BAGAIMANA PERAWATAN LUKA PADA KAKI DIABETIK?

Kaki diabetes merupakan komplikasi klinis diabetes mellitus yang diakibatkan kelainan neuropati sensorik, motorik, maupun otonomik serta kelainan pada pembuluh darah.

Tatalaksana holistik kaki diabetes meliputi 6 aspek kontrol, yaitu:

  1. Kontrol mekanik
  2. Mengistirahatkan kaki
  3. Menghindari tekanan pada daerah kaki yang luka (non weight bearing)
  4. Menggunakan bantal saat berbaring pada tumit kaki/ tonjolan tulang untuk mencegah lecet
  5. Memakai kasur anti dekubitus bila perlu
  6. Mobilisasi
  • Kontrol luka
  • Evakuasi jaringan nekrotik, dan pus yang adekuat perlu dilakukan secepat mungkin, jika perlu dapat dilakukan dengan tindakan operatif.
  • Pembalutan luka dengan dressing basah atau lembab.

Cara ini memiliki potensi untuk mengatasi beberapa faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka. Hal ini membuat keseimbagan pada lingkungan luka agar tidak terlalu kering. Dressing  dapat membantu mengelola luka eksudat secara optimal.

  • Debridemen

Debridemen dengan membuang jaringan yang mati, rusak, dan terinfeksi sehingga meningkatkan potensial kesembuhan pada jaringan yang sehat. Teknik debridemen yang dilakukan tergantung oleh tipe luka dan jaringan. Debridemen bedah ditujukan untuk luka nekrotik dan terinfeksi. Debridemen autolitik dimana jaringan dicairkan. Hal ini bisa dilakukan dengan lingkungan luka yang lembab. Teknik debridemen autolitik ini tidak dianjurkan pada ulkus karena tekanan yang terinfeksi. Teknik lainnya adalah debridemen mekanik yaitu dengan mengangkat jaringan yang tidak sehat menggunakan balutan. Teknik selanjutnya adalah debridemen enzimatik yaitu debridemen dengan menggunakan enzim topical seperti kolagen, fibrinolisin atau papain. Teknik yang terakhir yaitu debridemen dengan menggunakan Maggot atau larva yang dibesarkan di area yang steril. Larva memakan jaringan nekrotik dan mengeluarkan enzim antimikroba, yang membantu dalam proses penyembuhan luka.

  • Nekrotomi
  • Amputasi
  • Kontrol infeksi (mikrobiologi)
  • Terapi antimikroba empiric pada saat awal bila belum ada hasil pemeriksaan kultur mikroorganisme dan resistensi
  • Luka yang superfisial: diberikan antibiotik untuk kuman gram positif. Luka lebih dalam diberikan antibiotik untuk kuman gram negatif ditambah golongan metronidazole bila ada kecurigaan infeksi bakteri anaerob.
  • Pada luka yang dalam, luas, disertai gejala infeksi sistemik yang memerlukan perawatan di rumah sakit: dapat diberikan antibiotik spectrum luas yang dapat mencakup kuman gram positif, gram negatif dan anaerob. Sehingga dapat digunakan 2 atau 3 golongan antibiotik.
  • Penggunaan antibiotik diobservasi seminggu kemudian dan diseusaikan dengan hasil kultur mikroorganisme.
  • Kontrol vaskular
  • Periksa Ankle Brachial Index (ABI), trans cutaneous oxygen transion, toe pressure, bahkan angiografi.
  • Pemeriksaan TcPO2: untuk menentukan daerah dengan oksigenasi yang masih cukup sehingga terapi revaskularisasi diharapkan masih memiliki manfaat
  • Tindakan PTA ( Percutaneous Transluminal Angioplasty )

Percutaneous Transluminal Angioplasty (PTA) merupakan tindakan invasif minimal yang dilakukan pada pasien dengan penyakit arteri perifer, dan merupakan prosedur standar untuk revaskularisasi aortoiliaka, femoropopliteal, dan arteri di bawah lutut

  • Kontrol metabolik
  • Perencanaan nutrisi yang baik selama proses infeksi dan penyembuhan luka.
  • Regulasi glukosa darah yang adekuat
  • Pengendalian komorbiditas bila ada
  • Kontrol edukasi

Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai kondisi luka kaki pasien saat ini, rencana diagnosis, penatalaksanaan/ terapi, penyulit yang mungkin timbul serta bagaimana prognosis selanjutnya.

Referensi

  1. Alwi I et al. 2017. Panduan Praktik Klinis Cetakan Ke Tiga. Jakarta: Interna Publishing.
  2. Kavitha et al. Choice of wound care in diabetic foot ulcer: A practical approach. World J Diabetes 2014 August 15; 5(4): 546-556.
  3. Chadwick et al. 2013. Best Practice Guidelines: Wound Management in Diabetic Foot Ulcers. Available from: www.woundsinternational.com

WASPADAI PEMBESARAN JANTUNG PADA TUBUH ANDA

Pembesaran jantung atau biasa disebut dengan kardiomegali adalah ketika diameter transversal siluet jantung lebih besar dari atau sama dengan 50% dari diameter transversal dada (peningkatan rasio kardiotoraks) pada proyeksi posterior-anterior dari radiografi dada. Hal ini berbeda dengan pembesaran garis kardiomediastinal. Kardiomegali biasanya merupakan manifestasi dari proses patologis lain dan menunjukkan beberapa bentuk kardiomiopati primer atau didapat. Kardiomegali dapat melibatkan pembesaran ventrikel kanan, ventrikel kiri, maupun kedua atrium.

Apa Yang Menyebabkan Kardiomegali?

Ada beberapa etiologi yang dikaitkan dengan perkembangan kardiomegali yang mengakibatkan kardiomiopati dilatasi atau hipertrofik seperti yang tercantum di bawah ini:

  • Penyakit arteri koroner termasuk infark miokard dan iskemia (penyebab paling umum)
  • Penyakit jantung hipertensi
  • Penyakit jantung katup termasuk stenosis atau regurgitasi katup
  • Gangguan jantung kongenital termasuk defek septum atrium, defek septum ventrikel, paten ductus arteriosus, tetralogi Fallot, anomali Ebstein, dan koarktasio aorta
  • Penyakit paru-paru seperti hipertensi paru primer, COPD, dan emboli paru
  • Autoimun kardiomiopati
  • Hipotiroid dan hipertiroid
  • Aritmia seperti atrial fibrilasi
  • Familial kardiomiopati
  • Idiopatik kardiomiopati

Apa Saja Gejala Yang Anda Rasakan?

Anda dapat tidak merasakan gejala apapun saat mengalami kardiomegali atau pembesaran jantung. Namun, jika pembesaran ini mempengaruhi kemampuan memompa jantung maka gejala yang dapat Anda rasakan adalah sebagai berikut:

  • Sesak Nafas
  • Kelelahan
  • Pusing
  • Retensi Cairan (Edema)
  • Irama Jantung Abnormal (aritmia)

Bagaimana Penanganan atau Pengobatan Kardiomegali?

Penatalaksanaan kardiomegali tergantung pada penyakit yang mendasarinya. Anda dapat berkonsultasi lebih lanjut dengan dr. Dono Antono, Sp.PD-KKV, FINASIM, FICA

Referensi

  1. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK542296/?report=reader
  2. https://www.bhf.org.uk › files › publications › medical-information-sheets

EFUSI PERIKARDIUM

DEFINISI

Efusi perikardium adalah penumpukan cairan dalam ruang di antara perikardium, yaitu 2 lapis selaput tipis yang menyelubungi jantung. Efusi perikardial merupakan temuan umum dalam praktik klinik yang merupakan temuan insidental atau manifestasi klinis dari penyakit sistemik atau jantung. Spektrum efusi perikardial berkisar dari asimptomatik ringan efusi sampai pada tamponade jantung.

GEJALA

Tidak semua orang mengalami gejala bila terkena efusi perikardium. Adapun beberapa gejala yang dapat dirasakan oleh beberapa pasien, yakni:

  • Kesulitan bernafas (dyspnea)
  • Orthopnea : sesak nafas saat berbaring
  • Nyeri dada yang biasanya dirasakan di dada bagian kiri
  • Rasa penuh di dada

PENYEBAB

Efusi perikardium dapat terjadi sebagai akibat dari inflamasi dari perikardium (perikarditis) dalam respon terhadap suatu penyakit. Selain itu, efusi perikardium dapat pula disebabkan oleh:

  • Inflamasi perikardium yang sebagai akibat dari operasi jantung
  • Gangguan  autoimun seperti artritis reumatoid, dan lupus
  • Metastasis dari kanker
  • Kemoterapi pasien kanker seperti doxorubisin dan siklofosfamid
  • Uremia
  • Infeksi virus, bakteri, maupun parasit
  • Hipotiroidisme
  • Obat-obatan seperti hidralazin pada pengobatan hipertensi, isoniazid pada pengobatan tuberkulosis, dan fenitoin pada pengobatan epilepsi.

TERAPI

Pada pasien yang asimptomatik, efusi perikardium tidak memerlukan pengobatan maupun terapi intervensi. Pasien kategori ini hanya membutuhkan pemeriksaan ekokardiogram berulang. Apabila pasien setelah di ekokardiografi menunjukkan efusi perikardium yang cukup parah maka dapat dilakukan perikardiosentesis. 

REFERENSI

  1. M. Imazio dan Y. Adler. Management of pericardial effusion. European Heart Journal (2013) 34, 1186–1197.
  2. Jordi S et al. Management of pericardial effusion. Journal of Heart; 2001; 86; p: 235-240
  3. Jaume et al. Diagnosis and management of pericardial effusion. World J Cardiol; 2011; 3(5); p: 135-143.
  4. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pericardial-effusion/symptoms-causes/syc-20353720

DISFUNGSI EREKSI DAN ATRIAL FIBRILASI

Apa itu disfungsi ereksi?

Menurut The National Institutes of Health (NIH) Consensus Development Conference on Impotence disfungsi ereksi adalah ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk memuaskan kinerja seksual.

Apa penyebab disfungsi ereksi?

Disfungsi ereksi mempunyai penyebab yang multifaktorial,seperti:

  1. Penyebab vaskular yaitu aterosklerosis, infark miokard, penyakit arteri perifer, trauma pada pembukuh darah, dll.
  2. Penyakit sistemik seperti diabetes mellitus, hipertensi, gagal ginjal, scleroderma,dll.
  3. Penyebab neurologis yaitu epilepsy, stroke, guilian bare sindrom, penyakit Alzheimer dan sclerosis multipel.
  4. Penyebab respiratorik seperti ppok (penyakit paru obstruktif kronik), dan  sleep apnea.
  5. Endokrin seperti hipertiroid, hipotiroid, hipogonadisme, dan diabetes.
  6. Kondisi penis yaitu penyakit peyronie, epispadi, dan priapism.
  7. Kondisi psikiatrik seperti depresi, ansietas, dan ptsd (post traumatic stress disorder)
  8. Status nutrisi yaitu malnutrisi dan defisiensi zink
  9. Penyakit hematologi yaitu anemia sel sabit dan leukemia
  10. Prosedur operasi yaitu operasi tulang belakang, aortofemoral bypass, reseksi transurethral dari prostat, radikal prostatektomi, dll.
  11. Obat-obatan seperti obat antidepresan, antipsikotik, antihipertensi, metadon, dan obat penurun kolesterol.

Apa itu atrial fibrilasi?

Atrial fibrilasi adalah detak jantung yang tidak teratur dan sering cepat yang dapat meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, dan komplikasi terkait jantung lainnya. Atrial fibrilasi merupakan aritmia jantung yang paling umum dan efeknya terjadi hampir 1% dari populasi dunia. Prevalensinya meningkat seiring denga bertambahnya usia; relatif jarang pada orang yang berusia < 40 tahun, tetapi terjadi pada 5% pada orang yang berusia > 80tahun.

Bagaimana gejala yang dialami orang dengan atrial fibrilasi?

  1. Palpitasi atau perasaan berdebar pada jantung, rasa terjepit di dada, jantung berdetak dengan kencang dan tidak teratur.
  2. Badan terasa lemah
  3. Pusing
  4. Kemampuan berolahraga menurun
  5. Sesak nafas
  6. Nyei dada

Apa hubungan atrial fibrilasi dengan disfungsi ereksi?

Menurut studi diketahui bahwa pada orang yang menderita AF lebih berisiko untuk terkena disfungsi ereksi. Ada beberapa mekanisme yang dapat menyebabkan hal tersebut yang pertama adalah peningkatan risiko tromboemboli pada pasien AF dapat mempengaruhi vaskular/pembuluh darah di seluruh tubuh, sehingga pada populasi pasien AF prevalensi disfungsi ereksi lebih tinggi. Yang kedua, embolisasi mikrotrombi dari atrium kiri ke pembuluh darah arteri di penis.  Yang ketiga yaitu peningkatan kadar protrombotik dalam plasma, faktor von willebrand, dan Eselectin yang dapat terlarut didapatkan pada semua pasien dengan AF. Disfungsi endotel juga didapatkan pada pasien dengan AF sehingga pasien-pasien AF berisiko lebih tinggi untuk mengalami disfungsi ereksi. Inflamasi berperan penting dalam disfungsi endotel pada pasien AF. Aktivasi sel inflamasi dan mediatornya membuat terjadinya inflamasi pada pembuluh darah. Gangguan aliran darah yang dimediasi asetilkolin dan penurunan tingkat plasma nitrat menyebabkan gangguan aliran darah sistemik dan disfungsi ereksi.

Oleh sebab itu jika anda mengalami atrial fibrilasi dan takut berlanjut kea rah disfungsi ereksi segeralah melakukan pemeriksaan dan konsultasi lebih lanjut kepada dr. Dono Antono, Sp.PD-KKV, FINASIM, FICA.

Referensi

  1. https://emedicine.medscape.com/article/444220-overview#a5
  2. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/atrial-fibrillation/symptoms-causes/syc-20350624
  3. Waktare et al. Atrial FIbrilation. Journal of Circulation. 2002;106:14–16
  4. Chokesuwattanaskul et al. Erectile dysfunction and atrial fibrillation: A systematic review and meta-analysis. International Journal of Urology (2018) 25, 752—757.
  5. https://www.youtube.com/watch?v=i_KGYTHdsvk

SKLERODERMA

DEFINISI

Skleroderma (sclerosis sistemik) adalah penyakit jaringan ikat yang tidak diketahui penyebabnya yang ditandai oleh fibrosis kulit dan organ visceral serta kelainan mikrovaskuler.

DIAGNOSIS

Pada tahun 2013 , American College of Rheumatology / European League Against Rheumatism (ACR/EULAR) menetapkan kriteria untuk klasifikasi scleroderma yang akan disebutkan pad atabel di bawah ini. Berdasarkan kriteria ini, diagnosis dapat ditegakkan apabila skor total pasien ≥ 9.

DIAGNOSIS BANDING

  • Nephrogenic Sistemik Fibrosis
  • Eosinophilic Fasciitis
  • Sindrom Eosinophilia-Myalgia
  • Reflex Sympathetic Dystrophy
  • Diabetic cheiroarthropathy
  • Porphyria cutanea tarda
  • Morphea
  • Linear scleroderma
  • Scleromyxedema

TATALAKSANA

Penatalaksanaan untuk penyakit ini tidak hanya pengobatan tetapi juga penyuluhan dan dukungan sosial. Pengobatan dapat dilakukan untuk menangani fenomena Raynaud, kelainan kulit, kelainan musculoskeletal, kelainan gastrointestinal, kelainan paru, dan kelainan ginjal. Apabila terdapat gangguan pada pembuluh darah pasien dengan scleroderma maka dapat dilakukan angiografi yang dilanjutkan dengan angioplasty, terutama dilihat dari faktor risiko pasien tersebut, seperti pasien yang merokok. Untuk konsultasi lebih lanju anda dapat menghubungi dr. Dono Antono, Sp.PD-KKV, FINASIM, FICA.

KOMPLIKASI

Ulkus dan nodul pada kulit, kesulitan untuk membuka mulut, perdarahan saluran cerna, hipertensi pulmonal, obstruksi saluran cerna.

Referensi

  1. Alwi I et al. Penatalaksanaan di Bidang Ilmu Penyakit Dalam: Panduan Praktik Klinis. 2015.  Jakarta: Interna Publishing;p: 854-859
  2. https://emedicine.medscape.com/article/331864-differential
  3. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11777765
  4. https://www.sruk.co.uk/scleroderma/scleroderma-getting-diagnosed/systemic-sclerosis-diagnosis/systemic-sclerosis-complications/
  5. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12418443

Frostbite

Apa itu frostbite?

Frostbite adalah cedera termal dingin dan membeku yang terjadi ketika jaringan terkena suhu di bawah titik beku (biasanya −0.55 ° C, tetapi dapat terjadi setinggi 2 ° C) untuk periode waktu yang berkelanjutan. Di Indonesia memang hal ini kemungkinan terjadinya sangat kecil, namun demikian berikut beberapa informasi yang bisa Anda dapatkan jika bepergian ke negara lain saat musim dingin.

Bagaimana derajat frostbite?

Frostbite terbagi dalam 4 derajat yakni sebagai berikut:

  1. Superfisial, area putih yang dikelilingi area eritema atau kemerahan
  2. Bula yang mengandung cairan bening
  3. Bula Hemoragik
  4. Nekrosis jaringan penuh

Apa saja tips untuk pencegahan frostbite?

Frostbite dapat dicegah. Berikut adalah tips untuk membantu Anda tetap aman dan hangat

  1. Batasi waktu Anda di luar ruangan dalam cuaca dingin.
  2. Kenakan beberapa lapis pakaian longgar dan hangat
  3. Kenakan topi atau ikat kepala yang sepenuhnya menutupi telinga Anda
  4. Kenakan kaus kaki jika Anda bepergian keluar rumah
  5. Perhatikan tanda-tanda awal frostbite seperti kemerahan atau sangat pucat, sensasi tertusuk dan kesemutan.
  6. Jangan minum alkohol jika Anda berencana untuk berada di luar ruangan dalam cuaca dingin.
  7. Makan makanan yang seimbang dan tetap terhidrasi

Bagaimana penatalaksanaan frostbite?

Penatalaksanaan frostbite terdiri dari 3 fase yaitu saat awal membeku, saat di rumah sakit, dan sesudahnya. Tahap awal yaitu dengan pengurangan paparan terhadap suhu yang dingin, mengganti pakaian dengan pakaian yang kering, menaruh ekstremitas yang terkena penyakit ini di ketiak selama 10 menit, pemerian aspirin 75mg maupun ibuprofen 800mg. Setelah tahap awal dilakukan Anda dapat ke rumah sakit terdekat atau dapat berkonsultasi dengan dr. Dono Antono, Sp.PD-KKV, FINASIM, FICA

Referensi

  1. Handford C et al. Frostbite: a practical approach to hospital management. Journal of Extreme Physiology & Medicine. 2014; volume 3; p: 1-10.
  2. Flat EA. Frostbite. Baylor University Medical Center Proceedings. 2010;23(3):261–262
  3. Lorentzen AK, Davis C, Penninga L. Interventions for frostbite injuries (Protocol). Cochrane Database of Systematic Reviews 2018, Issue 3. DOI: 10.1002/14651858
  4. http://herbalthera.com/frostbite-freezing-injury-the-reasons-and-symptoms-of-frostbite/
  5. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/frostbite/symptoms-causes/syc-20372656

TERAPI ANTIPLATELET PADA PASIEN JANTUNG

Penyebab utama morbiditas dan mortalitas di Barat adalah penyakit kardiovaskular. Trombotik dan tromboemboli oklutik pembuluh darah aterosklerotik merupakan penyebab utama kejadian iskemik. Dari beberapa studi diketahui bahwa thrombus yang menyumbat pembuh darah arteri koroner banyak mengandung platelet, oleh sebab itu, obat antiplatelet dikembangkan sebagai terapi potensial dalam pencegahan dan pengelolaan thrombosis arteri.

Berikut mari kita bahas mengenai beberapa obat golongan antiplatelet:

a. Aspirin

Aspirin merupakan obat antiplatelet yang paling banyak dipelajari. Dari 100 studi randomized control trials pada pasien risiko tinggi, dapat diketahui bahwa aspirin mengurangi kematian akibat penyakit vaskular sebesar 15%. Mekanisme aksi dari aspirin adalah kemampuannya untuk menghambat secara permanen aktivitas COX prostaglandin H-synthase-1 dan prostaglandin H synthase-2 (juga disebut sebagai COX-1 dan COX-2). Aspirin diabsorbsi di bagian perut dan usus bagian atas. Plasma level memuncak 30-40 menit setelah konsumsi aspirin, dan penghambatan fungsi trombosit terbukti dalam satu jam. Namun sebaliknya, pada aspirin tablet salut enterik dibutuhkan 3-4 jam untuk mencapai puncak plasma level. Berikut adalah tabel dosis rendah aspirin untuk beberapa penyakit:

Penyakit Dosis rendah aspirin dalam dosis sehari-hari
Transient Ischemic Attack atau Stroke Iskemik 50 mg
Hipertensi 75 mg
Angina stabil 75 mg
Angina tidak stabil 75 mg
Stenosis arteri karotis yang parah 75 mg
Polisitemia vera 100 mg
Infark Miokard Akut 160 mg
Stroke Iskemik Akut 160 mg

b. Thienopyridine

  • Ticlopidine

Ticlopidine dapat diabsorbsi tubuh dengan cepat sebanyak 90%. Konsentrasi puncak plasma didapatkan pada 1 hingga 3 jam setelah dosis tunggal oral atau sekitar 250 mg. Dosis regimen standar untuk ticlopidine adalah 250mg.

  • Clopidogrel

Clopidogrel merupakan obat dengan bioavailibilitas >50%. Obat ini dimetabolisme di hati dengan bantuan enzim hepatic CYP450. Obat ini diekskresi melalui urin dan feses. Efek samping yang dapat ditimbulkan oleh obat ini yaitu sakit kepala, mual, muntah, nyeri perut, diare, dan keluar darah dari hidung.

  • Prasugrel

Prasugrel cepat diserap setelah konsumsi oral dan cepat dikonversi untuk metabolit aktifnya, yang mencapai konsentrasi puncak dalam 30 menit setelah pemberian obat. Absorbsi obat ini tidak dipengaruhi oleh makanan.

  • Ticagrelor

Obat ini biasanya diberikan kombinasi bersama asetosal 75-100 mg untuk mencegah trombosis (kematian kardiovaskular, infark miokard dan stroke) pada pasien dengan sindrom koroner akut (ACS) [angina tidak stabil, infark miokard tanpa elevasi ST (NSTEMI) atau Infark miokard dengan elevasi ST (STEMI)] termasuk pasien dengan intervensi koroner perkutan (PCI) atau bedah bypass jantung (CABG). Kontraindikasi pemberian ticagrelor yaitu pasien dengan riwayat perdarahan intrakranial (ICH), perdarahan aktif seperti ulkus, hipersensitivitas. Efek samping pemberian obat ini adalah dispnea, perdarahan, sakit kepala, batuk, lemas, pusing, fibrilasi atrium, hipertensi, nyeri dada nonkardial, diare, nyeri punggung, hipotensi, fatigue, nyeri dada, peningkatan serum kreatinin, konstipasi, parastesia, hiperurisemia, vertigo.

Demikianlah beberapa obat-obatan antiplatelet pada artikel ini, apabila ada pertanyaan lebih lanjut silahkan untuk berkonsultasi dengan dr. Dono Antono, Sp.PD-KKV, FINASIM, FICA

Referensi

  1. Behan M, Storey RF. Antiplatelet therapy in cardiovascular disease. 2004. Postgrad Med Journal; 80; 155-164.
  2. Eikelboom J et al. Antithrombotic Therapy and Prevention of Thrombosis, 9th ed: American College of Chest Physicians Evidence-Based Clinical Practice Guidelines. Journal of CHEST; 141; 2; p: 89-119.
  3. http://pionas.pom.go.id/monografi/
  4. https://reference.medscape.com/drug/plavix-clopidogrel-342141#90
  5. https://www.youtube.com/watch?v=d7RbjcRMDsk
  6. https://medlineplus.gov/druginfo/meds/a601040.html#side-effects

PPCM (PERIPARTUM CARDIOMYOPATHY)

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) merupakan bentuk gagal jantung yang dapat terjadi selama trimester terakhir kehamilan atau hingga lima bulan setelah melahirkan. Kardiomiopati secara harfiah berarti penyakit pada otot jantung.

PENYEBAB PPCM

  • Miokarditis viral

Miokarditis viral diduga sebagai penyebab utama dalam mekanisme terjadinya PPCM. Hal ini didukung dengan biopsi endomiokardial dari wanita dengan PPCM. Biopsi spesimen menunjukkan infiltrasi limfositik padat dengan sejumlah variabel edema miosit, nekrosis, dan fibrosis.

  • Respon Imun Abnormal

Selama kehamilan sel-sel janin dilepaskan ke aliran darah ibu dan tidak ditolak oleh ibu karena terjadi imunosupresi alami yang terjadi selama kehamilan. Namun, setelah melahirkan, terjadi peningkatan imunitas pada ibu, dan jika sel janin tertinggal di jaringan jantung ketika janin dilahirkan, respon autoimun patologis dapat terjadi.

  • Respon Hemodinamik Abnormal

Selama kehamilan, volume darah dan cardiac output meningkat. Selain itu, afterload berkurang

karena relaksasi otot polos pembuluh darah. Perubahan ini menyebabkan hipertrofi yang singkat dan reversibel dari ventrikel kiri untuk memenuhi kebutuhan ibu dan janin. Disfungsi ventrikel ini terjadi selama trimester ketiga dan awal periode postpartum.

  • Apoptosis dan inflamasi

Peningkatan konsentrasi sitokin inflamasi, khususnya TNF α, protein c-reaktif, dan marker plasma untuk apoptosis ditemukan pada pasien dengan PPCM.

  • Produksi Prolaktin

Menurut penelitian penyebab PPCM yang baru-baru ini diketahui adalah peningkatan yang pesat dari produksi prolactin. Tingkat prolaktin terkait dengan peningkatan volume darah, penurunan darah tekanan, penurunan responsif angiotensin, dan pengurangan kadar air, natrium, dan kalium.

  • Malnutrisi

Gangguan nutrisi, seperti kekurangan selenium dan micronutrient lainnya memainkan peran dalam patogenesis PPCM. Kekurangan selenium meningkatkan kerentanan jantung dalam terkena infeksi virus, kerentanan hipertensi dan hipokalsemia.

  • Prolong tokolisis

Prolong tokolisis mengacu pada penggunaan obat tokolitik (obat-obatan β simpatomimetik) lebih dari 4 minggu. Terdapat hubungan yang unik dari terapi tokolitik dan gagal jantung pada pasien yang hamil. Obat-obatan tokolitik digunakan untuk terapi dari berbagai kondisi lain tanpa

terjadinya tanda dan gejala gagal jantung seperti yang dialami oleh wanita hamil. Tanda dan gejala gagal jantung dapat menjadi hal yang normal bagi wanita hamil karena perubahan fisiologis, termasuk peningkatan sirkulasi volume darah. Sebuah studi menyatakan penggunaan terapi tokolitik dapat menyebabkan terjadinya edema paru yang kemudian berlanjut menjadi PPCM.

TANDA DAN GEJALA                                    

  • Mudah lelah
  • Detak jantung berdebar-debar
  • Nokturia (meningkatnya frekuensi buang air kecil saat malam hari)
  • Sesak napas saat aktivitas
  • Sesak napas saat berbaring dengan alas yang datar tanpa bantal
  • Pembengkakan tungkai
  • Pembesaran pembuluh vena leher
  • Tekanan darah rendah

TERAPI

Hanya terdapat data yang terbatas tentang pengobatan untuk PPCM. Terpai difokuskan untuk pengobatan gagal jantung sistolik, pengontrolan volume darah, mencegah tromboemboli dan menghindari komplikasi aritmia. Agen diuretik, termasuk diuretik loop, dan nitrat dalah agen pilihan untuk mengontrol volume darah pada jantung meskipun penggunaannya harus hati-hati karena berefek pada rahim pasien. Apabila anda terkena penyakit ini, silahkan berobat lebih lanjut ke dr. Dono Antono, Sp.PD-KKV, FINASIM,FICA

REFERENSI

  1. https://www.heart.org/en/health-topics/cardiomyopathy/what-is-cardiomyopathy-in-adults/peripartum-cardiomyopathy-ppcm
  2. Coyle et all. Peripartum Cardiomyopathy: Review and Practice Guidelines. American Journal Of Critical Care, March 2012, Volume 21, No. 2, p: 89-98.
  3. Arany Z, et all. Peripartum Cardiomyopathy. 2016. Journal of Circulation,p: 13980-1406
  4. www.youtube.com/watch?v=eXlJg-29FxU

EMBOLI PULMO

DEFINISI

Emboli paru adalah penyumbatan di pembuluh darah pada paru-paru.

GEJALA KLINIS

  • Dyspnea / sesak napas

Gejala ini biasanya muncul tiba-tiba dan selalu memburuk dengan aktivitas

  • Nyeri dada

Anda mungkin merasa seperti mengalami serangan jantung. Rasa sakit bisa menjadi lebih buruk ketika Anda bernapas dalam-dalam (radang selaput dada), batuk, makan, membungkuk atau membungkuk. Rasa sakit akan menjadi lebih buruk dengan aktivitas tetapi tidak akan hilang ketika Anda beristirahat.

  • Sinkop/pingsan

Anda mungkin pada awalnya akan merasa seperti mau pingsan dan berkunang-kunang, tetapi apabila tidak segera ditangani anda dapat langsung pingsan/sinkop.

  • Hemoptisis (batuk darah)

Batuk anda berdahak dan terdapat bercak darah pada dahak tersebut.

Tanda dan gejala lainnya bila anda terkena penyakit ini adalah nyeri pada kaki atau bengkak pada kaki, terutama pada betis, kulit kusam atau berubah warna menjadi kebiruan (sianosis), demam, keringat berlebihan, jantung berdebar-debar, pusing.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Berikut adalah beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat anda lakukan di rumah sakit:

  • CTPA (Computed Tomography Pulmonary Angiography)
  • Planar V/Q scan
  • V/Q SPECT (Ventilation/perfusion Single-Photon Emission Computed Tomography)
  • Angiografi Pulmo

PENYEBAB

Embolisme paru terjadi ketika gumpalan darah  masuk ke dalam arteri di paru-paru Anda. Gumpalan darah ini paling sering berasal dari pembuluh darah bagian dalam kaki Anda. Kondisi ini dikenal sebagai deep vein thrombosis (DVT).

Kadang-kadang, penyumbatan di pembuluh darah disebabkan oleh zat selain gumpalan darah, seperti:

  • Lemak dari sumsum tulang panjang yang patah
  • Kolagen atau jaringan lain
  • Bagian dari tumor
  • Gelembung udara

Terapi

Terapi emboli pulmo adalah dengan obat antikoagulan. Anda dapat berkonsultasi lebih lanjut  dengan dr. Dono Antono, Sp.PD-KKV, FINASIM, FICA

Referensi

  1. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pulmonary-embolism/symptoms-causes/syc-20354647
  2. Konstaninindes SV et all. 2019 ESC Guidelines for the diagnosis and management of acute pulmonary embolism developed in collaboration with the European Respiratory Society (ERS). European Heart Journal (2019) 00, p: 1-61.
  3. https://www.nhs.uk/conditions/pulmonary-embolism/

PERAN OBAT STATIN DALAM PENGOBATAN PENYAKIT JANTUNG

Statin adalah golongan obat yang menurunkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) yang tersumbat dalam aliran darah. Berikut adalah rekomendasi penurunan kolesterol LDL:

  1. Pencegahan sekunder pada pasien yang sangat berisiko tinggi terkena penyakit jantung, penurunan kolesterol LDL > 50% dari awal dan direkomendasikan dapat mencapai  < 55mg/dl
  2. Pencegahan primer pada individu yang berisiko sangat tinggi terkena penyakit jantung tetapi tidak mempunyai FH (Familial Hypercholesterolemia),pengurangan kolesterol LDL ≥ 50% dari baseline dan direkomendasikan mencapai <55mg/dl
  3. Pasien dengan risiko tinggi, pengurangan kolesterol LDL > 50% dari awal, dan target kolesterol LDL menjadi < 70mg/dl
  4. Untuk individu dengan risiko sedang, target kolesterol LDL < 100mg/dl
  5. Untuk individu dengan risiko rendah, target kolesterol LDL < 116mg/dl

JENIS-JENIS STATIN DAN DOSISNYA

Statin Dosis
  Intensitas Rendah Intensitas Sedang Intensitas Tinggi
Atorvastatin 10-20mg 40-80mg
Fluvastatin 20-40mg 80mg
Lovastatin 20mg 40mg
Pravastatin 10-20mg 40-80mg
Simvastatin 10mg 20-40mg
Rosuvastatin 5-10mg 20-40mg
Pitavastatin 1mg 2-4mg

PERAN STATIN DALAM PENYAKIT JANTUNG

Obat golongan statin menghambat 3-hydroxy-methylglutaryl coenzyme A (HMG-CoA) reductase, yang bertanggung jawab terhadap penurunan kolesterol LDL. Dalam banyak penelitian, obat golongan statin menunjukkan efikasi pada pasien yang mempunyai hasil lab kolesterol tinggi tanpa penyakit jantung maupun pasien dnegan penyakit jantung. Beberapa penelitian juga menunjukkan dengan meminum obat statin dengan rutin dapat menurunkan insidensi serangan jantung dan kematian akibat penyakit jantung.

Terapi intensive dengan obat statin dapat membuat perbedaan yang signifikan pada kadar kolesterol dibandingkan dengan dosis yang biasa. Suatu penelitian menyebutkan bahwa 80mg atorvastatin dalam 24-96 jam setelah rawat inap pada penderita penyakit jantung dapat menurunkan resiko kematian, infark miokard berulang dan henti jantung.

Saat ini, terapi dengan obat golongan statin tidak hanya untuk pengobatan namun juga digunakan sebagai preventif untuk penyakit kardiovaskular. Keuntungan penggunaan obat golongan statin ini adalah selain dapat menurunkan kolesterol LDL juga dapat menaikkan fungsi endothelial, mengurangi inflamasi pembuluh darah, mengurangi adhesi platelet, dan thrombosis.

Referensi

  1. https://www.healthline.com/health/high-cholesterol/why-statin-drugs-may-be-bad-for-you#who-should-take-statins
  2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK396417/table/ch1.t1/
  3. Lim YS. Role of Statins in Coronary Artery Disease. Review Article of Korean University; p: 1-6.
  4. Mach et all. ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias: lipid modification to reduce cardiovascular risk. European Heart Journal (2019) 00,p: 1-78
  5. https://www.youtube.com/watch?v=HcMDokM_jtQ