudah beristirahat?apakah anda merasa lelah tanpa sebab yang jelas? Mungkin saja anda mengalami sindrom lelah kronik. Sindrom kelelahan kronis  adalah sindrom yang ditandai dengan kelelahan ekstrim yang berlangsung setidaknya selama enam bulan dan tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh kondisi medis yang mendasarinya. Kondisi ini disebut juga dengan myalgic encephalomyelitis (ME).

Berikut adalah gejala yang akan anda rasakan jika mengalami sindrom ini:

  • Penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas yang biasa dilakukan. Hal ini tidak membaik walaupun sudah cukup tidur dan istirahat.
  • Terjadinya post-exertional malaise (PEM). Hal ini meliputi kesulitan berpikir, sakit tenggorokan, sakit kepala, rasa pusing, atau kelelahan yang parah hanya dengan aktivitas yang biasa. Misalnya, setelah berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar harus tidur dahulu di mobil sebelum pulang ke rumah.
  • Masalah tidur dimana penderita sindrom ini tidak akan mengalami pengurangan rasa lelah walaupun sudah tidur. Ada juga penderita yang sulit untuk memulai tidur.

APA SAJA FAKTOR RISIKO SINDROM LELAH KRONIK?

  • Usia 40 hingga 50 tahun.
  • Wanita biasanya mempunyai kemungkinan 2 kali lebih besar daripada pria.
  • Predisposisi genetic
  • Alergi
  • Stress
  • Faktor lingkungan

BAGAIMANA PENGOBATAN UNTUK SINDROM INI?

Tidak ada obat farmakologis untuk penyakit ini, tetapi berbagai obat digunakan untuk membantu meringankan dan mengelola gejalanya, terutama dalam kasus di mana ada penyebab medis tertentu menggunakan perawatan yang sesuai dengan masing-masing individu. Penggunaan NSAID seeperti ibuprofen dan naproxen dapat meringanka nyeri sendi, nyeri kepala dan demam pada penderita sindrom lelah kronik. Terkadang penderita juga menggunakan obat-obat antidepresan untuk memperbaiki kualitas tidur. Kortikosteroid dan terapi hormone tidak dianjurkan penggunaannya untuk terapi sindom lelah kronik.

Referensi

  1. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chronic-fatigue-syndrome/symptoms-causes/syc-20360490
  2. https://www.cdc.gov/me-cfs/symptoms-diagnosis/index.html
  3. Castro-Marrero J, Sáez-Francàs N, Santillo D, Alegre J. Treatment and management of chronic fatigue syndrome/myalgic encephalomyelitis: all roads lead to Rome. Br J Pharmacol. 2017;174(5):345-369. doi:10.1111/bph.13702
  4. https://www.healthline.com/health/chronic-fatigue-syndrome#risk-factors
  5. https://www.youtube.com/watch?v=M23ORg7s3os

SINDROM KARDIOMETABOLIK

Sindrom kardiometabolik adalah konstelasi disfungsi metabolik yang ditandai dengan resistensi insulin dan gangguan toleransi glukosa, dislipidemia aterogenik, hipertensi dan adipositas intra-abdominal. Nama lain sindrom kardiometabolik adalah sindrom resistensi insulin, sindrom X, dan sindrom Reavan, dan sindrom beer belly.

Sindrom kardiometabolik telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama di Amerika Serikatdan banyak negara lain di seluruh dunia karena prevalensinya yang meningkat. Prevalensi sindrom kardiometabolik meningkat secara linier seiring dengan usia dari 7% pada mereka yang berusia 20–29 tahun hingga 45% pada mereka yang berusia 60 tahun ke atas. Dari data National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES)  disebutkan prevalensi semakin meningkat baik pada perempuan dan laki-laki pada semua umur.

BAGAIMANA HAL INI BISA TERJADI?

Berikut 5 hal penjelasan mengenai  patofisiologi sindrom kardiometabolik:

  • Metabolisme asam lemak

Pelepasan asam lemak bebas yang berlebihan dari jaringan adiposa ke dalam plasma dan peningkatan konsentrasi asam lemak bebas dalam plasma tersebut dapat mengganggu kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa otot dan menekan hati produksi glukosa.

  • Jaringan adiposa abdomen

Massa lemak abdomen yang berlebih, terutama lemak viseral (intraperitoneal), berhubungan dengan resistensi insulin. Namun, tidak diketahui dengan pasti apakah lemak viseral menyebabkan insulin resistensi atau hanya dikaitkan dengan resistensi insulin. Lemak visceral mewakili  komponen massa lemak tubuh total. Data dari studi yang menggunakan pelacak isotop untuk menilai metabolisme lemak visceral in vivo pada subyek obesitas ditemukan ± 20% asam lemak bebas dikirim ke hati dan  ±15% asam lemak bebas dikirim ke otot rangka diturunkan dari lipolisis lemak visceral. Oleh karena itu, lemak viseral dapat berkontribusi pada resistensi insulin hepatik.

  • Lemak ektopik

Akumulasi lemak ektopik di hati dan sel otot dikaitkan dengan resistensi insulin pada jaringan tersebut. Peningkatan kandungan lemak intrahepatik dikaitkan dengan resistensi insulin hepatik dan gangguan penekanan glukosa hati yang dimediasi produksi insulin.

  • Protein sekretori jaringan adipose

Jaringan adiposa menghasilkan beberapa sitokin inflamasi (adipokin), dapat memicu resistensi insulin, dan adiponektin yang meningkatkan sensitivitas insulin. Sebagai contoh, tumor necrosis factor-alpha menekan pensinyalan insulin, peningkatan interleukin-6 secara langsung atau dengan merangsang produksi protein c-reaktif hati.

  • Peningkatan tekanan darah

Hubungan antara resistensi insulin dan hipertensi sudah banyak diketahui. Asam lemak dapat menyebabkan vasokonstriksi. Selain itu, resistensi insulin bisa meningkatkan tekanan darah karena insulin merupakan vasodilator, dan hiperinsulinemia meningkatkan penyerapan sodium.

Oleh karena sindrom kardiometabolik ini meningkatkan risiko kematian , mari kita bersama-sama melakukan pencegahannya dengan makan dengan gizi seimbang, istirahat cukup dan olahraga teratur.

Berikut akan disajikan mengenai  video makanan yang baik untuk kesehatan kardiometabolik.

Referensi

  1. Srivastava A. Challenges in The Treatment Of Cardiometabolic Syndrome. Indian Journal of Pharmacology, 44(2): 155-156
  2. Kirk dan Klein. Pathogenesis and Pathophysiology of the Cardiometabolic Syndrome. J Clin Hypertens (Greenwich). 2009 December ; 11(12): 761–765.
  3. Pereira MA, Kottke TE, Jordan C, O’Connor PJ, Pronk NP, Carreón R. Preventing and managing cardiometabolic risk: the logic for intervention. Int J Environ Res Public Health. 2009;6(10):2568-2584. doi:10.3390/ijerph6102568
  4. https://www.youtube.com/watch?v=B2oQAAxGghs

DIABETES MELLITUS DAN COVID19

Dalam Rangka World Diabetes Day pada tanggal 14 November 2020, saya akan membahas mengenai Diabetes Mellitus dan COVID19. Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona, pernafasan akut yang parah sindrom coronavirus 2 (SARS-CoV-2). COVID-19 adalah virus RNA untai tunggal dan terbungkus, virus dinamai menurut proyeksi permukaan seperti mahkota yang terlihat pada mikroskop electron. Menurut Data WHO pada tanggal 14 November 2020 kasus terkonfirmasi positif di seluruh dunia berjumlah 53.164. 803 jiwa dan yang meninggal berjumlah 1.300.576 jiwa.  Saat ini di Indonesia sebanyak 415.402 orang terkonfirmasi positif COVID-19 dan 14044 orang meninggal dunia.

Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. DM dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok yaitu DM tipe 1, DM tipe 2, DM gestasional dan DM tipe lain.

BAGAIMANA HUBUNGAN ANTARA DM DAN COVID-19?

Penderita diabetes melitus mengalami peningkatan predisposisi untuk infeksi virus dan bakteri termasuk virus corona yang mempengaruhi saluran pernapasan. Salah satu mekanisme nya adalah leukosit yang tidak berfungsi dengan baik sehingga terjadi gangguan kekebalan tubuh. Mikroangiopati pada DM juga mempengaruhi compliance paru sehingga terjadi gangguan pada pertukaran gas di paru. Kerusakan ini dapat menyebabkan proliferasi dari beberapa patogen pernapasan termasuk SARSCoV-2. Variabilitas glikemik merupakan faktor prognostik pada penderita diabetes pasien dengan infeksi COVID-19. Hiperglikemia semakin memburuk karena proses badai sitokin, disfungsi endotel, dan beberapa cedera organ.

Oleh sebab itu, Penderita DM sebaiknya selama pandemi ini harus selalu berhati-hati. Jaga jarak, gunakan masker, cuci tangan, meminum obat dan kontrol teratur adalah kunci untuk prevensi COVID-19.

Referensi

  1. Ugwueze et al. COVID-19 and Diabetes Mellitus: The Link and Clinical Implications. Dubai Diabetes Endocrinol Journal. DOI: 10.1159/000511354
  2. https://kawalcovid19.id/
  3. https://covid19.who.int/?gclid=Cj0KCQiAnb79BRDgARIsAOVbhRoR0qeXuu2Q1x0JMgBgq66mQAugmBheiGzQDLGLiBSwZdTgQz0MkXkaApNUEALw_wcB
  4. Soelistijo et al. Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa Di Indonesia. 2019. Jakarta: PB Perkeni.
  5. https://www.youtube.com/watch?v=rxju8JBAoic

OSTEOPOROSIS

Definisi

Osteoporosis adalah penyakit tulang sistemik yang ditandai oleh compromised bone strength sehingga tulang mudah patah. Osteoporosis merupakan penyakit dengan etiologi yang multifaktorial. Umur dan densitas tulang merupakan faktor risiko osteoporosis yang berhubungan erat dengan risiko terjadinya fraktur osteoporotik.

Apa saja keluhan penderita osteoporosis?

Seringkali pasien tidak disertai keluhan sampai timbul fraktur. Apabila sudah terjadi fraktur maka akan memberikan gejala sesuai lokasi fraktur (leher, femur/paha, vertebra torakal dan lumbal/punggung dan bagian di dekat tulang ekor, dan distal radius/ pergelangan tangan) misalnya nyeri pinggang bawah, penurunan tinggi badan, kifosis (kelainan pada tulang belakang, di mana bentuk tulang belakang bagian atas terlalu bengkok atau melengkung ke belakang). 

Pemeriksaan fisik apa saja yang diperlukan?

  • Keadaan umum, tinggi dan berat badan, gaya berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality
  • Evaluasi gigi geligi
  • Tanda-tanda goiter, atau adanya jaringan parut pada leher dapat menandakan riwayat operasi tiroid
  • Protuberansia abdomen yang dapat disebabkan kifosis
  • Kifosis dorsal, spasme otot paravertebral
  • Nyeri tulang atau deformitas yang disebabkan oleh fraktur
  • Kulit yang tipis ( tanda McConkey )

Pemeriksaan penunjang apa saja yang dibutuhkan untuk mendiagnosis osteoporosis?

  • Foto Polos
  • Dual Energy X-Ray Absorptiometry (DXA) untuk mengukur Bone Mineral Density (BMD)
    • Pada wanita postmenopause dan laki-laki ≥50 tahun tanpa adanya fraktur patologis menggunakan T-score:
      • Nilai T-score ≥-1 dikatakan normal
      • Nilai T-score -1 sampai dengan -2,5 dikatakan osteopenia
      • Nilai T-score ≤-2,5 dikatakan osteoporosis
    • Pada wanita premenopause dan laki-laki< 50 tahun, dan anak-anak menggunakan Z-score:
      • Nilai Z-score > -2 dikatakan within expected range for age
      • Nilai Z-score ≤ -2 dikatakan low BMD for chronogical age
  • Petanda biokimia tulang: Pemeriksaan ini ditujukan untuk menilai turnover tulang.

Bagaimana Penatalaksanaannya?

Pada pasien osteoporosis latihan dimulai dengan latihan tanpa beban, kemudian ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai latihan beban yang adekuat. Selain itu, memenuhi kebutuhan kalsium > 1200mg/hari dan vitamin D 800-1000 U/hari, serta mendapat paparan sinar matahari yang cukup. Tatalaksana farmakologi dan pembedahan dapat dikonsultasikan lebih lanjut pada dokter spesialis penyakit dlam dan dokter bedah orthopedi.

Apa Komplikasi Osteoporosis?

Banyak sekali komplikasi osteoporosis, diantaranya adalah nyeri punggung, terjadinya kelainan tulang belakang, dan terjadinya fraktur.

Referensi

  1. Alwi I et al. 2019. Pentalaksanaan Di Bidang Ilmu Penyakit Dalam : Panduan Praktik Klinis. Jakarta: Interna Publishing,p: 836-841
  2. Varacallo MA, Fox EJ. Osteoporosis and its complications. Med Clin North Am. 2014 Jul;98(4):817-31, xii-xiii. doi: 10.1016/j.mcna.2014.03.007. Epub 2014 May 9. PMID: 24994054.
  3. https://www.youtube.com/watch?v=jUQ_tt_zJDo

Resusitasi Jantung Paru (RJP) Pada Saat Pandemi COVID19

Resusitasi Jantung Paru menurut American Heart Association adalah suatu tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa, yang dilakukan saat jantung berhenti berdetak. RJP yang dilakukan segera setelah henti jantung dapat meningkatkan kemungkinan bertahan hidup seseorang. Panduan mengenai RJP sudah pernah kita bahas sebelumnya. Namun, di era pandemi ini ada beberapa hal yang harus kita perhatikan sebagai tenaga kesehatan.

Berikut adalah prinsip umum RJP pada pasien yang dicurigai COVID19 maupun pasien terkonfirmasi COVID19:

  • Kurangi Paparan Terhadap COVID19

Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai, membatasi tenaga kesehatan yang melakukan RJP, dan mengkomunikasikan mengenai status COVID19 pasien pada tenaga kesehatan yang akan bergabung untuk melakukan RJP.

  • Prioritaskan Strategi Oksigenasi dan Ventilasi Dengan Risiko Aerosol Lebih Rendah

HEPA (high-efficiency particulate air) Filter bisa digunakan untuk alat alat ventilasi. Selain itu, minimalkan kegagalan intubasi.

  • Pertimbangkan Kondisi Saat Memulai Maupun Saat Melanjutkan RJP

Walaupun tingkat serangan jantung maupun henti jantung pada pasien COVID19 belum diketahui dengan pasti hingga saat ini, tingkat mortalitas pasien COVID19 dengan kondisi kritis sudah cukup tinggi dan tingkat mortalitas tersebut meningkat dengan bertambahnya usia dan komorbiditas pada pasien. Oleh sebab itu, diperlukan pertimbangan terhadap usia dan komorbiditas pasien serta tingkat keberhasilan RJP karena saat RJP membutuhkan banyak pihak dan dapat meningkatkan risiko penularan COVID19.  

Berikut adalah algoritme BLS pada pasien COVID19

Referensi

  1. https://cpr.heart.org/en/resources/what-is-cpr
  2. https://www.ahajournals.org/doi/pdf/10.1161/CIRCULATIONAHA.120.047463

Happy Hypoxia

Pada Desember 2019, ditemukan penyakit pneumonia yang belum teridentifikasi diWuhan, China. Saat ini kita kenal sebagai penyakit COVID 19. Pandemi COVID19 telah menjadi krisis secara global. Penderita psoitif COVID19 saat ini menurut WHO (World Health Organization) berjumlah 28.040.853 dengan jumlah kematian 906.092. Di Indonesia, jumlah penderita positif COVID19 yaitu 210.940 dengan total kematian 8544 jiwa. Akhir-akhir ini kita mendengar mengenai happy hypoxia. Apa sih maksudnya? Mari kita bahas lebih lanjut.


Happy hypoxia merupakan keadaan dimana seseorang mempunyai kadar oksigen di dalam tubuh yang rendah tetapi tidak menunjukkan gejala sesak nafas. Normalnya kadar oksigen dalam darah yaitu sekitar lebih dari 95%. Ketika kadar oksigen di dalam darah berkurang hingga di bawah angka tersebut, tubuh akan mengalami kekurangan oksigen. Kondisi ini disebut hipoksemia atau hipoksia.

Beberapa hal yang dapat menyebabkan hipoksia adalah:

  1. Penyakit paru
  2. Gangguan pada jantung
  3. Anemia

Mekanisme sederhana mengapa happy hypoxia bisa muncul adalah sebagai berikut:

  • Terjadi shunt dari kanan ke kiri
  • Tidak ada dead space yang berlebihan pada paru
  • Resistensi paru-paru baik

Penanganan happy hypoxia tentu harus dilaiukan oleh dokter yang. Jadi, apabila Anda merasakan gejala dari COVID19 sebaiknya Anda segera memeriksakan diri ke dokter.

Referensi

  1. Dhont et al. The pathophysiology of ‘happy’ hypoxemia in COVID-19. 2020. Journal of Respirator Research; vol 21: 198.
  2. https://covid19.who.int/ (diakses tanggal 12 September 2020)
  3. https://kawalcovid19.id/ (diakses tanggal 12 September 2020)
  4. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7362604/
  5. Tobin et al. Why COVID-19 Silent Hypoxemia Is Baffling to Physicians. 2020. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine Volume 202 Number 3. s DOI: 10.1164/rccm.202006-2157CP
  6. https://emcrit.org/pulmcrit/happy-hypoxemia-physiology/

GOWES SEPEDA DAN JANTUNG ANDA

Saat ini, olahraga bersepeda sangat digandrungi oleh masyarakat. Kita bisa melihat dimana-mana bahwa banyak sekali yang bersepeda apalagi di akhir minggu. Hal tersebut menunjukkan bahwa sudah banyak masyarakat Indonesia yang peduli terhadap kebugaran tubuh. Selain itu, banyak juga pekerja kantoran yang menggunakan sepeda untuk ke kantor untuk menghindari dan mengurangi penggunaan transportasi umum. Namun demikian, kita sering mendengar bahwa tiba tiba ada pasien terkena serangan jantung. Bagaimana mekanisme kejadian tersebut?Apakah gara-gara menggunakan masker? Yuu mari kita bahas bersama mengenai hal ini.

Saat kita berolahraga tubuh akan memproduksi adrenalin. Apabila kita berolahraga terlalu keras dan memaksakan maka tubuh akan mempunyai banyak adrenalin dan jantung kita akan mempunyai laju yang sangat cepat sehingga terjadi aritmia seperti atrial fibrilasi, bahkan bisa saja kita mengalai ventricular takikardi.

Apa saja gejala yang harus kita waspadai ketika berolahraga?

  1. Nyeri dada
  2. Sesak nafas
  3. Perasaan ingin pingsan atau merasa gelap secara tiba-tiba
  4. Jantung berdebar-debar
  5. Merasa sangat lelah

Jika Anda mengalami hal di atas ketika bersepeda, sebaiknya Anda berhenti terlebih dahulu

Apa yang harus dilakukan agar bersepeda tetap aman untuk jantung Anda?

  1. Cek tensi dahulu kalau sudah masuk kategori hipertensi jangan bersepeda
  2. Kemudian cek denyut nadi , apabila denyut nadi di atas 100 jangan bersepeda karena bisa tiba-tiba pingsan karena nadi terlalu cepat.
  3. Lihat kondisi gula darah
  4. Cek kesehatan mata

Jadi lakukan medical check up secara rutin ya sebelum berolahraga,. Selain itu, jangan lupa pemanasan. Dan ketika berolahraga jangan memaksakan diri ya.

Referensi

  1. https://www.pennmedicine.org/updates/blogs/heart-and-vascular-blog/2016/august/6-dos-and-donts-when-you-have-a-heart-rhythm-problem#:~:text=%E2%80%9CWhen%20you%20exercise%2C%20your%20body,worse%20with%20too%20much%20adrenaline.%E2%80%9D
  2. https://www.youtube.com/watch?v=4xMysN9pD3Q&feature=youtu.be by David Property
  3. https://www.bikeradar.com/advice/fitness-and-training/bend-in-the-road-heart-health-warning-signs/

TOCILIZUMAB DALAM PENGOBATAN COVID19

Penyakit COVID19 yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 pertama kali dideteksi di China, dan telah dideklarasi WHO sebagai pandemic global pada Maret 2020. Sampai saat ini di Indonesia sudah 160.165 yang terkonfirmasi positif COVID19, 37.812 dalam perawatan dan 6944 meninggal. (data tanggal 26 Agustus 2020).

Tocilizumab merupakan protein yang terbuat dari sel-sel imun spesifik (antibodi monoklonal), yang menghambat aktivitas protein tertentu (sitokin) berupa interleukin-6. Protein ini berperan dalam proses peradangan dalam tubuh dan penghambatan protein ini dapat mengurangi peradangan dalam tubuh Anda. Obat ini biasanya digunakan dalam penanganan artritis reumatoid, giant cell artritis, dan cytokine release syndrome. Di Indonesia, obat ini tersedia dalam bentuk larutan infus, vial dan alat suntik siap pakai.

Bagaimana tocilizumab untuk pengobatan covid19?

Dalam studi yang dilakukan oleh Kewan et all, Tocilizumab diberikan pada pasien COVID19 dengan hipoksia, infiltrate paru pada rontgen dada, peningkatan biomarker inflamasi  (CRP > 3g/dl atau ferritin > 400ng/ ml),selain itu juga fokus pada gejala klinis pada pasien, dan ada kontraindikasi yang harus diperhatikan seperti suspek atau terkonfirmasi infeksi fungal, trombosit < 100.000/mm3 , hitung neutrofil < 2000/mm3 , dan ALT dan AST meningkat 5 kali lebih dari normal. Dosis yang telah ditentukan dari penelitian-penelitian sebelumnya untuk tocilizumab adalah 4 sampai 8 mg/ kg dengan dosis maksismum 400mg. Pada penelitian kohort ini digunakan dosis 8mg/kb dan pasien menerima 400 mg obat tocilizumab dalam 60 menit infus intravena. Hasilnya adalah proses penyembuhan yang lebih cepat di rumah sakit. Namun demikian, penelitian ini masih perlu dievaluasi kembali.

Referensi

  1. https://reference.medscape.com/drug/actemra-tocilizumab-999419
  2. http://pionas.pom.go.id/obat-baru/actemra-cairan-infus-20-mgml
  3. https://kawalcovid19.id/
  4. Kewan et al. Tocilizumab for treatment of patients with severe COVID-19: A retrospective cohort study. EClinical Medicine 24 (2020)100418.
  5. https://www.youtube.com/watch?v=LLOIhaVblKU

DAMPAK COVID19 PADA PENYAKIT ARTERI PERIFER

Saat ini terkonfirmasi bahwa kurang lebih ada 17 juta orang di dunia yang terkena virus corona (penyakit covid19). Di Indonesia, saat ini orang terinfeksi covid19 sebanyak 135.123 dengan total pasien meninggal 6021 (data tanggal 14 Agustus 2020). Penyakit Arteri Perifer merupakan semua penyakit yang terjadi pada pembuluh darah setelah keluar dsri jantung dan aorta iliaka. Jadi penyakit arteri perifer meliputi ke empat ekstremitas, arteri karotis, arteri renalis, arteri mesenterika dan semua percabangan setelah ke luar dari aortoiliaka. Penyakit arteri perifer(PAP) dapat mengenai arteri besar, sedang maupun kecil, antara lain tromboangitis obliterans, penyakit Buerger’s, fibromuskular displasia, oklusi arteri akut, penyakit Raynaud, arteritis Takayasu, frostbite dan lain lain.

Selama pandemi COVID19, di seluruh dunia diberlakukan aturan yang sangat ketat dalam tatalaksana intervensi untuk mengatasi PAP. Jumlah pasien yang ditatalaksana dengan tindakan intervensi jumlahnya sangat berkurang dan mereka merupakan pasien-pasien yang mempunyai tingkat keparahan yang tinggi. Di China bahkan terdapat 1 pasien yang meninggal saat dilakukan debridement dan belum sempat dilakukan tindakan intervensi.

Selain karena adanya kondisi yang ketat di rumah sakit, pasien juga menjadi lebih enggan untuk kontrol ke rumah sakit karena takut akan penularan COVID19. Pasien terkadang juga kurang paham dan mengabaikan gejala gejala awal dari PAP. Oleh sebab itu, banyak pasien yang diamputasi kakinya karena datang ke rumah sakit dengan kondisi kaki dengan gangren.

Kita sebagai tenaga medis mempunyai tantangan agar hal ini tidak terjadi. Penyuluhan melalui sosial media dan telemedicine dengan anamnesis yang lengkap dan menyeluruh dapat membantu kita dan mendiagnosa pasien pasien PAP dan menghindari amputasi kaki pasien pasien tersebut.

Referensi

  1.  https://covid19.go.id/
  2. Li et all. Impact of COVID-19 on Peripheral Arterial Disease Treatment. Ann Vasc Surg. 2020 Jun 2 doi: 10.1016/j.avsg.2020.05.045 
  3. Sena G dan Galleli G. An Increased Severity  of Peripheral Arterial Disease in the COVID-19 Era. 2020. Journal of Elsevier.

PERAN DEXAMETASON PADA PASIEN COVID19

Infeksi virus SARS COV-2, penyebab penyakit COVID19, muncul di China pada akhir tahun 2019. Penyakit COVID19 dikaitkan dengan kerusakan paru yang luas. Glukokortikoid diketahui dapat memodulasi kerusakan paru yang dimediasi oleh adanya inflamasi dan dengan demikian mengurangi terjadinya gagal nafas dan kematian. Saat ini, pasien positif virus corona di Indonesia sudah mencapai 106.336 jiwa, dengan 5058 pasien meninggal. Oleh sebab itu, kita sebagai tenaga kesehatan terus mencari pengobatan terbaik untuk para pasien ini.

Kortikosteroid merupakan anti-inflamasi yang bekerja dengan mekanisme menghambat enzim fosfolipase A2 sehingga akan mencegah pelepasan asam arakidonat yang memproduksi enzim cyclooxygenase (COX). Enzim COX inilah yang bertanggung jawab atas pembentukan prostaglandin yang merupakan mediator inflamasi dan nyeri. Deksametason adalah obat golongan kortikosteroid yang mempunyai indikasi supresi inflamasi dan gangguan alergi; Cushing’s disease, hiperplasia adrenal kongenital; edema serebral yang berhubungan dengan kehamilan; dan batuk yang disertai sesak napas.

Dilakukan penelitian di United Kingdom mengenai peran dexametason pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID19. Penelitian ini diikuti oleh 11.303 pasien yang dilakukan randomisasi, dengan 9355 pasien yang dapat menerima pengobatan deksametason. Hasil penelitian ini yaitu pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID19, penggunaan deksametason injeksi menurunkan tingkat mortalitas pada pasien yang menggunakan oksigen dan ventilasi mekanik invasif namun tidak berpengaruh pada pasien yang tidak menerima alat bantuan pernafasan.

Referensi

  1. Lim et al. Dexamethasone in Hospitalized Patients with Covid-19 — Preliminary Report. 2020. The New England Journal of Medicine; p: 1-11.
  2. Erlangga et al. Perbandingan Pemberian Deksametason 10 mg dengan 15 mg Intravena sebagai Adjuvan Analgetik terhadap Skala Nyeri Pascabedah pada Pasien yang Dilakukan Radikal Mastektomi Termodifikasi. JAP. 2015;3(3):146-154.
  3. http://pionas.pom.go.id/monografi/deksametason
  4. https://kawalcovid19.id/